AJARAN CORPUS DELICTI ERASTUS SABDONO YANG MENYESATKAN

Dr. Erastus Sabdono adalah seorang pendeta populer di kalangan Kharismatik. Ia dikenal sebagai seorang hamba Tuhan yang memiliki karunia mengajar. Ia memang banyak mengajar, baik melalui radio, tatap muka secara langsung, dari buku-bukunya, dan dari berbagai video yang diupload di youtube. Tidak hanya itu, pengikutnya juga cukup banyak dan militan. Namun sayangnya, akhir-akhir ini ajaran-ajarannya semakin aneh dan tidak sesuai dengan pandangan teolog-teolog yang jujur pada umumnya. Terlebih, jika ditinjau dari Alkitab, ajaran-ajarannya semakin tidak konsisten dan tidak berdasar, termasuk ajaran “corpus delicti” ini. Apa sebenarnya arti dari corpus delicti itu?

Lanjutkan membaca “AJARAN CORPUS DELICTI ERASTUS SABDONO YANG MENYESATKAN”

Apakah Kisah Para Rasul 13:48 Mengajarkan Unconditional Election/Predestination?

“Mendengar itu bergembiralah semua orang yang tidak mengenal Allah dan mereka memuliakan firman Tuhan; dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya” (Kis. 13:48, ITB).

Ketika Kalvinis mencoba untuk mengargumentasikan doktrin mereka tentang Unconditional Election dan Unconditional Predestination (biasanya disebut Predestination saja), maka salah satu ayat yang sering dipakai adalah Kisah Rasul 13:48. Dari ayat ini, Kalvinis menekankan klausa berikut: “semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya.” Dari pernyataan ini, Kalvinis berargumen bahwa ada sebagian manusia yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, yang disebut kaum pilihan (elect), dan bahwa kaum pilihan ini ditentukan demikian secara tanpa syarat (unconditional), dan bahwa justru karena Tuhan menentukan dia untuk hidup kekal itulah, makanya ia menjadi percaya.

Dengan kata lain, Kalvinisme mengajarkan bahwa apakah manusia percaya kepada Tuhan atau tidak, sepenuhnya tergantung apakah dia orang pilihan Tuhan atau bukan. Jika dia orang pilihan Tuhan, maka Tuhan akan menggunakan Irresistible Grace untuk melahirbarukan dia, dan dia
akan otomatis percaya kepada Tuhan. Sebaliknya, jika dia bukan orang pilihan (melainkan orang
reprobate, yaitu orang yang disingkirkan), maka dia tidak akan menerima kasih karunia yang serupa
itu, dan dia tidak akan dilahirbarukan oleh Tuhan, dan dia tidak akan percaya.(Ingat bahwa Kalvinis mengajarkan manusia lahir baru dulu, baru kemudian percaya Tuhan, bertentangan dengan
pengajaran Alkitab bahwa manusia percaya dulu baru kemudian lahir baru dan menjadi anak-anak Allah (Yohanes 1:12). Dan mereka mengatakan bahwa Kisah Rasul 13:48 mengajarkan persis demikian. Tetapi apakah benar Kisah Para Rasul 13:48 mengajarkan doktrin Uncondition Election? SAMA SEKALI TIDAK!

I. Unconditional Election Bertentangan dengan Alkitab

Sebelum meneliti perikop Kisah Rasul 13:48 itu sendiri, kita akan melihat konteks Alkitab secara keseluruhan. Alkitab tidak pernah saling bertentangan, dan adalah salah satu prinsip dasar dalam hermeneutika bahwa bagian-bagian yang lebih sulit dalam Alkitab harus dipahami
berdasarkan terang keseluruhan Alkitab dan bagian-bagian Alkitab yang lebih jelas akan membantu
penafsir untuk memahami perikop yang lebih sulit.

A. Pemilihan Allah Didasarkan pada Prapengetahuan Allah

Mengenai keselamatan, keseluruhan konteks Alkitab sangatlah bertolak belakang dengan suatu konsep Unconditional Election (atau disingkat UE). Alkitab mengajarkan Election (pemilihan), tetapi tidak pernah Unconditional Election (pemilihan tanpa syarat/kondisi). Tidak ada satu ayatpun dalam Alkitab yang berisikan istilah ‘unconditional election’ atau ‘pemilihan yang tak
bersyarat.’ Memang benar bahwa Alkitab mengatakan bahwa pemilihan Allah terjadi sebelum dunia dijadikan (Ef. 1:4), tetapi itu tidak berarti pemilihan itu tanpa syarat, karena Allah mahatahu, sehingga Ia jelas sudah mengetahui tentang suatu kondisi sebelum kondisi itu muncul. Bahkan, secara eksplisit Alkitab mengatakan bahwa pemilihan adalah didasarkan foreknowledge (pra-
pengetahuan) Allah, dalam dua ayat: Roma 8:29 (Lihat terjemahan KJV yang lebih akurat: “For whom he did foreknow, he also did predestinate to be conformed to the image of his Son, that he might be the firstborn among many brethren.”) dan 1 Petrus 1:2. (Lihat terjemahan KJV yang lebih akurat: “Elect according to the foreknowledge of God the Father, through sanctification of the Spirit, unto obedience and sprinkling of the blood of Jesus Christ: Grace unto you, and peace, be multiplied.”)

Memang, Alkitab juga mengatakan bahwa pemilihan bukanlah didasarkan pada perbuatan baik atau pekerjaan manusia (Roma 9:11), tetapi memang keselamatan itu tidak pernah didasarkan pada perbuatan baik, melainkan pada iman. Dan dalam Alkitab, iman secara konsisten dikontraskan dengan perbuatan
(contoh Roma 4:5), sehingga pemilihan yang tidak didasarkan pada perbuatan, bisa saja didasarkan
pada iman. Alkitab juga mengatakan bahwa pemilihan didasarkan pada rencana dan panggilan
Allah, dan hal ini konsisten dengan panggilan dalam Injil bagi manusia untuk percaya kepada
Juruselamat. Di dalam Efesus pasal 1 sendiri ditegaskan bahwa pemilihan itu adalah “di dalam
Kristus” (Ef. 1:4). Artinya ada kondisi yang dilihat Allah dalam pemilihan, yaitu kondisi berada di
dalam Kristus. Dan bagaimanakah seseorang bisa berada di dalam Kristus? Tuhan tidak
membiarkan kita bingung, tetapi dengan tegas menyatakannya: “…berada dalam Dia bukan
dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena
kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan”
(Fil. 3:9).
Dengan kata lain, manusia dipilih sebelum dunia dijadikan, berdasarkan pra-pengetahuan
Allah tentang suatu kondisi, yaitu kondisi berada di dalam Yesus. Dan manusia bisa berada di dalam
Kristus melalui iman/kepercayaan kepada Kristus. Dengan kata lain, Unconditional Election adalah
salah, bukan saja karena tidak ada dalam Alkitab, tetapi karena bertentangan dengan apa yang
Alkitab ajarkan: Pemilihan bukan berdasarkan perbuatan, tetapi Pemilihan berdasarkan iman yang
menjadi dasar berada dalam Kristus.

B. Allah Menginginkan Keselamatan Semua Manusia

Bukan saja Unconditional Election tidak diajarkan di mana pun di Alkitab, tetapi
bertentangan dengan kehendak Tuhan yang sudah dinyatakan dengan tegas mengenai keselamatan,
yaitu keselamatan semua manusia. Ada banyak ayat yang menyatakan hal ini, dengan sekelumit
contoh saja:
“Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita, yang menghendaki
supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran” (1 Tim. 2:3-4).
“Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai
kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa,
melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat” (2 Pet. 3:9).
“Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH, Aku tidak berkenan kepada
kematian orang fasik, melainkan Aku berkenan kepada pertobatan orang fasik itu dari
kelakuannya supaya ia hidup” (Yeh. 33:11).
Jika Unconditional Election benar, maka semua ayat di atas, dan masih banyak lagi, menjadi
salah. Sebab, jika Allah sejak kekekalan memutuskan tanpa syarat, siapa yang masuk Surga dan
siapa yang masuk neraka, maka itu berarti Allah tidak menginginkan semua orang masuk neraka.
Ini berarti Allah sengaja menciptakan sebagian manusia untuk masuk neraka, tanpa pernah
memberikan sedikitpun kesempatan bagi mereka untuk bertobat dan percaya (karena dalam
Kalvinisme, bertobat dan percaya adalah hasil kerja Allah secara unilateral melalui Irresistible Grace). Ini membuat Allah menjadi pribadi yang tidak mengasihi terhadap mayoritas manusia. Ini
adalah mengapa Unconditional Election adalah doktrin yang mengerikan dan tidak alkitabiah.
Masih banyak lagi yang bisa kita katakan untuk menyanggah Unconditional Election, tetapi
marilah kita berfokus kepada perikop yang dibahas dalam artikel ini: Kisah Rasul 13:48.

II. Kisah Rasul 13:48 Tidak Mengajarkan Unconditional Election

Banyak Kalvinis yang sebenarnya tahu bahwa doktrin mereka adalah doktrin yang
“mengerikan,” (Calvin sendiri menyebutnya “horrible decree” dalam Institutes of the Christian Religion.)
namun merasa terpaksa untuk memegangnya karena mereka berpikir bahwa Alkitab
mengajarkannya. Salah satu contohnya adalah Kisah Rasul 13:48. Tetapi Alkitab tidak ada mengajar
UE, baik di perikop ini atau perikop lain manapun.
Pertama, mari kita lihat lagi ayat yang dimaksud, sebagaimana tertera dalam Alkitab versi
Indonesia Terjemahan Baru (ITB):
Mendengar itu bergembiralah semua orang yang tidak mengenal Allah dan mereka
memuliakan firman Tuhan; dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal,
menjadi percaya.
Nanti akan segera kita singkapkan bahwa terjemahan ini tidaklah tepat, dan menambahkan
elemen-elemen yang tidak ada dalam bahasa aslinya. Namun demikian, kalaupun kita mengizinkan
Kalvinis untuk memakai versi terjemahan ini, dan membiarkan mereka berasumsi bahwa penentuan
yang dimaksud di sini adalah suatu Pemilihan/Predestinasi yang terjadi dalam kekekalan, ayat ini
pun masih tidak bisa membuktikan klaim mereka tentang Unconditional Election. Dengan kata lain,
kalaupun kita mengalah kepada Kalvinis dan tidak mau mendebatkan kata-kata yang dipakai di sini,
tetap saja doktrin UE tidak bisa dibuktikan. Bagaimana demikian? Coba kita lihat.
Ayat ini hanya mengatakan bahwa ada orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal.
Sama sekali tidak dikatakan kapan penentuan ini terjadi, dan sama sekali tidak dikatakan bahwa
penentuan ini terjadi tanpa syarat atau tanpa melihat kondisi. Dari sini saja, poin Unconditional
Election sudah gagal dibuktikan. Ingat, Alkitab memang mengajarkan Election, tetapi tidak
mengajarkan Unconditional Election.
Lalu, bagaimana dengan frase selanjutnya: menjadi percaya. Bukankah ayat ini mengajarkan
bahwa orang menjadi percaya karena ia telah ditentukan Allah? Bukankah ini membuktikan bahwa
Kalvinis benar, bahwa percaya atau tidaknya manusia adalah tergantung penentuan Allah?
Itu memang salah satu kemungkinan kesimpulan dari kalimat ini. Tetapi ada konsekuensi
dari kesimpulan yang demikian. Kesimpulannya adalah bahwa percaya kepada Tuhan bukan lagi
tanggung jawab manusia, melainkan sesuatu yang di luar kendali manusia itu. Jika ia seorang
pilihan, maka ia akan percaya. Jika ia bukan orang pilihan, ia tidak akan percaya. Tanggung jawab
justru ada pada Tuhan yang memilih. Jika seseorang tidak percaya kepada Tuhan, maka itu karena
ia tidak dipilih. Jika Kalvinis nyaman dengan konsekuensi ini, mereka dipersilahkan untuk lanjut
dalam doktrin mereka, namun saya yakin bahwa setiap orang yang menyelidiki ini dengan kritis
tidak akan nyaman.
Oleh sebab itu, masih ada kemungkinan kesimpulan lain. Kesimpulan lain itu adalah bahwa
kalimat ini bukan sedang menyatakan hubungan kausal antara klausa pertama (ditentukan Allah)
dengan klausa kedua (menjadi percaya). Dua klausa yang dihubungkan dalam satu kalimat, tidak
harus memiliki hubungan kausal. Misal: Pada tahun 2012, semua peserta pilgub Jakarta yang
memakai baju kotak-kotak, memilih Jokowi dan Ahok. Sama sekali tidak dapat disimpulkan bahwa
karena seseorang memakai baju kotak-kotak, maka ia memilih Jokowi-Ahok. Malah, dinamika yang
terjadi kemungkinan besar adalah orang tersebut memang sudah punya niat untuk memilih Jokowi-Ahok, sehingga ia memakai baju kotak-kotak (yang waktu itu adalah ciri khas pasangan cagub
tersebut).
Jadi, Kis. 13:48, bahkan tanpa mempermasalahkan terjemahan yang salah sekalipun, tidak
menggugurkan Pemilihan yang Bersyarat (Conditional Election), dengan dasar iman. Ayat ini hanya
sekedar menegaskan bahwa apa yang Allah sudah ketahui dari kekekalan, yaitu bahwa orang-orang
tertentu akan percaya kepada PutraNya yang Ia tetapkan menjadi jalan keselamatan, dan yang
berdasarkan pra-pengetahuan itu, telah Allah tentukan untuk hidup yang kekal, bahwa mereka pada
saat mendengar Injil, menjadi percaya, sesuai dengan apa yang Allah sudah ketahui itu.
Jadi, dengan mengalah penuh kepada rangkaian kata-kata yang condong kepada pihak
Kalvinis sekalipun, ayat ini gagal untuk membuktikan Unconditional Election. Sekarang coba kita
lihat, bagaimana bunyi ayat ini sebenarnya dalam bahasa aslinya, dan jika dilihat dari konteks ayat-
ayat sebelumnya.

Mendengar itu bergembiralah semua orang yang tidak mengenal Allah dan mereka
memuliakan firman Tuhan; dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang
kekal, menjadi percaya (ITB) Kis. 13:48

And when the Gentiles heard this, they were glad, and glorified the word of the Lord:
and as many as were ordained to eternal life believed. (KJV) Act 13:38

ἀκούοντα δὲ τὰ ἔθνη ἔχαιρον, καὶ ἐδόξαζον τὸν λόγον τοῦ Κυρίου, καὶ
ἐπίστευσαν ὅσοι ἦσαν τεταγμένοι εἰς ζωὴν αἰώνιον. (TR) Acts 13:48

Ada tiga kata yang perlu dicermati lebih teliti dari ayat ini:
1. Kata “Allah” ternyata ditambahkan. Dalam KJV, merefleksikan teks asli Yunani, tidak ada kata
“Allah” di ayat ini.
2. Frase “semua orang yang tidak mengenal Allah” sebenarnya adalah “bangsa-bangsa” (non-
Yahudi), berasal dari kata Yunani ethne.
3. Kata “ditentukan” berasal dari kata tetagmenoi, yang perlu diperdalam lagi.
Sebelumnya, mari kita telusuri konteks perikop, mulai dari ayat 42. Karena pembaca artikel ini
adalah orang Indonesia, saya akan tetap kutipkan dari LAI, dengan catatan seperlunya.

Kisah Rasul 13:42-48

42 Ketika Paulus dan Barnabas keluar, mereka diminta untuk berbicara tentang pokok itu pula pada hari
Sabat berikutnya. 43 Setelah selesai ibadah, banyak orang Yahudi dan penganut-penganut agama Yahudi
yang takut akan Allah, mengikuti Paulus dan Barnabas; kedua rasul itu mengajar mereka dan menasihati
supaya mereka tetap hidup di dalam kasih karunia Allah. 44 Pada hari Sabat berikutnya datanglah hampir
seluruh kota itu berkumpul untuk mendengar firman Allah. 45 Akan tetapi, ketika orang Yahudi melihat
orang banyak itu, penuhlah mereka dengan iri hati dan sambil menghujat, mereka membantah apa yang
dikatakan oleh Paulus. 46 Tetapi dengan berani Paulus dan Barnabas berkata: “Memang kepada kamulah
firman Allah harus diberitakan lebih dahulu, tetapi kamu menolaknya dan menganggap dirimu tidak layak
untuk beroleh hidup yang kekal. Karena itu kami berpaling kepada bangsa-bangsa lain. 47 Sebab inilah
yang diperintahkan kepada kami: Aku telah menentukan engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa yang
tidak mengenal Allah, supaya engkau membawa keselamatan sampai ke ujung bumi.” 48 Mendengar itu
bergembiralah semua orang yang tidak mengenal Allah dan mereka memuliakan firman Tuhan; dan semua
orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya.

Paulus dan Barnabas berada di kota Antiokhia Pisidia waktu itu (ay. 14), dan pada hari Sabat
mereka berkhotbah di Sinagoge orang Yahudi. Isi khotbah Paulus, sebagaimana tercatat di ayat 16
sampai ayat 41, adalah memperkenalkan Yesus Kristus yang mati dan dibangkitkan sebagai
penggenapan pengharapan dalam Perjanjian Lama. Tentunya terkandung dalam khotbah ini suatu
ajakan untuk percaya kepada Yesus yang diberitakan tersebut. Reaksi terhadap khotbah Paulus ini
dicatat mulai dari ayat 42.
Pertama, Paulus diundang untuk kembali berbicara pada Sabat berikut (ay. 42). Kemudian,
kita diberitahu di ayat 43, bahwa ternyata ada sebagian orang Yahudi dan orang non-Yahudi (yang
disebut sebagai penganut-penganut agama Yahudi, yaitu kaum proselyte, atau petobat ke dalam
Yahudi) yang menerima positif kabar baik tentang Yesus Kristus ini, dan sudah menjadi percaya.
Dari mana kita tahu mereka sudah percaya? Karena teks mengatakan bahwa Paulus menasihati
mereka untuk “tetap hidpu di dalam kasih karunia Allah” (ay. 43). Jadi, sejumlah orang Yahudi dan
non-Yahudi, sudah menjadi percaya pada Sabat pertama ini.
Kemudian, pada Sabat selanjutnya, sebagaimana dinyatakan dalam ayat 44 dan 45, ada
banyak sekali orang non-Yahudi yang tertarik dan ikut datang, yang menimbulkan kecemburuan
dalam hati orang-orang Yahudi. Dalam pemikiran mereka, mestinya bangsa-bangsa lain ini
dimenangkan menjadi orang Yahudi, bukan orang Kristen. Dalam pemahaman Yahudi waktu itu,
“Kristen” adalah sebuah sekte dalam Yahudi, dan tidak seharusnya “mengalahkan” Yahudi yang
pokok. Tentu mereka sangat tidak senang dengan kebenaran yang Paulus ajarkan bahwa
keselamatan disediakan bagi semua bangsa, bukan hanya bangsa Yahudi saja. Maunya mereka
adalah menjadikan semua orang itu Yahudi. Akibatnya, mereka malah membantah apa yang Paulus
ajarkan, padahal Paulus mengajar dari Perjanjian Lama juga.
Ayat 46 sangat penting untuk memahami ayat 48. Paulus dan Barnabas dengan berani
menegor gerombolan Yahudi yang iri hati itu: “kamu menolaknya [Firman Allah] dan menganggap
dirimu tidak layak untuk beroleh hidup yang kekal. Karena itu kami berpaling kepada bangsa-
bangsa lain.” (ay. 46). Vonis Paulus bagi orang-orang Yahudi yang tegar tengkuk ini adalah: mereka
menganggap diri sendiri tidak layak untuk hidup yang kekal. Dan, oleh karena itu Paulus berpaling
kepada bangsa-bangsa lain. Frase bangsa-bangsa lain di sini adalah dari kata Yunani ethne, kata
yang persis sama dengan di ayat 48.
Di ayat 47, Paulus mengutip Yesaya dalam Perjanjian Lama untuk menegaskan bahwa
keselamatan dari Tuhan tidak terbatas pada orang Yahudi saja, tetapi juga adalah untuk bangsa-
bangsa lain. Frase “yang tidak mengenal Allah” adalah tafsiran tambahan LAI, karena kata yang
dipakai adalah persis kata ethne itu juga. Paulus menegaskan bahwa seseorang tidak perlu menjadi
Yahudi untuk diselamatkan.
Mendengar penegasan kabar baik ini, maka bangsa-bangsa non Yahudi sangat bergembira
(ay. 48). Frase “semua orang yang tidak mengenal Allah” di ayat 48 seharusnya adalah “bangsa-
bangsa lain” saja, karena sekali lagi berasal dari kata ethne yang sudah muncul di ayat 46 dan 47.
Ingat bahwa sebagian mereka sudah menjadi percaya sejak Sabat yang lalu, sebagaimana dijelaskan
di ayat 43, jadi adalah kesalahan penafsiran untuk mengatakan mereka ini semuanya “tidak
mengenal Allah.”
Lalu, masuklah kita kepada inti dari perikop ini, yaitu klausa “semua orang yang ditentukan
Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya.” Pertama, tidak ada kata “Allah” sama sekali di
kalimat ini. Ini adalah penambahan yang terlalu lancang yang dilakukan oleh LAI. Penerjemah
seharusnya menerjemahkan secara tepat, bukan memberikan penafsiran ketika kalimat bisa
sepenuhnya dipahami tanpa penambahan penafsiran tertentu. Memang, “ditentukan Allah” adalah
salah satu kemungkinan penafsiran, tetapi jelas bukan satu-satunya, dan juga barangkali bukan
penafsiran terbaik, walaupun sudah kita bahas di depan bahwa sekalipun kita mengalah kepada
Kalvinis dan membiarkan kata “Allah” muncul di sini, toh tidak membuktikan doktrin UE mereka.
Tetapi, seperti akan kita lihat berikut ini, konteks dan penelitian yang cermat terhadap grammar
Yunani, mengindikasikan sesuatu yang berbeda.
Kedua, kata yang dipakai untuk “ditentukan” adalah kata tetagmenoi, yaitu bentuk Perfect
Middle Participle Maskulin Plural Nominatif dari kata tasso. Kata tasso sendiri memiliki arti “to
arrange, to set, to appoint” (Mounce Greek Dictionary), atau dalam bahasa Indonesia, bisa diartikan
“mengatur, memposisikan, menunjuk, menentukan.” Satu hal yang jelas, ini bukanlah kata yang
diharapkan oleh Kalvinis muncul di ayat ini untuk mendukung doktrin Unconditional Predestination
/ UE. Ayat yang dipakai oleh Alkitab untuk menyatakan predestinasi adalah kata pro-orizo yang
muncul 6 kali dalam Alkitab, sebagai contoh dalam Efesus 1:5. (Having predestinated us unto the adoption of children by Jesus Christ to himself, according to the good pleasure of
his will (KJV). Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-
Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya (ITB)
Predestinasi berarti telah menentukan “destinasi” atau tujuan akhir seseorang, sejak
sebelumnya (prefiks pre), dan ini memang adalah terjemahan yang baik dari kata pro-orizo yang
juga memiliki prefiks pro yang mengindikasikan suatu waktu sebelum. Sebaliknya, dalam Kisah
Rasul 13:48, kata yang dipakai adalah kata tasso, bukan pro-orizo. Tasso muncul 8 kali dalam
Perjanjian Baru, dan tidak pernah mengacu kepada Predestinasi sejak kekekalan.
Lebih menarik lagi adalah fakta bahwa tasso dalam Kis. 13:48 adalah dalam bentuk Middle.
Apa itu Middle? Middle adalah suatu jenis voice (diatesis) dalam bahasa Yunani, yang berada di
“tengah” antara Aktif dan Pasif. Jika kalimat Aktif berarti subjek adalah pelaku aksi (Budi memukul
adik), dan kalimat Pasif berarti subjek sebagai yang terkena aksi (adik dipukul oleh Budi), maka
kalimat Middle adalah ketika subjek berperan sebagai pelaku aksi sekaligus yang terkena aksi.
Contoh voice Middle dalam Yunani adalah: Budi memukul dirinya sendiri. Jadi, Budi adalah pelaku
aksi, sekaligus yang terkena aksi.
Dengan demikian, berdasarkan voice Middle dari kata tasso, Kisah 13:48 bisa saja berbunyi:
“Mendengar itu, bergembiralah bangsa-bangsa bukan Yahudi dan mereka memuliakan Firman
Tuhan, dan semua orang yang telah memposisikan diri mereka untuk hidup yang kekal, menjadi
percaya.” Terlihat di sini bahwa penambahan kata “Allah” oleh LAI adalah suatu penafsiran yang
tidak dapat dibenarkan, karena kata tasso berada dalam bentuk Middle, dengan subjek sebagai
pelaku aksi sekaligus yang terkena aksi. Bangsa-bangsa lain yang “telah memposisikan diri sendiri”
untuk hidup yang kekal adalah mereka yang menanggapi positif pesan Injil yang Paulus beritakan,
bahkan sejak Sabat yang sebelumnya. Ingat bahwa pada Sabat yang sebelumnya, Paulus sudah
berkhotbah, dan sudah ada orang non-Yahudi yang merespons positif pesan Injil. Mereka ini bisa
dihitung sebagai orang-orang yang “telah memposisikan diri sendiri untuk hidup yang kekal,”
karena mereka telah meresponi Injil secara positif. Ketika Paulus menegaskan Injil lagi di Sabat
yang satu ini, terutama dengan penjabaran dari Perjanjian Lama bahwa seseorang tidak perlu
menjadi Yahudi untuk diselamatkan, dan bahwa keselamatan juga terbuka untuk bangsa-bangsa
non-Yahudi, mereka bergembira dan mempercayai apa yang Paulus katakan tersebut!
Tetapi tunggu dulu. Kaum Kalvinis akan berargumen bahwa walaupun bentuk Middle sering
dipakai dalam Yunani Klasik, tetapi pada abad pertama, bahasa yang dipakai dalam Alkitab adalah
Yunani Koine. Dan dalam Yunani Koine, arti Middle sudah jarang dipakai, dan bentuk Middle
sering diartikan sebagai Pasif. Namun, walaupun benar bahwa pemakaian Direct Middle dalam
Yunani Koine tidak lagi sesering dalam Yunani Klasik, namun konsep Middle jelas masih ada dalam
Yunani Koine, dan ada dipakai dalam Perjanjian Baru. Kita percaya bahwa Allah menginspirasikan
Firmannya secara Verbal Plenary, artinya secara keseluruhan, dan juga kata per kata. Ada alasan mengapa Roh Kudus memakai bentuk Middle di sini. Walaupun bentuk Middle bisa dipakai dalam
pengertian Pasif juga, konteks harus menentukannya.
Konteks Kisah Rasul 13:48 sangat mendukung pemakaian Middle ini, terutama karena
adanya kalimat paralel di ayat 46. Kita membaca di ayat, Paulus menyatakan:

Memang kepada kamulah firman Allah harus diberitakan lebih dahulu, tetapi kamu
menolaknya dan menganggap dirimu tidak layak untuk beroleh hidup yang kekal. (ay.
46)
Orang Yahudi menolak Firman Allah, dan dengan itu menganggap diri mereka sendiri
(ini menyatakan arti Middle dengan menggunakan kata kerja Aktif + Refleksif
Pronoun) tidak layak untuk hidup yang kekal.
Mendengar itu, bergembiralah bangsa-bangsa bukan Yahudi dan mereka memuliakan
Firman Tuhan, dan semua orang yang telah memposisikan diri mereka untuk hidup
yang kekal, menjadi percaya. (ay. 48, terjemahan sendiri)
Orang non-Yahudi memulikan Firman Allah, dan dengan itu memposisikan diri mereka
sendiri (ini benar-benar memakai bentuk Middle) untuk hidup yang kekal.

Jadi, berdasarkan paralel di ayat 46, jelas bahwa kata tasso di ayat 48, yang memiliki bentuk
Middle, cocok diartikan sebagai Middle sejati. Orang Yahudi menolak Firman Allah, menganggap
diri sendiri tidak layak untuk hidup yang kekal. Orang-orang non-Yahudi menerima Firman Allah,
dan memposisikan diri untuk hidup yang kekal.
Perhatikan juga kata “semua” di ayat 48. Jadi, yang “menjadi percaya” adalah semua yang
telah memposisikan diri tersebut. Jika tasso dianggap Predestinasi tanpa syarat sejak kekekalan,
maka Kalvinis harus juga percaya bahwa semua orang yang tidak percaya pada hari itu (baik Yahudi
maupun non-Yahudi), berarti tidak termasuk dalam kelompok kaum Pilihan Unconditional, dan
berarti tidak akan pernah bisa percaya seumur hidup mereka. Artinya kalau Kalvinis benar, semua
yang bisa selamat dari kelompok ramai yang hadir hari itu, sudah langsung selamat, dan sisanya
tidak akan pernah bisa selamat. Berarti bagi orang-orang di sinagog itu pada hari itu, yang sebagian
besarnya baru pertama kali mendengar Injil, hanya ada satu kesempatan itu untuk diselamatkan.
Saya yakin kesimpulan ini terlalu jauh bahkan bagi Kalvinis sekalipun, dan mengindikasikan bahwa
penafsiran mereka salah.
Sebagai kesimpulan, pengajaran perikop ini BUKANLAH bahwa ada sebagian orang yang
sudah Tuhan tentukan sejak kekekalan untuk hidup kekal, dan lalu orang-orang ini Tuhan atur untuk
menjadi percaya. Jika itu pengajarannya, maka tidak ada aplikasi yang berguna bagi kita atau
siapapun, karena tidak ada tanggung jawab apapun pada manusia dalam hal keselamatan. Tetapi,
sebenarnya perikop ini mengajarkan bahwa jika kita menerima Firman Tuhan, maka kita
memposisikan diri untuk hidup yang kekal melalui iman percaya kepada Yesus Kristus, bukan
karena kehebatan kita, tetapi karena karyaNya yang sempurna. Sebaliknya, jika kita menolak
Firman Tuhan, maka kita menganggap diri kita tidak layak bagi keselamatan. Iman timbul dari
pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus (Roma 10:17).

By: Dr. Steven Liauw, D.R.E., Th.D

Tuhan sudah beri kesempatan yang cukup

Matius 11:21, 23 (TB) “Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! Karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung. Dan engkau Kapernaum, apakah engkau akan dinaikkan sampai ke langit? Tidak, engkau akan diturunkan sampai ke dunia orang mati! Karena jika di Sodom terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, kota itu tentu masih berdiri sampai hari ini.

Allah kita itu Allah yang kasih, adil dan tahu segala kemungkinan yang akan terjadi. Oleh karena kasih dan keadilan itu pula, Ia harus mengasihi semua ciptaanNya dan berlaku adil. KasihNya tentu akan mengapresiasi semua yang baik dan keadilanNya akan menindak segala kecurangan dan kebebalan.

Teks di atas menunjukkan kasih sekaligus keadilan Tuhan. Kok bisa? Ya! Karena sebelum Allah hendak menghukum kota Khorazim, Betsaida, dan Kapernaum, Ia sudah terlebih dahulu memberi mereka kesempatan untuk bertobat dan merasakan hal-hal baik dari Allah. Bahkan, kota-kota yang telah ditunggangbalikkan Tuhan, seperti Tirus, Sidon, Sodom dan Gomora juga telah merasakan kesempatan pertobatan dari Tuhan. Hanya saja, mereka tidak memberi perhatian dan respon yang baik terhadap peringatan-peringatan itu. Akhirnya, hukuman pun dijatuhkan.

Mungkin, kita bisa saja bertanya-tanya dalam hati: “mengapa Tuhan tidak memberi saja mujizat-mujizat super dahsyat ke kota Tirus dan Sidon, Sodom dan Gomora, agar mereka tobat? Bukankah Tuhan tahu bahwa orang-orang di kota itu pasti tobat kalau Tuhan mengintervensi dengan lebih lagi?” Hmmm, ini adalah pertanyaan wajar dan normal dari pihak kita sebagai manusia dan ciptaanNya.

Sebagai orang Kristen, kita tentu tahu bahwa Allah tidak bertindak secara serampangan. Ia tentu sudah melakukan yang terbaik untuk setiap peristiwa, termasuk saat tidak memberi mujizat super dahsyat ke kota-kota yang dihukum Tuhan itu. Bagi saya, setelah mempelajari topik ini, kemungkinan jawaban yang paling baik untuk pertanyaan di atas adalah bahwa Tuhan telah memiliki kadar (ukuran) tersendiri yang cukup bagi setiap individu untuk merespon peringatan-peringatan yang Tuhan berikan. Porsi peringatan itu tentu sangat variatif, bisa saja ke orang yang satu peringatanNya perlu puluhan kali, tetapi ke orang yang lain cukup satu atau dua kali. Intinya, peringatan itu cukup! Sama halnya ketika siswa di dalam satu kelas memiliki tingkat penerimaan pengajaran yang berbeda. Beberapa siswa bisa saja segera faham hanya dengan satu atau dua kali penjabaran, tetapi beberapa siswa lagi masih perlu lima atau sepuluh kali penjabaran dan contoh kasus baru bisa mengerti. Kira-kira, seperti itulah kasih dan keadilan Tuhan itu bekerja bagi orang-orang Tirus, Sidon, Sodom, dan Gomora. Hanya saja, sangat di sayangkan bahwa kota-kota itu tidak mau tobat sampai di batas kecukupan penalaran mereka terhadap peringatan Tuhan. Maka itu, mereka akan dihukum secara variatif juga.

Jadi, bagaimana dengan kita secara pribadi? Apakah kita sudah memberi respon yang baik terhadap peringatan firman Tuhan yang kita terima? Peringatan dan ajakan Tuhan untuk bertindak benar dan bertobat dari hal-hal yang salah bisa datang dari mimbar gereja lewat khotbah, bisa juga lewat pembacaan firmanNya secara pribadi, bisa juga lewat uraian firman Tuhan melalui media sosial atau bahkan kehidupan pribadi lepas pribadi. Jadi, apakah kita sudah berusaha mengubah pola pikir dan pandangan kita ke arah yang lebih baik setelah menerima kebenaran? Ketahuilah, ada saatnya peringatan, ajakan dan kesempatan dari Tuhan itu berkata sudah cukup dan kita akhirnya sadar bahwa kita sudah terlambat dan menyia-nyiakannya. Renungkanlah.

Ev. Marudut Tua Sianturi, M. Div.

MENGUJI ROH?

Manusia yang tidak bisa melihat roh mau menguji roh, ini hebat sekali. Sebagian orang berpikir bahwa manusia sanggup mengetes roh di sekelilingnya dan bisa tahu, ini Roh Kudus, dan ini roh iblis Legion, atau itu roh Tatung dll. Seolah-olah punya semacam tes pen untuk menguji arus listrik.

MAKSUD RASUL YOHANES

Sesungguhnya istilah uji roh ini muncul dari surat Rasul Yohanes.

1Yoh. 4:1 Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia.

Yohanes mengingatkan bahwa banyak nabi palsu yang muncul dan pergi ke seluruh dunia. Nabi adalah pribadi yang dipilih Allah spesial untuk bernubuat menyampaikan pesan-pesan Allah. Artinya Allah menurunkan wahyu kepadanya dan memakai mulutnya menyampaikan kepada manusia.

Nabi palsu itu adalah orang yang tidak menerima pesan Allah, tetapi ia mengaku terima, dan menyampaikan hal yang bohong dan salah kepada manusia. Jika seseorang bernubuat, maka bisa ada tiga sumbernya, (1) Dari Allah, (2) Dari iblis (makhluk roh), atau (3) Diri manusia itu sendiri karena mau dianggap dan dihormati.

Nabi yang bekerja atas dorongan roh iblis, artinya roh iblis yang memberikan mereka wahyu palsu sehingga mereka bernubuat. Ternyata menurut surat Rasul Yohanes telah muncul nabi palsu, yaitu orang-orang yang tidak menerima wahyu dari Tuhan tetapi mereka mengaku mendapat wahyu dari Tuhan, dan mereka bernubuat. Sekarang lebih banyak lagi pengkhotbah yang bergaya di atas mimbar yang berkata, “tadi malam Tuhan berbicara kepada saya.” Dan jemaat terpaku melongo sambil berpikir hebat sekali, ini orang lebih hebat dari Rasul Paulus yang didatangi Tuhan (Kis. 23:11). Kalau begitu semua tulisannya bisa dijadikan firman Tuhan.

Maksud Rasul Yohanes, ketika muncul banyak orang yang ngaku dapat wahyu dari Tuhan, mendengar suara Tuhan, PADA ZAMAN DIA, itu harus diuji kebenarannya. Mengapa saya tulis huruf besar PADA ZAMAN DIA itu karena sekarang tidak ada lagi pewahyuan setelah Alkitab selesai, maka semua yang mengaku dengar suara Tuhan sudah pasti bohong dan sesat.

Tetapi pada zaman Yohanes, pewahyuan masih berjalan sehingga muncul nabi palsu yang ngaku dapat wahyu lalu mengajarkan hal-hal yang menyimpang. Tentu maksud Yohanes yang diuji itu si pengajar ini, karena roh yang di dalamnya tidak bisa kita lihat, apa lagi mau kita tangkap dan uji.

CARA MENGUJI ROH

Menguji roh yang dimaksud Rasul Yohanes ialah menguji orang yang mengajar itu. Dan menguji orang yang mengajar itu bukan uji kesehatan badannya. Kalau badannya yang diuji itu perlu dibawa ke Rumah Sakit, melainkan menguji pengajarannya.

1Yoh.4:1 Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia. 2 Demikianlah kita mengenal Roh Allah: setiap roh yang mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, berasal dari Allah 3 dan setiap roh, yang tidak mengaku Yesus (Kristus datang dalam daging), tidak berasal dari Allah. Roh itu adalah roh antikristus dan tentang dia telah kamu dengar, bahwa ia akan datang dan sekarang ini ia sudah ada di dalam dunia.

Maksud Rasul YOHANES, roh yang di dalam orang yang mengajarkan doktrin itu, apakah roh itu berasal dari Allah atau bukan. Dari pengajaran yang disampaikannya kita akan tahu sesungguhnya roh apa yang ada di dalam orang itu. Misalnya, roh yang mendorong Joshep Smith mengajarkan agar seorang laki-laki kawin sebanyak-banyaknya, pengajaran ini bersumber dari roh apa?

PERHATIKAN, pada ayat 3, di Critical Text pada kata yang saya taruh dalam kurung dihilangkan. Jika Anda tidak piawai bahasa Yunani, boleh lihat KJV.

KJVLite And every spirit that confesseth not that Jesus Christ is come in the flesh is not of God: and this is that spiritof antichrist, whereof ye have heard that it should come; and even now already is it in the world.

Rasul Yohanes tidak menyuruh murid-muridnya menguji roh dengan perasaan mereka karena perasaan manusia tidak stabil, dan tidak boleh menjadikan perasaan sebagai standar kebenaran apalagi standar untuk menguji roh. Jika menguji dengan perasaan, maka pasti roh iblis akan lolos ujian karena roh iblis bisa berikan sukacita semu seperti yang diberikannya pada para pelawak, penyanyi dan bintang film. Jangan sekali-kali menjadikan perasaan sebagai standar kebenaran, apalagi sebagai alat untuk menguji Roh Allah.

Rasul Yohanes juga tidak suruh muridnya dengan pengamatan mata atau fisik walaupun aktivitas fisik seperti kejang-kejang, kelepar-kelepar itu biasanya atas aktivitas roh iblis. Karena iblis pintar akting, dia lebih hebat dari pemain film manapun.

Cara menguji roh yang Rasul Yohanes suruh murid-muridnya lakukan ialah uji doktrin yang diajarkan. Roh Kudus atau Roh Allah pasti mengajarkan doktrin yang benar, sedangkan roh iblis atau roh dunia akan mengajarkan doktrin yang sesat.

Rasul Yohanes memberikan kepada muridnya patokan doktrin untuk menilai. Katanya, jika pengajar itu mengajarkan doktrin bahwa Yesus tidak punya daging, atau Yesus tidak datang dalam daging, maka itu adalah doktrin dari ajaran sesat saat itu yang disebut Gnostic, itu bukan berasal dari Roh Allah, itu dari roh Antikristus.

Pada zaman Rasul Yohanes, mereka belum punya Alkitab seperti kita saat ini. Mereka ada kitab PL, dan sejumlah tulisan Rasul yang belum lengkap. Oleh sebab itu Rasul Yohanes berusaha melengkapi murid-muridnya dengan doktrin yang jelas yang harus mereka pegang teguh, yaitu bahwa Yesus memiliki tubuh daging. Kristus yang tidak memiliki tubuh daging, yang diajarkan oleh kaum Gnostic tidak bisa jadi Juruselamat, itu doktrin sesat.

Kini setelah Alkitab lengkap, telah menjadi firman Tuhan tertulis yang sempurna, tentu ini merupakan alat untuk menguji roh yang lebih akurat dari sekedar surat Yohanes saja. Jangan terperangkap oleh anjuran yang salah untuk menguji roh yaitu dengan perasaan atau bahkan dengan roh iblis. Rasul Yohanes menyuruh muridnya menguji dengan doktrin yang diajarkan kepada mereka. Hari ini kita memiliki firman Tuhan yang lengkap dan tertulis. Inilah alat standar untuk menguji roh yang artinya menguji berbagai pengajaran.

Denominasi kekristenan muncul sangat banyak, yang berarti beban untuk menguji roh semakin berat jika tidak ingin tersesatkan. Semua pengajaran, Katolik, Mormon, SSJ, Protestan, Calvinisme, Kharismatik, Injili, Baptis dll., semuanya perlu diuji tidak ada yang terkecuali, jika kita ingin memilih yang benar alkitabiah. Seperti anjuran Rasul Yohanes pada murid-muridnya untuk menguji doktrinnya dan doktrin Gnostic, yang manakah yang dari Roh Allah dan yang manakah yang dari roh Antikristus, demikian juga murid-murid Tuhan zaman Akhir ini harus menguji doktrin berbagai denominasi tersebut untuk tahu yang manakah yang dari Roh Allah dan yang manakah yang dari roh Antikristus.

Waspada dengan slogan yang dihembuskan iblis bahwa JANGAN MENGHAKIMI yang bertujuan agar orang beriman secara membabi buta saja. Jika kita tidak mau beriman secara membabi buta maka kita harus menguji, yang sama dengan menghakimi, dan memilih yang paling sesuai Alkitab dan akal sehat.

Iman yang benar adalah iman yang tahan uji. Penganut iman yang salah biasanya marah, bahkan ada yang siap bunuh orang jika ada yang berani mengritik imannya. Waspadalah.

Saya menulis ini dengan kasih agar yang salah bisa kembali ke jalan yang benar.

Jakarta, 12 Mei 2019
Dr. Suhento Liauw

Gereja yang ber-doktrin berbeda-beda adalah ladang ranjau bagi orang Kristen yang kurang teliti

image

PENDAHULUAN

Pernahkah Anda menonton film Rambo? Saya cukup yakin, pembaca sekalian pernah menontonnya. Ingatkah Anda tentang aksi-aksi si Rambo? Bagaimana ia bergerilya di daerah musuh dengan menghindari semua ranjau-ranjau yang ditanam oleh musuh? Dan menuntaskan misi hanya dengan seorang diri? Ketahuilah, Rambo bisa melakukannya karena dia merupakan prajurit yang terlatih secara baik. Menguasai strategi perang, menguasai lapangan, dan ahli memanfaatkan segala sesuatu yang ada di sekitarnya menjadi senjata, bahkan juga memasang ranjau untuk melawan musuh.

Lanjutkan membaca “Gereja yang ber-doktrin berbeda-beda adalah ladang ranjau bagi orang Kristen yang kurang teliti”

WASPADAI INJIL YANG LAIN

Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia (Galatia 1:8)

serigala berbulu dombaIblis memberitakan Injil? Ah masa sih. Mungkin itulah reaksi kebanyakan orang Kristen jika ditanya mengenai hal ini. Tetapi, rasul Paulus di abad pertama tidak menganggap remeh keikutsertaan Iblis dalam pemberitaan Injil – yang tentunya adalah untuk mengacaukannya. Ketika orang-orang percaya di Galatia disusupi oleh pengajar-pengajar palsu yang isi beritanya bahwa keselamatan memerlukan sunatan, Paulus sangat marah dan sedih. Lanjutkan membaca “WASPADAI INJIL YANG LAIN”

TIDAK ADA POSISI NETRAL DI DALAM KEBENARAN

image

Dalam dunia sekuler kita mengenal posisi netral, yakni ke-tidak-berpihakan kepada satu opsi/golongan/kelompok. Dan itu sah-sah saja, itu hak kita! Sebab di dunia sekuler kebenaran itu dinilai secara subyektif (tergantung siapa yang menilai). Namun dalam hal-hal rohani yang sifatnya absolut/mutlak, tidak mengenal posisi netral atau ketidak berpihakan kepada suatu keputusan. Kita sama sekali tidak menemukan tindakan yang benar tentang posisi netral. Justru contoh di Alkitab menunjukkan bahwa posisi netral tidak sesuai dengan Alkitab.

Lukas 12:49-53, barangkali adalah perikop terjelas tentang topik ini. Perhatikanlah ayat demi ayat, maka Anda pun pasti setuju bahwa Alkitab tidak pernah merekomendasikan posisi/sikap netral terhadap kebenaran.

Lanjutkan membaca “TIDAK ADA POSISI NETRAL DI DALAM KEBENARAN”

7 Hikmat penting dari kehidupan Yudas Iskariot yang layak kita renungkan

image

Tetapi manusia rohani menilai segala sesuatu... (1 Korintus 2:15a)

Ayat tersebut di atas menginstruksikan kepada kita bahwa kita bisa belajar dari segala yang kita lihat, baca, dengar, atau lakukan. Apakah sesuatu yang baik ataukah sesuatu yang buruk, pasti ada pelajaran yang patut di petik. Contoh klasik telah ditunjukkan oleh orang berhikmat sepanjang masa, Raja Salomo. Ia bahkan telah memperhatikan semut, dan menyuruh para pemalas melihat dan meniru semut yang rajin. Amsal 6:6.

Maka dari itu, menilik 7 hikmat penting dari kehidupan Yudas Iskariot juga sangat bisa dijadikan bahan pertimbangan. Inilah ketujuh hal tersebut.

Pertama:
Yudas adalah teladan penting peluang yang hilang. Ia mendengar Yesus mengajar sehari-hari sekitar dua tahun. Ia dapat menyampaikan pertanyaan-pertanyaan kepada Yesus sesuka hatinya. Ia dapat meminta dan menerima dari Tuhan setiap bantuan yang dibutuhkannya. Ia dapat menggantikan beban berat dosanya dengan kuk yang ringan. Kristus telah menyampaikan undangan kepada setiap orang untuk melakukannya (Matius 11:28-30). Namun akhirnya Yudas dihukum karena kegagalannya untuk memahami apa yang didengarnya.

Kedua:
Yudas adalah contoh keistimewaan yang terbuang. Ia diberikan tempat istimewa di antara semua pengikut Tuhan, tetapi menyalahgunakan keistimewaan itu-memanfaatkannya demi sedikit uang yang dimintanya yang sebenarnya sama sekali tidak dibutuhkannya. Alangkah bodohnya!

Ketiga:
Yudas adalah ilustrasi klasik tentang bagaimana cinta akan uang adalah akar dari segala kejahatan (1 Timotius 6:10).

Lanjutkan membaca “7 Hikmat penting dari kehidupan Yudas Iskariot yang layak kita renungkan”

Yesus marah, Yesus melarang untuk marah, lalu orang Kristen ikut yang mana?

image

Bolehkah orang Kristen lahir baru marah? Seringkali pertanyaan ini menjadi polemik di kalangan jemaat Kristen “awam.”. Di stu sisi mereka membaca Alkitab yang berkata bahwa “…siapa yang marah terhadap saudaranya akan dihukum” (Mat. 5:22), orang yang marah adalah mengikuti keinginan daging (Ef. 5:20), dll. Jadi orang Kristen tidak boleh marah.

Di sisi lain, mereka juga membaca nats-nats Alkitab yang menunjukkan bahwa Yesus sendiri pernah marah. Yesus membalikkan meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati di Bait Allah (Mat. 21:12), dan mengusir mereka (Luk 19:45), Yesus marah karena kedegilan hati orang Farisi ketika Yesus menyembuhkan orang sakit di hari sabat (Mark 3:5). Yesus memarahi Petrus karena Petrus tidak tahu misi Kristus di bumi, yaitu mati terhukum demi dosa umat manusia (Mark 8:33). Yesus marah karena murid-muridnya melarang orang-orang yang membawa anak-anak kepada Yesus untuk dijamah (Mark10:14), dsb.

Lanjutkan membaca “Yesus marah, Yesus melarang untuk marah, lalu orang Kristen ikut yang mana?”