Menaruh pengharapan pada Yesus yang akan segera mati

1 Korintus 1:18 (TB) Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah

Umumnya orang hanya akan menaruh harapan pada orang lain, saat orang itu mulai kuat atau berhasil. Tak ada orang yang terlalu bodoh untuk berharap pada orang yang sebentar lagi akan mati. Tapi, seorang penjahat di samping Yesus justru menaruh pengharapannya pada Yesus, di saat Yesus berada pada
titik terendah kehidupanNya sebagai manusia.

Lanjutkan membaca “Menaruh pengharapan pada Yesus yang akan segera mati”

​Adakah Ia mendapati iman di bumi? 

Lukas 18:8 (TB)  Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?”

Pernyataan di atas dimulai dengan sebuah perumpamaan tentang hakim yang lalim, yang akhirnya menyerah kepada seorang janda. Si Hakim akhirnya menuruti permintaan si janda untuk membela perkaranya, karena si Hakim merasa telah disusahkan oleh si janda tersebut yang tidak mau menyerah memohon sebelum perkaranya di bela.  Lanjutkan membaca “​Adakah Ia mendapati iman di bumi? “

​INDOMARET VS ALFAMART

Titus 2:1 Tetapi engkau, beritakanlah apa yang sesuai dengan ajaran yang sehat.

Dua merk toko swalayan ini ibarat saudara kembar.  Hampir di setiap tempat selalu berdampingan atau setidaknya berhadap-hadapan. Keduanya saling berlomba-lomba menunjukkan pelayanan terbaik kepada konsumen. Kreatifitas, kerajinan, keramahan dan  berbagai terobosan mereka curahkan demi merebut konsumen.
Sok Alkitabiah Vs Lebih Alkitabiah Lanjutkan membaca “​INDOMARET VS ALFAMART”

Jujurlah, mengapa harus bersandiwara?

​Bilangan 9:15-23, Pada hari didirikan Kemah Suci, maka awan itu menutupi Kemah Suci, kemah hukum Allah; dan pada waktu malam sampai pagi awan itu ada di atas Kemah Suci, kelihatan seperti api. Demikianlah selalu terjadi: awan itu menutupi Kemah, dan pada waktu malam kelihatan seperti api. Dan setiap kali awan itu naik dari atas Kemah, maka orang Israel pun berangkatlah, dan di tempat awan itu diam, di sanalah orang Israel berkemah. Atas titah TUHAN orang Israel berangkat dan atas titah TUHAN juga mereka berkemah; selama awan itu diam di atas Kemah Suci, mereka tetap berkemah. Apabila awan itu lama tinggal di atas Kemah Suci, maka orang Israel memelihara kewajibannya kepada TUHAN, dan tidaklah mereka berangkat. Ada kalanya awan itu hanya tinggal beberapa hari di atas Kemah Suci; maka atas titah TUHAN mereka berkemah dan atas titah TUHAN juga mereka berangkat. Ada kalanya awan itu tinggal dari petang sampai pagi; ketika awan itu naik pada waktu pagi, mereka pun berangkatlah; baik pada waktu siang baik pada waktu malam, apabila awan itu naik, mereka pun berangkatlah. Berapa lama pun juga awan itu diam di atas Kemah Suci, baik dua hari, baik sebulan atau lebih lama, maka orang Israel tetap berkemah dan tidak berangkat; tetapi apabila awan itu naik, barulah mereka berangkat. Atas titah TUHAN mereka berkemah dan atas titah TUHAN juga mereka berangkat; mereka memelihara kewajibannya kepada TUHAN, menurut titah TUHAN dengan perantaraan Musa. 

Ada banyak orang di zaman sekarang ini mengeluhkan “kesamaran” petunjuk Tuhan, walaupun sebenarnya petunjuk Tuhan tidak samar-samar melainkan sangat jelas di dalam Alkitab. Seringkali, orang yang berkata “Tuhan, tunjukkanlah aku jalan-Mu; Tuhan, jalan mana yang harus aku pilih?” Malah sangat jarang baca buku petunjuk Tuhan, yaitu Alkitab. Seharusnya, sebelum kita mengeluhkan “kesamaran” petunjuk Tuhan, adalah perlu bagi kita untuk terlebih dahulu mengadakan cross-check, Tuhankah yang membuat jalan tersebut tersamar, atau justru kita yang jarang membaca buku petunjuk, sehingga kita diliputi kesamar-samaran?

Ketika membaca perikop di Bilangan 9:15-23 ini, saya justru melihat bahwa kejelasan (transparansi) kehadiran Tuhan dan petunjukkan-Nya tidak serta merta membuat manusia senang (menyukainya). Bisa saja manusia akan merasa kerepotan, bahkan merasa sebal. Bayangkan saja, seperti halnya bangsa Israel saat di padang gurun. Mereka harus berpaut pada aba-aba Tuhan untuk melakukan perjalanan atau tinggal sementara atau bahkan tinggal cukup lama. Sebagai tanda bagi mereka, Allah memberikat tiang awan atau tiang api.

Ketika bangsa Israel mendapat perintah Tuhan, mereka bisa saja tinggal di suatu tempat hanya satu malam (ayat 21), bisa berhari-hari atau berbulan-bulan, tergantung petunjuk Tuhan. Dan, mereka diharuskan mematuhi tanda yang jelas itu (tiang awan) jika ingin selamat. Intinya pesannya disebutkan di ayat 22 “Berapa lama pun juga awan itu diam di atas kemah suci, baik dua hari, baik sebulan atau lebih lama, maka orang Israel tetap berkemah dan tidak berangkat; tetapi apabila awan itu naik, barulah mereka berangkat.”

Jadi, bangsa Israel tidak boleh mengeraskan hatinya dengan berkata: “Tuhan, bukankah kami baru menginap sehari, kok langsung berangkat lagi? Membuat perkemahan (tenda-tenda) dan kemah suci kan capek. Kan sayang Tuhan, tendanya baru berdiri dan sudah bagus, kok malah harus dibongkar lagi dan berangkat lagi dan dibongkar lagi?….dst”

Implikasi penyertaan Tuhan bagi bangsa Israel dengan tanda tiang awan dan tiang api bagi kita di zaman sekarang adalah jangalah kita asyik mengeluh tak beralasan dengan berkata: “Tuhan beri aku petunjuk,” sementara kita menutup mata membaca buku petunjuk dari Tuhan. Marilah kita mengikuti apa kata Alkitab yang sudah jelas. Walaupun kita mungkin sudah merasa nyaman di tempat kita, tetapi jika Tuhan berkata harus pindah dan “berkemah” di tempat lain —karena ada yang lebih baik dan benar—, mengapa kita mengeraskan hati? 

Jika ada gereja yang telah menyimpang dari kebenaran, dan Anda menemukan ada gereja yang lebih benar, maka itu berarti Anda di suruh pindah kemah! Tidak perlu kita bersandiwara mengatakan: “Tuhan, manakah yang harus kupilih?” Padahal kita tahu mana yang sebenarnya yang sesuai Alkitab/petunjuk Tuhan. 

Sangat disayangkan jika akhirnya kita bertindak seperti Bileam (Bilangan 22-24), pura2 meminta petunjuk Tuhan, padahal hatinya telah terpaut kepada mamon. Tuhan sudah jelas berkata A, tetapi kita akhirnya melakukan A’ (A aksen, yang mirip-mirip dengan A, tapi bukan A). Sudahilah sandiwara itu, saatnya kita berubah dan jujur pada kata hati kita.

Oleh: Ev. Marudut Tua Sianturi, S.T., M.Div

TEATER

Sebab, menurut pendapatku, Allah memberikan kepada kami, para rasul, tempat yang paling rendah, sama seperti orang-orang yang telah dijatuhi hukuman mati, sebab kami telah menjadi tontonan bagi dunia, bagi malaikat-malaikat dan bagi manusia, (1Korintus 4:9)

Tontonan 

Merenungkan arti kata tontonan/teatron (teater) secara mendalam membuat hati menjadi bergetar; betapa tidak, menurut kisah para martir abad permulaan, seorang Kristen yang tidak mau menyangkali imannya akan dihukum dengan cara dimasukkan ke sebuah panggung yang diisi binatang buas yang kelaparan. Hal itu menjadi tontonan/teater bagi para penonton. Para martir akan perlahan-lahan dicakar oleh kuku-kuku singa, beruang, dll., sampai menemui ajal sebagai sebuah tontonan. Para rasul telah memberi teladan “sama seperti orang-orang yang telah dijatuhi hukuman mati” yang terus memperjuangkan pemberitaan Injil hingga dijatuhi hukuman mati. 

Menurut kisah sejarah, seluruh rasul mati martir, kecuali rasul Yohanes yang dibuang di pulau Patmos. Itupun, rasul Yohanes sudah mengalami percobaan hukuman mati dengan cara direbus dengan minyak panas. Kesanggupan para martir “menikmati” ayat ini adalah menduduki “tempat yang paling rendah,” Ya…! tempat dimana kesombongan “dilarang,” sebuah kursi bernama “kerendahan hati.”


Para Penonton 

Tribun sebelah “kiri” dipenuhi oleh para penguasa dunia, yaitu Iblis. Ia penuh kesombongan, puas, dan tak berbelas kasihan selayaknya kaisar dan para pengikutnya yang telah menjatuhi hukuman mati para martir Kristen dan menjadikannya tontonan di panggung teater. Mereka akan bersorak kegirangan jika menyaksikan kesusahan, penderitaan, erangan, bahkan jeritan orang orang percaya. 

Tribun sebelah “kanan” dipenuhi oleh para malaikat yang penuh ketundukan dan penuh dengan kerendahan hati. Fakta tersebut terbukti pada kasus perebutan mayat Musa (Yudas 9). Mikael, yang adalah malaikat penghulu (malaikat perang) dengan taat dan rendah hati berkata kepada Iblis yang hanya sebagai malaikat “pemusik”(Yes.14:11) dengan berkata: “…kiranya Tuhan menghardik engkau!” Di tribun ini para penonton akan sangat bersukacita apabila dalam kesulitan, penderitaan, jeritan kesakitan, bahkan ancaman maut namun Injil terus diberitakan. Mengapa? Sebab, malaikat-malaikat sedang “kuliah” dengan serius kepada para pemberita Injil (I Petrus 1:12). Kata epithumousin adalah present active dari epitumeo yang berarti sedang sungguh-sungguh. Sungguh-sungguh apa? Sungguh-sungguh menyaksikan sesuatu yang tidak pernah dialami oleh malaikat-malaikat. Ya, sungguh-sunghuh memperhatikan pekerjaan penginjilan itu, sebab tidak ada malaikat yang menginjili malaikat. Di sisi lain, manusia yang sudah lahir baru harus menginjili sesamanya. Inilah yang tidak dipunyai para malaikat. Itulah sebabnya, ketika seseorang bertamu ke rumah sesamanya untuk memberitakan Injil, atau bahkan memberi seseorang tumpangan, sepasukan malaikat sebenarnya juga ikut bertamu ke rumah orang tersebut.

Jangan kamu lupa memberi tumpangan kepada orang, sebab dengan berbuat demikian beberapa orang dengan tidak diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat. (Ibrani 13:2).  

Jika seseorang menolak si pemberita Injil, sebenarnya ia bukan hanya menolak seorang penginjil dan Tuhan, tetapi juga mengusir sepasukan malaikat. Renungkan baik-baik hal itu. Ketahuilah, jika kita berkorban semampu kita untuk pemberitaan Injil, maka serombongan malaikat pasti akan berdecak kagum.

Tribun sebelah “tengah” dipenuhi oleh para penonton yang disebut “manusia.” Mereka terombang ambing, galau, dan penuh kebimbangan. Ada sebagian memihak pada Iblis, dengan teriakan-teriakan dan yel-yelnya meneriakkan: “…mampuslu!,” “…syukurin!,” “…rasain!, makanya jadi orang jangan terlalu ekstrim!, ngajarinnya keras-keras, tau rasa sekarang! Ngerasa benar sendiri sih! Selalu bicara Alkitabiah, Alkitabiah apaan! 

Sebagian ada yang setuju dengan mereka yang dipertontonkan. Kelompok itu berada pada tribun sebelah “kanan,” dan berkata: “Aku akan teruskan perjuangan mereka! Aku mau seperti mereka! Aku mau Alkitabiah! Aku mau datang ke Pendalaman-pendalaman Alkitab yang Alkitabiah! Aku akan meninggalkan pengajaran “Kristen”duniawi! Bagaimana aku bisa seperti mereka jika ajaranku “sukses” duniawi terus?!”
Tempat Terendah 

Dalam sebuah teater penyiksaan, biasanya panggungnya berada di tempat terendah dan dikelilingi oleh tempat duduk yang tersusun berundak ke atas. Di panggung terendah inilah tempat segala kehinaan, cercaan, caci maki ditujukan. Artinya teater ini diperankan oleh orang yang penuh kerendahan hati dan ketaatan kepada Tuhan. Kalau tidak rendah hati dan taat, tentu tidak sampai di panggung teater itu. Biasanya, pengadilan akan menawarkan opsi penyangkalan iman untuk menghindari panggung teater ini. Membayangkan dan merenungkan…mutu kekristenan sekarang (mudah-mudahan tidak demikian), “Keluar produksi mobil mewah terbaru, berbondong-bondong orang Kristen menggantinya. Berdiri rumah-rumah mewah dengan fasilitas yang serba wah orang-orang Kristen rela antri mengambil formulir mendapatkannya.” Bahkan ada yang rela mencicil hingga belasan bahkan puluhan tahun! Padahal, ia tidak tahu, besoknya bisa saja dia dipanggil Tuhan. Gaya bergereja zaman sekarang yang bikin geleng-geleng kepala, berdandan bak artis, bermusik bak artis, berkata bahwa penderitaan itu kutuk dan harus ditolak dalam nama Yesus, usaha bangkrut itu kerjaan Iblis, kaya itu berkat Tuhan karena Tuhan Mahakaya katanya, sukses duniawi dan serakah, selalu terhimpit kuatir dan merasa kurang terus…duit lagi…duit lagi…berkat ditujukan pada duit…sukses ditujukan pada duit…rajin berdoa ditujukan pada duit…di mimbar berdoa: “pelanggan lama tetap belanja, pelanggan baru berdatangan,”…duit lagi… dibukakan tingkap-tingkap langit supaya dikasih duit, …Ohhhh…ohhhh… mutu kekristenan seperti ini tidak akan tampil dipanggung teater. Baru saja mendengar auman singa, sudah lari terbirit-birit, padahal singanya belum dilepas. Apa reaksi penonton di tribun sebelah kiri? Mereka akan bersorak kegirangan. Ya! Iblis akan merasa senang dengan semua kejadian itu. 
I am nothing

Saya bukan siapa-siapa  adalah tema hidup orang percaya. Jadikan aku alat-Mu, karena aku terbuat dari debu yang Engkau beri jiwa dan roh. Aku bukan terbuat dari debu emas. Hilangkan kesombonganku Tuhan, ajari aku menyangkal diri dan memikul salibku, jauhkan aku dari segala bentuk kemewahan dunia, cukupkan keperluanku dan jangan kabulkan “keinginan”ku. 

Banyak tingkah polah orang-orang percaya yang membuat penonton tribun sebelah “kanan” kecewa dan tidak memberi kesaksian yang baik bagi penonton di tribun sebelah “tengah.” Gelar dipasang berderet-deret, tapi ngepel lantai tempat kebaktian menolak. Bergaya hidup mewah dan suka akan kemegahan dunia. Sudah dilimpahkan mobil Grandmax, minta ganti Mercy, dll. Kamar mandi dipasang marmer yang harganya cukup untuk menyokong puluhan pemberita Injil, ohhh… Saya bukan siapa-siapa… tubuh saya akan dikembalikan ke asalnya menjadi debu, duit, rumah, mobil akan “dilarang” dibawa masuk ke sorga. (Segeralah Tuhan datang).
Ditulis oleh: Gbl. Firman Legowo. Diedit oleh Ev. Marudut Tua Sianturi.

Kita bisa kalahkan Ahok

Saya bukanlah seorang politisi, bukan juga praktisi, atau sejenisnya; saya hanyalah seorang rohaniawan. Saya sangat sadar bahwa saya tidak berkompeten dalam komentar politik dan strategi kampanye pilgub. Sehingga dalam tulisan ini, saya tidak akan membahas cara mengalahkan Ahok dalam hal pilkada DKI. Saya pikir, biarlah mereka yang sudah pakar dalam politik dan pilkada yang membahasnya dan saya akan fokus dalam hal kerohanian saja.

Lalu, apa maksud Anda menulis artikel “Kita bisa kalahkan Ahok?” Mungkin, seperti itulah kira-kira pertanyaan sebagian pembaca artikel ini.

Baiklah, saya akan jelaskan tujuan artikel ini. Tujuan saya adalah agar pembaca yang budiman jangan hanya mengagumi sosok Ahok saja, melainkan mengupayakan diri setidaknya seperti Ahok. Bahkan, saya berharap pembaca juga bisa mengalahkan kebiasaan Ahok dalam refleksi rohaninya. Ada tiga hal yang akan saya singgung pada artikel ini, yaitu tentang kepiawaian Ahok mengutip ayat-ayat Alkitab di hadapan publik, keseriusan ber-saat teduh, dan ketekunan membaca Alkitabya.

Pertama, Ahok adalah seorang Kristen yang tidak pernah malu dan ragu untuk mengutip kata-kata firman Tuhan (Alkitab) saat tampil di publik atau saat diwawancarai, walaupun ia tidak menyebut alamat ayatnya. Kita biasa mendengar Ahok berkata, “…mati adalah untung, (Fil. 1:21),” “…kesusahan sehari cukuplah untuk sehari, (Mat. 6:34),” “…sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat, (Luk. 23:34 ), dsb. Saya katakan, orang biasa pun bisa melakukannya asal memiliki komitmen di dalam hatinya. Jadi, maukah Anda mengalahkan Ahok? Mari… mulailah menghidupi forman Allah.

Kedua, dalam wawancara majalah Integrity —yang banyak dikutip orang-orang Kristen kemudian—, Ahok berkata bahwa ia selalu bangun pukul 4.30 untuk saat teduh dan mempelajari firman Tuhan. Saya pikir, orang Kristen biasa juga bisa melakukan kebiasaan baik ini, hanya saja apakah ada komitmen di dalam hati kita? Saat ini, ada banyak sarana untuk belajar firman Tuhan, Anda bisa memulainya degan membaca renungan Charles H. Spurgeon, sang raja pengkhotbah dari Metropolitan Tabernakel. Dan masih ada banyak bahan renungan lainnya. Intinya, kemauan kita membaca Alkitab tiap-tiap pagi, merenungkan, dan mencari penjelasan tambahan adalah tindakan awal memulai pertumbuhan rohani secara baik. Jadi, maukah Anda mengalahkan Ahok dan membuat rekor pribadi saat ini?

Ketiga, —masih dari hasil wawancara majalah Integrity— Ahok mengatakan bahwa setiap tahun, ia selalu menyelesaikan membaca Alkitabnya mulai dari kitab Kejadian hingga kitab Wahyu. Setelah 5 tahun (5 kali membaca Alkitab) ia pasti mengganti Alkitabnya, karena Alkitab tsb telah banyak catatan-catatan. Lalu, apakah kebiasaan baik ini terlalu sukar untuk diikuti orang Kristen biasa? Hmmm… sekali lagi saya katakan tidak! Orang (Kristen) biasa mampu melakukan apa yang dibiasakan Ahok tersebut. 

Mungkin, mayoritas dari kita telah merasa bosan dan kantuk melihat bagaimana tebalnya kitab suci tersebut, apalagi untuk membacanya bukan? Tetapi ketahuilah, dengan membaca minimal 3 pasal satu hari, kita sebenarnya bisa menuntaskan proyek pembacaan Alkitab tersebut selama satu tahun. Jadi, kita hanya perlu meluangkan waktu kira-kira 30 menit sehari untuk menerapkan kebiasaan baik tersebut. Maka dari itu, saya katakan bahwa orang biasa sekalipun sanggup mengalahkan Ahok jika ia berkomitmen. 

Maukah Anda mengalahkan Ahok? Maukah Anda bertumbuh dalam iman? Maukah Anda kasih karunia Tuhan yang besar itu? Mulailah rutin membaca Alkitab, merenungkan, dan menghidupinya. Apabila Anda konsisten melakukan kebiasaan ini, maka PASTI kita akan bertumbuh dalam iman.

Mengapa porsi catatan kisah Hakim-hakim Israel tidak seimbang?

solomons_temple_jerusalem.jpgAda setidaknya 12 orang hakim yang memerintah Israel sepeninggal Yosua. Periode kepemimpinan para hakim itu belakangan disebut sebagai masa Hakim-hakim. Hakim-hakim yang memimpin Israel diangkat karena kemurahan Tuhan bagi umat-Nya. Secara tipikal, hakim-hakim yang memerintah diangkat setelah Israel menyadari bahwa mereka telah menjauh dari Tuhan. Oleh karena bangsa Israel meninggalkan Tuhan, maka Tuhan pun menghukum mereka melalui membiarkan bangsa lain memperbudak mereka. Bangsa Israel pun merasa tertindas dan tak berdaya, mereka berseru kepada Tuhan minta tolong, sebab tidak ada lagi pengharapan bagi mereka untuk merdeka. Seringkali terjadi dalam sejarah bangsa Israel, bahwa ketika mereka terdesak, barulah mereka mengingat Tuhan. Hal ini juga tidak jauh berbeda dengan kehidupan orang Kristen di masa sekarang. Orang-orang Kristen juga lebih sering mengingat Tuhan di saat susah, dibandingkan saat memperoleh kenyamanan. (Tentu tidak semua org Kristen berlaku sedemikian, tetapi mayoritas kekristenan yang sekarang memang demikia.) Setiap kali bangsa Israel memperoleh kedamaian, mereka pun lupa dan dengan mudahnya meninggalkan Tuhan.  Lanjutkan membaca “Mengapa porsi catatan kisah Hakim-hakim Israel tidak seimbang?”

Orang Kristen mata minus

image

Mata minus adalah penyakit yang paling banyak melanda anak-anak dan remaja di zaman sekarang. Penyakit mata minus adalah penyakit yang tidak dapat melihat jelas obyek yang jauh (yang mana bagi mata normal obyek itu masih terlihat jelas). Hal ini jamak kita lihat, manakala anak SD pun sudah ada yang pakai kaca mata minus yang tebal, bahkan sampai-sampai sudah minus 5! Fakta ini sesungguhnya memprihatinkan.
Lanjutkan membaca “Orang Kristen mata minus”

Adakah manusia yang telah berkorban untuk Tuhan?

imageMemberikan harta duniawi untuk pekerjaan Tuhan bukanlah suatu tindakan berkorban untuk Tuhan. Memilih masuk sekolah teologi dan akhirnya menjadi pelayan Tuhan juga bukanlah tindakan berkorban untuk Tuhan. Bahkan, ketika seluruh hidup kita, kita persembahkan untuk Tuhan, tetaplah hal itu bukan tindakan berkorban untuk Tuhan!

Kalau begitu, bagaimanakah cara manusia berkorban untuk Tuhan? Jawabannya,

Lanjutkan membaca “Adakah manusia yang telah berkorban untuk Tuhan?”