Seri Perumpamaan Yesus (6): Pelita (Luk. 8:16-18)

Perumpamaan tentang pelita ini merupakan perumpamaan yang sifatnya tidak mengenal kompromi. Sebagaimana terang tidak pernah kompromi dengan kegelapan demikianlah perumpamaan ini dimaksudkan. Kegelapan yang paling gelap apabila disatukan di suatu tempat tetap akan kalah oleh konsistensi setitik terang. Itulah mengapa setelah perumpamaan ini disampaikan, Yesus Kristus seolah-olah lari topik dengan mengatakan: “karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, daripadanya akan diambil, juga apa yang ia anggap ada padanya.” Apakah yang dianggap manusia ada padanya? Kebenaran individual! Lanjutkan membaca “Seri Perumpamaan Yesus (6): Pelita (Luk. 8:16-18)”

Seri Perumpamaan Yesus (5): Seorang pelepas uang dan orang-orang yang berhutang (Luk. 7:41-47)

“Ada dua orang yang berhutang kepada seorang pelepas uang. Yang seorang berhutang lima ratus dinar, yang lain lima puluh. Karena mereka tidak sanggup membayar, maka ia menghapuskan hutang kedua orang itu. Siapakah di antara mereka yang akan terlebih mengasihi dia?”

 

Mengapa perumpamaan ini disampaikan?

Suatu ketika, Yesus diundang makan di rumah seorang Farisi yang tampaknya setuju atau kagum dengan pengajaranNya. Yesus pun memenuhi undangan tersebut, dan kabar itu juga diketahui oleh orang yang berada di daerah itu. Sebelum Yesus masuk ke rumah orang Farisi itu, tiba-tiba seorang wanita yang terkenal berdosa di daerah itu (wanita ini juga kagum dan percaya bahwa Yesus adalah Mesias yang dinubuatkan oleh nabi-nabi PL) datang menghampiri Yesus dan berdiri tepat di belakangNya. Wanita berdosa itu kemudian menangisi dirinya, dan juga air mata itu sekaligus ia jadikan sebagai pengganti air untuk membasuh kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya. Setelah kaki Yesus ia basuh dengan air matanya, ia selanjutnya meminyakinya dengan minyak wangi. Pada saat peristiwa itu terjadi, orang Farisi yang mengundang Yesus itu mulai meragukan kenabian Yesus, dalam hatinya ia berkata: “Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamah-Nya ini; tentu Ia tahu, bahwa perempuan itu adalah seorang berdosa.” (ay. 39). Untuk merespon keraguan Simon, orang Farisi tersebut, dan sekaligus membela sikap si perempuan berdosa tiu, Yesus menyampaikan perumpamaan ini kepada Simon dan segenap orang yang hadir saat itu. Lanjutkan membaca “Seri Perumpamaan Yesus (5): Seorang pelepas uang dan orang-orang yang berhutang (Luk. 7:41-47)”

Seri Perumpamaan Yesus (4): Perumpamaan tentang pengampunan: Seorang hamba yang tidak mengasihi kawannya (Mat. 18:23-35)

23Sebab hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. 24Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta. 25Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak isterinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya. 26Maka sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan. 27Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya. 28Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu! 29Maka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan. 30Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskannya hutangnya. 31Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka. 32Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku. 33Bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? 34Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya. 35Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.”

 

Mengapa perumpamaan ini disampaikan?

Perumpamaan ini disampaikan Yesus untuk merespon pertanyaan rasul Petrus yang sepertinya sudah merasa gerah dengan orang yang selalu saja melakukan kesalahan serupa sampai tujuh kali dan memohonkan maaf kepadanya. Menurut rasul Petrus ia sudah melakukan hal yang sangat baik dan sudah melewati batas standar. Sehingga ia mencoba menanyakan pendapat Yesus, moga-moga saya mendapat pujian, pikirnya. Namun ternyata jawaban itu di luar dugaan rasul Petrus, sebab Yesus menjawabnya: “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali!” Untuk menambah penjelasan pernyataan itu, Yesus menceritakan sebuah perumpamaan, yaitu tentang seorang hamba yang tidak mengasihi kawannya ini.   Lanjutkan membaca “Seri Perumpamaan Yesus (4): Perumpamaan tentang pengampunan: Seorang hamba yang tidak mengasihi kawannya (Mat. 18:23-35)”

Seri Perumpamaan Yesus (3): Sebiji sesawi (Mat. 13:31, 32; Luk. 13:19)

Banyak orang yang telah salah menafsir perumpamaan ini, salah satu contohnya adalah Matthew Henry (MH), seorang teolog reformed. Ia mengatakan bahwa perumpamaan ini adalah simbolitas kemajuan gereja dan Injil. MH mengatakan bahwa Injil yang diberitakan tampaknya kecil dan orang bisa berprasangka buruk, tetapi jika ditaburkan di tanah yang baik, maka kamu tidak akan menyangka hasilnya yang besar. Sebab sesawi itu akan tumbuh menjadi pohon! Tafsiran ini buruk! Tafsiran ini telah mengabaikan satu obyek penting dalam perumpamaan itu. Yaitu, burung yang bersarang pada cabang-cabang pohon. Lanjutkan membaca “Seri Perumpamaan Yesus (3): Sebiji sesawi (Mat. 13:31, 32; Luk. 13:19)”

Seri Perumpamaan Yesus (2): Kembalinya Roh jahat (Mat. 12:43-45; Luk. 11:24-26)

“Apabila roh jahat keluar dari manusia, iapun mengembara ke tempat-tempat yang tandus mencari perhentian. Tetapi ia tidak mendapatnya. Lalu ia berkata: Aku akan kembali ke rumah yang telah kutinggalkan itu. Maka pergilah ia dan mendapati rumah itu kosong, bersih tersapu dan rapih teratur. Lalu ia keluar dan mengajak tujuh roh lain yang lebih jahat dari padanya dan mereka masuk dan berdiam di situ. Maka akhirnya keadaan orang itu lebih buruk dari pada keadaannya semula. Demikian juga akan berlaku atas angkatan yang jahat ini.” Mat. 12:43-45

“Apabila roh jahat keluar dari manusia, iapun mengembara ke tempat-tempat yang tandus mencari perhentian, dan karena ia tidak mendapatnya, ia berkata: Aku akan kembali ke rumah yang telah kutinggalkan itu. Maka pergilah ia dan mendapati rumah itu bersih tersapu dan rapih teratur. Lalu ia keluar dan mengajak tujuh roh lain yang lebih jahat dari padanya, dan mereka masuk dan berdiam di situ. Maka akhirnya keadaan orang itu lebih buruk dari pada keadaannya semula.” Lukas. 11:24-26.

Lanjutkan membaca “Seri Perumpamaan Yesus (2): Kembalinya Roh jahat (Mat. 12:43-45; Luk. 11:24-26)”

Seri Perumpamaan Yesus (1): Orang yang hendak membangun rumah (Mat. 7:24-27)

“Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.”

Lanjutkan membaca “Seri Perumpamaan Yesus (1): Orang yang hendak membangun rumah (Mat. 7:24-27)”

Konsekuensi Kehendak bebas

Matius 11:20-24 (TB) Lalu Yesus mulai mengecam kota-kota yang tidak bertobat, sekalipun di situ Ia paling banyak melakukan mujizat-mujizat-Nya: “Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! Karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung. Tetapi Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan Tirus dan Sidon akan lebih ringan dari pada tanggunganmu. Dan engkau Kapernaum, apakah engkau akan dinaikkan sampai ke langit? Tidak, engkau akan diturunkan sampai ke dunia orang mati! Karena jika di Sodom terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, kota itu tentu masih berdiri sampai hari ini. Tetapi Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan negeri Sodom akan lebih ringan dari pada tanggunganmu.”

 

1. Pernahkah Anda merenungkan ayat-ayat di atas? Mengapa Tuhan tidak kasih porsi mujizat yang sama untuk semua orang, kalau Ia tahu bahwa porsi yang lebih PASTI membuat mereka bertobat?

Lanjutkan membaca “Konsekuensi Kehendak bebas”

Paskah, perayaan orang Yahudi atau Kristen?

Kebanyakan orang Kristen percaya bahwa Paskah adalah sebuah perayaan Kristen, namun faktanya tidak. Alkitab dan rasul menulis bahwa paskah itu sebenarnya perayaan orang Yahudi. Yohanes 6:4 Dan Paskah, hari raya orang Yahudi, sudah dekat.

1. Dari sejak semula paskah itu hanya diperingati orang Yahudi, yaitu untuk mengenang bahwa malaikat maut lewat dari depan rumah mereka dan tidak membunuh anak sulung mereka. Perayaan paskah yang pertama adalah pada kejadian tulah kesepuluh, yaitu kematian anak sulung (Keluaran 12).

Lanjutkan membaca “Paskah, perayaan orang Yahudi atau Kristen?”

​Adakah Ia mendapati iman di bumi? 

Lukas 18:8 (TB)  Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?”

Pernyataan di atas dimulai dengan sebuah perumpamaan tentang hakim yang lalim, yang akhirnya menyerah kepada seorang janda. Si Hakim akhirnya menuruti permintaan si janda untuk membela perkaranya, karena si Hakim merasa telah disusahkan oleh si janda tersebut yang tidak mau menyerah memohon sebelum perkaranya di bela.  Lanjutkan membaca “​Adakah Ia mendapati iman di bumi? “

Kekeliruan Samuel T. Gunawan menafsirkan kata “to teleion” dalam 1 Korintus 13:10 

(Sebuah sanggahan untuk artikel beliau yang berjudul: Benarkah Frase to teleios Dalam 1 Korintus 13:8-13 Menunjuk Kepada Alkitab?)

Samuel T. Gunawan (STG)  menulis artikelnya sebanyak 13 halaman dalam format pdf., untuk membela doktrin Kharismatiknya yang mempercayai karunia melakukan mujizat, bernubuat, dan berbahasa roh masih eksis hingga kedatangan Tuhan yang kedua. Dalam artikel tersebut, STG tidak hanya mengarahkan senapan-nya untuk menyerang Dr. Suhento Liauw (SL),  melainkan juga murid-murid SL. Oleh karena itu, sebagai murid SL dan sebagai orang yang sudah diarahkan pucuk pistolnya juga, maka saya pikir penting untuk menjawab dan menunjukkan kekeliruan STG pada artikel yang ia tulis dan juga terhadap doktrin Kharismatik yang ia anut.

Poin Kesimpulan STG

Berikut ini saya mendaftarkan beberapa poin kesimpulan STG yang tertulis dalam artikelnya tersebut, saat mencoba menyanggah artikel SL yang berjudul “Alkitab firman yang sempurna (1 Korintus 13:8-13)”:

1.SL salah menarik kesimpulan dengan menyatakan frasa “to teleion” merujuk kepada Alkitab. Lanjutkan membaca “Kekeliruan Samuel T. Gunawan menafsirkan kata “to teleion” dalam 1 Korintus 13:10 “