Ritual keagamaan dan perbuatan baik tidak diperlukan untuk memperoleh anugerah keselamatan

Tata ibadah Perjanjian Lama sarat dengan ritual yang bersifat simbolistik dan jasmaniah. Namun tata ibadah yang diterapkan Yesus untuk jemaat Perjanjian Baru adalah bersifat rohani di dalam kebenaran. (Yoh. 4:23-24). Jadi, untuk menerima berkat keselamatan dari Allah, seseorang tidak perlu, bahkan tidak boleh lagi tunduk dalam aturan hukum Taurat. Yesus adalah kegenapan seluruh tata ibadah simbolik zaman Perjanjian Lama itu (Kol. 2:16-17). Oleh karena itulah, saat penjahat yang di sebelah Yesus bertobat, Yesus tidak menyuruh orang itu melaksanakan ritual keagamaan simbolistik Yahudi. Ia dianggap layak menerima berkat keselamatan, sebab ia percaya kepada Mesias yang sedang tersalib.

Pada masa rasuli, praktek sunat pun tidak boleh ditambahkan kepada anugerah keselamatan. Sebab, tuntutan melakukan sunat bagi orang yang telah menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat adalah penyimpangan iman atau kesesatan. Oleh karena itulah rasul Paulus dengan keras menentang orang-orang Yudea yang datang ke Antiokhia, dan yang mengajarkan kepada orang Kristen di sana untuk memelihara praktek sunat agar memperoleh keselamatan (Kis. 15:1). Di zaman gereja sekarang juga sama. Pendeta-pendeta yang mengajarkan baptisan perlu untuk keselamatan harus di lawan. Jika baptisan memang diperlukan untuk keselamatan manusia, harusnya Yesus menyuruh murid-Nya membaptiskan penjahat yang tersalib di samping-Nya. Tetapi Yesus tidak melakukan hal itu, karena sesungguhnya baptisan tidak diperlukan untuk keselamatan.[1]

Gereja-gereja yang masih mempraktekkan pembap-tisan kepada orang yang sakit keras haruslah bertobat dari praktek itu, sebab upaya yang demikian lebih berpotensi menyesatkan daripada menguatkan iman. Orang yang sudah sakit keras tidak memerlukan ordonansi baptisan untuk keselamatannya, ia memerlukan pemberitaan Injil yang murni. Injil yang murni yang didengar dan diaminkan sanggup membuat dia memperoleh berkat keselamatan. Sebagaimana dikatakan di dalam kitab Roma, “Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani.” (Rom. 1:16)

Jika gereja masih mengajarkan perlunya ritual keagamaan seperti baptisan dan perjamuan kudus* untuk keselamatan, maka ia telah mengajarkan keselamatan yang bertentangan dengan Alkitab. Orang percaya yang sekarat maupun yang sehat tidak membutuhkan baptisan untuk keselamatan mereka. Keselamatan murni hanya oleh anugerah.

Roma 5:8-9, 8Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa. 9Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah.

Efesus 2:8-9, 8Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; 9itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaan-mu: jangan ada orang yang memegahkan diri.

Titus 3:5, pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus,

Demikian juga halnya dengan perbuatan baik dan kerajianan melayani. Semua hal-hal baik itu tidak perlu untuk memperoleh anugerah keselamatan dari Allah. Sebab Allah menebus kita ketika kita masih berdosa.  Adalah tipu muslihat Iblis yang menyesatkan jika ada pendeta mengajarkan bahwa untuk memperoleh berkat keselamatan haruslah sempurna seperti Bapa. Yesus memang pernah berkata “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna,” (Mat. 5:48) tetapi perintah supaya sempurna itu bukan agar memperoleh anugerah keselamatan. Sebab anugerah keselamatan diberikan kepada manusia ketika manusia itu berdosa. Manusia hanya perlu mengaku dosa dan percaya kepada Juruselamat yang telah dihukumkan untuk dosanya di kayu salib. Setelah memperoleh berkat keselamatan, Yesus menyuruh manusia untuk selalu berusaha sempurna seperti Bapa yang di sorga. Jadi, perintah itu disampaikan setelah seseorang memiliki anugerah keselamatan bukan sebelum atauuntuk memperoleh berkat keselamatan dari Allah.

Posisi kudus otomatis dimiliki orang percaya saat mereka membuat pengakuan iman di hadapan Allah. Hati orang percaya juga menjadi kudus saat Roh Kudus berdiam di dalamnya. Tetapi, karakter yang kudus dan yang sempurna akan teruji dengan waktu. Target yang dijadikan Allah adalah sempurna seperti Bapa yang di sorga. Inilah yang dimaksudkan Allah ketika Yesus berkata “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” (Mat. 5:48)

Perbuatan baik dan baptisan memang perlu dilakukan oleh setiap orang percaya, karena itu adalah perintah Allah. Namun, semua itu bukan untuk memperoleh keselamatan. Perbuatan baik adalah bukti iman yang benar. Seseorang tidak mungkin benar imannya, jika imannya itu tidak diikuti dengan perbuatan baik. Yakobus berkata:

Yakobus 2:17-22, 17Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati. 18Tetapi mungkin ada orang berkata: “Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan”, aku akan menjawab dia: “Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku.” 19Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setanpun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar. 20Hai manusia yang bebal, maukah engkau mengakui sekarang, bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong? 21Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia memper-sembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah? 22Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna.

Baptisan adalah tanda simbolis yang kelihatan sebagai penyatuan orang percaya dengan kematian, penguburan, dan kebangkitan Kristus (bdk. Rom. 6:3-5). Hal itu perlu sebagai kesaksian kepada sesama Kristen maupun non Kristen di dunia ini, juga sebagai identitas Kristen. Tetapi baptisan itu sendiri tidak diperlukan untuk memperoleh berkat keselamatan dari Allah.

dikutip dari buku “7 PERKATAAN SALIB” by: Ev. Marudut Tua Sianturi, hlm. 26-31.


[1] Untuk pembelajaran lebih lanjut, saya sudah menulis buku tentanng topik ini, yaitu Apakah Baptisan Mempengaruhi Keselamatan?

Kepastian masuk sorga ditentukan ketika di dunia ini

Banyak orang Kristen yang sudah percaya Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya, namun di sisi lain mereka belum percaya bahwa mereka pasti masuk surga. Mereka takut mengaku bahwa kapan saja saya mati, saya pasti masuk sorga. Hal ini dianggap perkataan sombong dan angkuh! Siapakah kita yang bisa yakin, bahwa kita pasti masuk sorga? Demikianlah kata orang Kristen lainnya. Tetapi, ketahuilah, bahwa jika kita masih ragu apakah nanti pasti masuk surga atau tidak, itu berarti ada yang salah dengan pengertian kita tentang berkat keselamatan dari Allah.

Mengakui kapan saja saya mati, saya pasti masuk surga bukanlah sikap angkuh atau sombong. Kesimpulan itu justru sebagai bukti iman kita. Yesus, sebagai ‘orang dalam’ sudah memberi garansi dan jaminan, mengapa kita masih meragukannya? Jika kita masih meragukan ‘pasti – tidaknya’ kita akan masuk sorga, maka itu berarti kita meragukan perkataan Yesus yang memberi jaminan, yaitu “hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.”

Mengapa keyakinan pasti masuk sorga tidak dikategorikan sebagai ungkapan angkuh dan kesombongan? Alasannya adalah:

  1. Karena Tuhan Yesus Kristuslah yang menggaransi-nya. Jika orang yang menggaransi keselamatan adalah sang pemilik sorga, maka logikanya, umat-Nya harus yakin. Beda halnya jika yang menjamin keselamatan adalah seorang calo sorga, maka kita pantas meragukannya. Jika kita tidak sungguh-sungguh yakin akan jaminan dari Yesus, maka siapa lagi yang akan kita percayai untuk menjamin keselamatan kita?
  2. Karena kepastian masuk sorga adalah bagian yang tak terpisahkan dari iman percaya kita. Yesus sudah berkata saat di kayu salib, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.” (Luk. 23:43) Tidak hanya itu, Yesus juga berkata dengan lebih jelas di kitab Yohanes 3:16, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Jadi, barang siapa yang berkata bahwa ia pasti masuk sorga, sebenarnya itu adalah tanda betapa ia yakin akan janji Allah, bukan kesombongan! Jika kita masih ragu akan kepastian masuk sorga, maka itu sama artinya meragukan otoritas Yesus yang memberi jaminan keselamatan sorgawi.

Keraguan banyak orang Kristen untuk mengaku pasti masuk sorga, sekalipun sudah mengakui Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya, adalah dikarenakan ia tidak sungguh-sungguh memahami doktrin keselamatan yang Alkitabiah. Hal ini bisa saja terjadi, karena ia tidak pernah diajar secara baik tentang doktrin keselamatan, atau ia sendiri tidak pernah membaca Alkitab secara serius. Sesungguhnya, Alkitab ditulis agar manusia sadar dan tahu bahwa kita yang percaya kepada Yesus, pasti memiliki hidup yang kekal di sorga. Rasul Yohanes berkata, “Semuanya itu kutuliskan kepada kamu, supaya kamu yang percaya kepada nama Anak Allah, tahu, bahwa kamu memiliki hidup yang kekal.” (1 Yoh. 5:13) Dengan demikian, jelaslah sekarang bahwa ketika seseorang sudah bertobat dan percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya, maka ia pasti memiliki hidup yang kekal dan pasti masuk sorga. Dua ayat yang ditulis oleh rasul Paulus ini, harusnya sanggup meyakinkan kita, yaitu: “Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah. Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diper-damaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya!” (Rom. 5:9-10)

Masihkah Anda ragu akan jaminan dari Allah yang mengatakan kita pasti diselamatkan dari murka Allah? Masihkah Anda ragu di dalam hatimu mengakui Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatmu? Hanya Dialah yang sanggup membawa manusia datang kepada Allah Bapa, melalui kematian-Nya di kayu salib. Dialah jalan satu-satunya ke surga (Yoh. 14:6), dan hanya di dalam nama-Nyalah keselamatan dimungkinkan. “Dan kesela-matan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” (Kis. 4:12). Tuhan kiranya  memberkati Anda, Maranatha!***

Menaruh pengharapan pada Yesus yang akan segera mati

1 Korintus 1:18 (TB) Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah

Umumnya orang hanya akan menaruh harapan pada orang lain, saat orang itu mulai kuat atau berhasil. Tak ada orang yang terlalu bodoh untuk berharap pada orang yang sebentar lagi akan mati. Tapi, seorang penjahat di samping Yesus justru menaruh pengharapannya pada Yesus, di saat Yesus berada pada
titik terendah kehidupanNya sebagai manusia.

Lanjutkan membaca “Menaruh pengharapan pada Yesus yang akan segera mati”

AJARAN CORPUS DELICTI ERASTUS SABDONO YANG MENYESATKAN

Dr. Erastus Sabdono adalah seorang pendeta populer di kalangan Kharismatik. Ia dikenal sebagai seorang hamba Tuhan yang memiliki karunia mengajar. Ia memang banyak mengajar, baik melalui radio, tatap muka secara langsung, dari buku-bukunya, dan dari berbagai video yang diupload di youtube. Tidak hanya itu, pengikutnya juga cukup banyak dan militan. Namun sayangnya, akhir-akhir ini ajaran-ajarannya semakin aneh dan tidak sesuai dengan pandangan teolog-teolog yang jujur pada umumnya. Terlebih, jika ditinjau dari Alkitab, ajaran-ajarannya semakin tidak konsisten dan tidak berdasar, termasuk ajaran “corpus delicti” ini. Apa sebenarnya arti dari corpus delicti itu?

Lanjutkan membaca “AJARAN CORPUS DELICTI ERASTUS SABDONO YANG MENYESATKAN”

Tanggapan Ev. Marudut Tua Sianturi untuk tulisan Pdt. Samuel T. Gunawan yang berjudul, Apakah Iblis Aktif Memberitakan Injil?

A. Pendahuluan

Tulisan Pdt. Samuel T. Gunawan (STG) yang berjudul APAKAH IBLIS AKTIF MEMBERITAKAN INJIL? yang berisi tanggapannya terhadap artikel Gbl. Dance S. Suat yang berjudul IBLIS AKTIF MEMBERITAKAN INJIL, sebenarnya bukan barang baru lagi bagi saya atau baru saya baca. Tapi, saya sengaja mengabaikannya, karena menurut saya isinya tidak terlalu bagus. Mengapa saya katakan tidak terlalu bagus? Ya, karena poin-poin yang ia serang sebenarnya hal yang remeh-temeh yang sangat mudah dibantah! Isi dalam tulisannya terkesan dibesar-besarkan dan bahkan ia menafsir sendiri apa yang tidak dimaksud Gbl. Dance (STG memaknai tulisan Gbl. Dance, tentang kata Injil bahwa istilah itu hanya punya satu makna saja dan pasti Injil yang benar. Nyatanya Gbl Dance sebut itu kamuflase dan Injil yang palsu) dan kemudian menyerang tafsiran itu, yang ia anggap dianut Gbl. Dance. Sehingga, bisa disimpulkan, STG menyerang suatu konsep yang TIDAK dianut oleh Gbl. Dance, kemudian menyerang konsep yang TIDAK dianut oleh Gbl. Dance itu. Aneh bukan? Makanya, saya abaikan saja setelah membacanya beberapa waktu yang lalu.

Lanjutkan membaca “Tanggapan Ev. Marudut Tua Sianturi untuk tulisan Pdt. Samuel T. Gunawan yang berjudul, Apakah Iblis Aktif Memberitakan Injil?”

Apakah Kisah Para Rasul 13:48 Mengajarkan Unconditional Election/Predestination?

“Mendengar itu bergembiralah semua orang yang tidak mengenal Allah dan mereka memuliakan firman Tuhan; dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya” (Kis. 13:48, ITB).

Ketika Kalvinis mencoba untuk mengargumentasikan doktrin mereka tentang Unconditional Election dan Unconditional Predestination (biasanya disebut Predestination saja), maka salah satu ayat yang sering dipakai adalah Kisah Rasul 13:48. Dari ayat ini, Kalvinis menekankan klausa berikut: “semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya.” Dari pernyataan ini, Kalvinis berargumen bahwa ada sebagian manusia yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, yang disebut kaum pilihan (elect), dan bahwa kaum pilihan ini ditentukan demikian secara tanpa syarat (unconditional), dan bahwa justru karena Tuhan menentukan dia untuk hidup kekal itulah, makanya ia menjadi percaya.

Dengan kata lain, Kalvinisme mengajarkan bahwa apakah manusia percaya kepada Tuhan atau tidak, sepenuhnya tergantung apakah dia orang pilihan Tuhan atau bukan. Jika dia orang pilihan Tuhan, maka Tuhan akan menggunakan Irresistible Grace untuk melahirbarukan dia, dan dia
akan otomatis percaya kepada Tuhan. Sebaliknya, jika dia bukan orang pilihan (melainkan orang
reprobate, yaitu orang yang disingkirkan), maka dia tidak akan menerima kasih karunia yang serupa
itu, dan dia tidak akan dilahirbarukan oleh Tuhan, dan dia tidak akan percaya.(Ingat bahwa Kalvinis mengajarkan manusia lahir baru dulu, baru kemudian percaya Tuhan, bertentangan dengan
pengajaran Alkitab bahwa manusia percaya dulu baru kemudian lahir baru dan menjadi anak-anak Allah (Yohanes 1:12). Dan mereka mengatakan bahwa Kisah Rasul 13:48 mengajarkan persis demikian. Tetapi apakah benar Kisah Para Rasul 13:48 mengajarkan doktrin Uncondition Election? SAMA SEKALI TIDAK!

I. Unconditional Election Bertentangan dengan Alkitab

Sebelum meneliti perikop Kisah Rasul 13:48 itu sendiri, kita akan melihat konteks Alkitab secara keseluruhan. Alkitab tidak pernah saling bertentangan, dan adalah salah satu prinsip dasar dalam hermeneutika bahwa bagian-bagian yang lebih sulit dalam Alkitab harus dipahami
berdasarkan terang keseluruhan Alkitab dan bagian-bagian Alkitab yang lebih jelas akan membantu
penafsir untuk memahami perikop yang lebih sulit.

A. Pemilihan Allah Didasarkan pada Prapengetahuan Allah

Mengenai keselamatan, keseluruhan konteks Alkitab sangatlah bertolak belakang dengan suatu konsep Unconditional Election (atau disingkat UE). Alkitab mengajarkan Election (pemilihan), tetapi tidak pernah Unconditional Election (pemilihan tanpa syarat/kondisi). Tidak ada satu ayatpun dalam Alkitab yang berisikan istilah ‘unconditional election’ atau ‘pemilihan yang tak
bersyarat.’ Memang benar bahwa Alkitab mengatakan bahwa pemilihan Allah terjadi sebelum dunia dijadikan (Ef. 1:4), tetapi itu tidak berarti pemilihan itu tanpa syarat, karena Allah mahatahu, sehingga Ia jelas sudah mengetahui tentang suatu kondisi sebelum kondisi itu muncul. Bahkan, secara eksplisit Alkitab mengatakan bahwa pemilihan adalah didasarkan foreknowledge (pra-
pengetahuan) Allah, dalam dua ayat: Roma 8:29 (Lihat terjemahan KJV yang lebih akurat: “For whom he did foreknow, he also did predestinate to be conformed to the image of his Son, that he might be the firstborn among many brethren.”) dan 1 Petrus 1:2. (Lihat terjemahan KJV yang lebih akurat: “Elect according to the foreknowledge of God the Father, through sanctification of the Spirit, unto obedience and sprinkling of the blood of Jesus Christ: Grace unto you, and peace, be multiplied.”)

Memang, Alkitab juga mengatakan bahwa pemilihan bukanlah didasarkan pada perbuatan baik atau pekerjaan manusia (Roma 9:11), tetapi memang keselamatan itu tidak pernah didasarkan pada perbuatan baik, melainkan pada iman. Dan dalam Alkitab, iman secara konsisten dikontraskan dengan perbuatan
(contoh Roma 4:5), sehingga pemilihan yang tidak didasarkan pada perbuatan, bisa saja didasarkan
pada iman. Alkitab juga mengatakan bahwa pemilihan didasarkan pada rencana dan panggilan
Allah, dan hal ini konsisten dengan panggilan dalam Injil bagi manusia untuk percaya kepada
Juruselamat. Di dalam Efesus pasal 1 sendiri ditegaskan bahwa pemilihan itu adalah “di dalam
Kristus” (Ef. 1:4). Artinya ada kondisi yang dilihat Allah dalam pemilihan, yaitu kondisi berada di
dalam Kristus. Dan bagaimanakah seseorang bisa berada di dalam Kristus? Tuhan tidak
membiarkan kita bingung, tetapi dengan tegas menyatakannya: “…berada dalam Dia bukan
dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena
kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan”
(Fil. 3:9).
Dengan kata lain, manusia dipilih sebelum dunia dijadikan, berdasarkan pra-pengetahuan
Allah tentang suatu kondisi, yaitu kondisi berada di dalam Yesus. Dan manusia bisa berada di dalam
Kristus melalui iman/kepercayaan kepada Kristus. Dengan kata lain, Unconditional Election adalah
salah, bukan saja karena tidak ada dalam Alkitab, tetapi karena bertentangan dengan apa yang
Alkitab ajarkan: Pemilihan bukan berdasarkan perbuatan, tetapi Pemilihan berdasarkan iman yang
menjadi dasar berada dalam Kristus.

B. Allah Menginginkan Keselamatan Semua Manusia

Bukan saja Unconditional Election tidak diajarkan di mana pun di Alkitab, tetapi
bertentangan dengan kehendak Tuhan yang sudah dinyatakan dengan tegas mengenai keselamatan,
yaitu keselamatan semua manusia. Ada banyak ayat yang menyatakan hal ini, dengan sekelumit
contoh saja:
“Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita, yang menghendaki
supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran” (1 Tim. 2:3-4).
“Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai
kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa,
melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat” (2 Pet. 3:9).
“Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH, Aku tidak berkenan kepada
kematian orang fasik, melainkan Aku berkenan kepada pertobatan orang fasik itu dari
kelakuannya supaya ia hidup” (Yeh. 33:11).
Jika Unconditional Election benar, maka semua ayat di atas, dan masih banyak lagi, menjadi
salah. Sebab, jika Allah sejak kekekalan memutuskan tanpa syarat, siapa yang masuk Surga dan
siapa yang masuk neraka, maka itu berarti Allah tidak menginginkan semua orang masuk neraka.
Ini berarti Allah sengaja menciptakan sebagian manusia untuk masuk neraka, tanpa pernah
memberikan sedikitpun kesempatan bagi mereka untuk bertobat dan percaya (karena dalam
Kalvinisme, bertobat dan percaya adalah hasil kerja Allah secara unilateral melalui Irresistible Grace). Ini membuat Allah menjadi pribadi yang tidak mengasihi terhadap mayoritas manusia. Ini
adalah mengapa Unconditional Election adalah doktrin yang mengerikan dan tidak alkitabiah.
Masih banyak lagi yang bisa kita katakan untuk menyanggah Unconditional Election, tetapi
marilah kita berfokus kepada perikop yang dibahas dalam artikel ini: Kisah Rasul 13:48.

II. Kisah Rasul 13:48 Tidak Mengajarkan Unconditional Election

Banyak Kalvinis yang sebenarnya tahu bahwa doktrin mereka adalah doktrin yang
“mengerikan,” (Calvin sendiri menyebutnya “horrible decree” dalam Institutes of the Christian Religion.)
namun merasa terpaksa untuk memegangnya karena mereka berpikir bahwa Alkitab
mengajarkannya. Salah satu contohnya adalah Kisah Rasul 13:48. Tetapi Alkitab tidak ada mengajar
UE, baik di perikop ini atau perikop lain manapun.
Pertama, mari kita lihat lagi ayat yang dimaksud, sebagaimana tertera dalam Alkitab versi
Indonesia Terjemahan Baru (ITB):
Mendengar itu bergembiralah semua orang yang tidak mengenal Allah dan mereka
memuliakan firman Tuhan; dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal,
menjadi percaya.
Nanti akan segera kita singkapkan bahwa terjemahan ini tidaklah tepat, dan menambahkan
elemen-elemen yang tidak ada dalam bahasa aslinya. Namun demikian, kalaupun kita mengizinkan
Kalvinis untuk memakai versi terjemahan ini, dan membiarkan mereka berasumsi bahwa penentuan
yang dimaksud di sini adalah suatu Pemilihan/Predestinasi yang terjadi dalam kekekalan, ayat ini
pun masih tidak bisa membuktikan klaim mereka tentang Unconditional Election. Dengan kata lain,
kalaupun kita mengalah kepada Kalvinis dan tidak mau mendebatkan kata-kata yang dipakai di sini,
tetap saja doktrin UE tidak bisa dibuktikan. Bagaimana demikian? Coba kita lihat.
Ayat ini hanya mengatakan bahwa ada orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal.
Sama sekali tidak dikatakan kapan penentuan ini terjadi, dan sama sekali tidak dikatakan bahwa
penentuan ini terjadi tanpa syarat atau tanpa melihat kondisi. Dari sini saja, poin Unconditional
Election sudah gagal dibuktikan. Ingat, Alkitab memang mengajarkan Election, tetapi tidak
mengajarkan Unconditional Election.
Lalu, bagaimana dengan frase selanjutnya: menjadi percaya. Bukankah ayat ini mengajarkan
bahwa orang menjadi percaya karena ia telah ditentukan Allah? Bukankah ini membuktikan bahwa
Kalvinis benar, bahwa percaya atau tidaknya manusia adalah tergantung penentuan Allah?
Itu memang salah satu kemungkinan kesimpulan dari kalimat ini. Tetapi ada konsekuensi
dari kesimpulan yang demikian. Kesimpulannya adalah bahwa percaya kepada Tuhan bukan lagi
tanggung jawab manusia, melainkan sesuatu yang di luar kendali manusia itu. Jika ia seorang
pilihan, maka ia akan percaya. Jika ia bukan orang pilihan, ia tidak akan percaya. Tanggung jawab
justru ada pada Tuhan yang memilih. Jika seseorang tidak percaya kepada Tuhan, maka itu karena
ia tidak dipilih. Jika Kalvinis nyaman dengan konsekuensi ini, mereka dipersilahkan untuk lanjut
dalam doktrin mereka, namun saya yakin bahwa setiap orang yang menyelidiki ini dengan kritis
tidak akan nyaman.
Oleh sebab itu, masih ada kemungkinan kesimpulan lain. Kesimpulan lain itu adalah bahwa
kalimat ini bukan sedang menyatakan hubungan kausal antara klausa pertama (ditentukan Allah)
dengan klausa kedua (menjadi percaya). Dua klausa yang dihubungkan dalam satu kalimat, tidak
harus memiliki hubungan kausal. Misal: Pada tahun 2012, semua peserta pilgub Jakarta yang
memakai baju kotak-kotak, memilih Jokowi dan Ahok. Sama sekali tidak dapat disimpulkan bahwa
karena seseorang memakai baju kotak-kotak, maka ia memilih Jokowi-Ahok. Malah, dinamika yang
terjadi kemungkinan besar adalah orang tersebut memang sudah punya niat untuk memilih Jokowi-Ahok, sehingga ia memakai baju kotak-kotak (yang waktu itu adalah ciri khas pasangan cagub
tersebut).
Jadi, Kis. 13:48, bahkan tanpa mempermasalahkan terjemahan yang salah sekalipun, tidak
menggugurkan Pemilihan yang Bersyarat (Conditional Election), dengan dasar iman. Ayat ini hanya
sekedar menegaskan bahwa apa yang Allah sudah ketahui dari kekekalan, yaitu bahwa orang-orang
tertentu akan percaya kepada PutraNya yang Ia tetapkan menjadi jalan keselamatan, dan yang
berdasarkan pra-pengetahuan itu, telah Allah tentukan untuk hidup yang kekal, bahwa mereka pada
saat mendengar Injil, menjadi percaya, sesuai dengan apa yang Allah sudah ketahui itu.
Jadi, dengan mengalah penuh kepada rangkaian kata-kata yang condong kepada pihak
Kalvinis sekalipun, ayat ini gagal untuk membuktikan Unconditional Election. Sekarang coba kita
lihat, bagaimana bunyi ayat ini sebenarnya dalam bahasa aslinya, dan jika dilihat dari konteks ayat-
ayat sebelumnya.

Mendengar itu bergembiralah semua orang yang tidak mengenal Allah dan mereka
memuliakan firman Tuhan; dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang
kekal, menjadi percaya (ITB) Kis. 13:48

And when the Gentiles heard this, they were glad, and glorified the word of the Lord:
and as many as were ordained to eternal life believed. (KJV) Act 13:38

ἀκούοντα δὲ τὰ ἔθνη ἔχαιρον, καὶ ἐδόξαζον τὸν λόγον τοῦ Κυρίου, καὶ
ἐπίστευσαν ὅσοι ἦσαν τεταγμένοι εἰς ζωὴν αἰώνιον. (TR) Acts 13:48

Ada tiga kata yang perlu dicermati lebih teliti dari ayat ini:
1. Kata “Allah” ternyata ditambahkan. Dalam KJV, merefleksikan teks asli Yunani, tidak ada kata
“Allah” di ayat ini.
2. Frase “semua orang yang tidak mengenal Allah” sebenarnya adalah “bangsa-bangsa” (non-
Yahudi), berasal dari kata Yunani ethne.
3. Kata “ditentukan” berasal dari kata tetagmenoi, yang perlu diperdalam lagi.
Sebelumnya, mari kita telusuri konteks perikop, mulai dari ayat 42. Karena pembaca artikel ini
adalah orang Indonesia, saya akan tetap kutipkan dari LAI, dengan catatan seperlunya.

Kisah Rasul 13:42-48

42 Ketika Paulus dan Barnabas keluar, mereka diminta untuk berbicara tentang pokok itu pula pada hari
Sabat berikutnya. 43 Setelah selesai ibadah, banyak orang Yahudi dan penganut-penganut agama Yahudi
yang takut akan Allah, mengikuti Paulus dan Barnabas; kedua rasul itu mengajar mereka dan menasihati
supaya mereka tetap hidup di dalam kasih karunia Allah. 44 Pada hari Sabat berikutnya datanglah hampir
seluruh kota itu berkumpul untuk mendengar firman Allah. 45 Akan tetapi, ketika orang Yahudi melihat
orang banyak itu, penuhlah mereka dengan iri hati dan sambil menghujat, mereka membantah apa yang
dikatakan oleh Paulus. 46 Tetapi dengan berani Paulus dan Barnabas berkata: “Memang kepada kamulah
firman Allah harus diberitakan lebih dahulu, tetapi kamu menolaknya dan menganggap dirimu tidak layak
untuk beroleh hidup yang kekal. Karena itu kami berpaling kepada bangsa-bangsa lain. 47 Sebab inilah
yang diperintahkan kepada kami: Aku telah menentukan engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa yang
tidak mengenal Allah, supaya engkau membawa keselamatan sampai ke ujung bumi.” 48 Mendengar itu
bergembiralah semua orang yang tidak mengenal Allah dan mereka memuliakan firman Tuhan; dan semua
orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya.

Paulus dan Barnabas berada di kota Antiokhia Pisidia waktu itu (ay. 14), dan pada hari Sabat
mereka berkhotbah di Sinagoge orang Yahudi. Isi khotbah Paulus, sebagaimana tercatat di ayat 16
sampai ayat 41, adalah memperkenalkan Yesus Kristus yang mati dan dibangkitkan sebagai
penggenapan pengharapan dalam Perjanjian Lama. Tentunya terkandung dalam khotbah ini suatu
ajakan untuk percaya kepada Yesus yang diberitakan tersebut. Reaksi terhadap khotbah Paulus ini
dicatat mulai dari ayat 42.
Pertama, Paulus diundang untuk kembali berbicara pada Sabat berikut (ay. 42). Kemudian,
kita diberitahu di ayat 43, bahwa ternyata ada sebagian orang Yahudi dan orang non-Yahudi (yang
disebut sebagai penganut-penganut agama Yahudi, yaitu kaum proselyte, atau petobat ke dalam
Yahudi) yang menerima positif kabar baik tentang Yesus Kristus ini, dan sudah menjadi percaya.
Dari mana kita tahu mereka sudah percaya? Karena teks mengatakan bahwa Paulus menasihati
mereka untuk “tetap hidpu di dalam kasih karunia Allah” (ay. 43). Jadi, sejumlah orang Yahudi dan
non-Yahudi, sudah menjadi percaya pada Sabat pertama ini.
Kemudian, pada Sabat selanjutnya, sebagaimana dinyatakan dalam ayat 44 dan 45, ada
banyak sekali orang non-Yahudi yang tertarik dan ikut datang, yang menimbulkan kecemburuan
dalam hati orang-orang Yahudi. Dalam pemikiran mereka, mestinya bangsa-bangsa lain ini
dimenangkan menjadi orang Yahudi, bukan orang Kristen. Dalam pemahaman Yahudi waktu itu,
“Kristen” adalah sebuah sekte dalam Yahudi, dan tidak seharusnya “mengalahkan” Yahudi yang
pokok. Tentu mereka sangat tidak senang dengan kebenaran yang Paulus ajarkan bahwa
keselamatan disediakan bagi semua bangsa, bukan hanya bangsa Yahudi saja. Maunya mereka
adalah menjadikan semua orang itu Yahudi. Akibatnya, mereka malah membantah apa yang Paulus
ajarkan, padahal Paulus mengajar dari Perjanjian Lama juga.
Ayat 46 sangat penting untuk memahami ayat 48. Paulus dan Barnabas dengan berani
menegor gerombolan Yahudi yang iri hati itu: “kamu menolaknya [Firman Allah] dan menganggap
dirimu tidak layak untuk beroleh hidup yang kekal. Karena itu kami berpaling kepada bangsa-
bangsa lain.” (ay. 46). Vonis Paulus bagi orang-orang Yahudi yang tegar tengkuk ini adalah: mereka
menganggap diri sendiri tidak layak untuk hidup yang kekal. Dan, oleh karena itu Paulus berpaling
kepada bangsa-bangsa lain. Frase bangsa-bangsa lain di sini adalah dari kata Yunani ethne, kata
yang persis sama dengan di ayat 48.
Di ayat 47, Paulus mengutip Yesaya dalam Perjanjian Lama untuk menegaskan bahwa
keselamatan dari Tuhan tidak terbatas pada orang Yahudi saja, tetapi juga adalah untuk bangsa-
bangsa lain. Frase “yang tidak mengenal Allah” adalah tafsiran tambahan LAI, karena kata yang
dipakai adalah persis kata ethne itu juga. Paulus menegaskan bahwa seseorang tidak perlu menjadi
Yahudi untuk diselamatkan.
Mendengar penegasan kabar baik ini, maka bangsa-bangsa non Yahudi sangat bergembira
(ay. 48). Frase “semua orang yang tidak mengenal Allah” di ayat 48 seharusnya adalah “bangsa-
bangsa lain” saja, karena sekali lagi berasal dari kata ethne yang sudah muncul di ayat 46 dan 47.
Ingat bahwa sebagian mereka sudah menjadi percaya sejak Sabat yang lalu, sebagaimana dijelaskan
di ayat 43, jadi adalah kesalahan penafsiran untuk mengatakan mereka ini semuanya “tidak
mengenal Allah.”
Lalu, masuklah kita kepada inti dari perikop ini, yaitu klausa “semua orang yang ditentukan
Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya.” Pertama, tidak ada kata “Allah” sama sekali di
kalimat ini. Ini adalah penambahan yang terlalu lancang yang dilakukan oleh LAI. Penerjemah
seharusnya menerjemahkan secara tepat, bukan memberikan penafsiran ketika kalimat bisa
sepenuhnya dipahami tanpa penambahan penafsiran tertentu. Memang, “ditentukan Allah” adalah
salah satu kemungkinan penafsiran, tetapi jelas bukan satu-satunya, dan juga barangkali bukan
penafsiran terbaik, walaupun sudah kita bahas di depan bahwa sekalipun kita mengalah kepada
Kalvinis dan membiarkan kata “Allah” muncul di sini, toh tidak membuktikan doktrin UE mereka.
Tetapi, seperti akan kita lihat berikut ini, konteks dan penelitian yang cermat terhadap grammar
Yunani, mengindikasikan sesuatu yang berbeda.
Kedua, kata yang dipakai untuk “ditentukan” adalah kata tetagmenoi, yaitu bentuk Perfect
Middle Participle Maskulin Plural Nominatif dari kata tasso. Kata tasso sendiri memiliki arti “to
arrange, to set, to appoint” (Mounce Greek Dictionary), atau dalam bahasa Indonesia, bisa diartikan
“mengatur, memposisikan, menunjuk, menentukan.” Satu hal yang jelas, ini bukanlah kata yang
diharapkan oleh Kalvinis muncul di ayat ini untuk mendukung doktrin Unconditional Predestination
/ UE. Ayat yang dipakai oleh Alkitab untuk menyatakan predestinasi adalah kata pro-orizo yang
muncul 6 kali dalam Alkitab, sebagai contoh dalam Efesus 1:5. (Having predestinated us unto the adoption of children by Jesus Christ to himself, according to the good pleasure of
his will (KJV). Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-
Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya (ITB)
Predestinasi berarti telah menentukan “destinasi” atau tujuan akhir seseorang, sejak
sebelumnya (prefiks pre), dan ini memang adalah terjemahan yang baik dari kata pro-orizo yang
juga memiliki prefiks pro yang mengindikasikan suatu waktu sebelum. Sebaliknya, dalam Kisah
Rasul 13:48, kata yang dipakai adalah kata tasso, bukan pro-orizo. Tasso muncul 8 kali dalam
Perjanjian Baru, dan tidak pernah mengacu kepada Predestinasi sejak kekekalan.
Lebih menarik lagi adalah fakta bahwa tasso dalam Kis. 13:48 adalah dalam bentuk Middle.
Apa itu Middle? Middle adalah suatu jenis voice (diatesis) dalam bahasa Yunani, yang berada di
“tengah” antara Aktif dan Pasif. Jika kalimat Aktif berarti subjek adalah pelaku aksi (Budi memukul
adik), dan kalimat Pasif berarti subjek sebagai yang terkena aksi (adik dipukul oleh Budi), maka
kalimat Middle adalah ketika subjek berperan sebagai pelaku aksi sekaligus yang terkena aksi.
Contoh voice Middle dalam Yunani adalah: Budi memukul dirinya sendiri. Jadi, Budi adalah pelaku
aksi, sekaligus yang terkena aksi.
Dengan demikian, berdasarkan voice Middle dari kata tasso, Kisah 13:48 bisa saja berbunyi:
“Mendengar itu, bergembiralah bangsa-bangsa bukan Yahudi dan mereka memuliakan Firman
Tuhan, dan semua orang yang telah memposisikan diri mereka untuk hidup yang kekal, menjadi
percaya.” Terlihat di sini bahwa penambahan kata “Allah” oleh LAI adalah suatu penafsiran yang
tidak dapat dibenarkan, karena kata tasso berada dalam bentuk Middle, dengan subjek sebagai
pelaku aksi sekaligus yang terkena aksi. Bangsa-bangsa lain yang “telah memposisikan diri sendiri”
untuk hidup yang kekal adalah mereka yang menanggapi positif pesan Injil yang Paulus beritakan,
bahkan sejak Sabat yang sebelumnya. Ingat bahwa pada Sabat yang sebelumnya, Paulus sudah
berkhotbah, dan sudah ada orang non-Yahudi yang merespons positif pesan Injil. Mereka ini bisa
dihitung sebagai orang-orang yang “telah memposisikan diri sendiri untuk hidup yang kekal,”
karena mereka telah meresponi Injil secara positif. Ketika Paulus menegaskan Injil lagi di Sabat
yang satu ini, terutama dengan penjabaran dari Perjanjian Lama bahwa seseorang tidak perlu
menjadi Yahudi untuk diselamatkan, dan bahwa keselamatan juga terbuka untuk bangsa-bangsa
non-Yahudi, mereka bergembira dan mempercayai apa yang Paulus katakan tersebut!
Tetapi tunggu dulu. Kaum Kalvinis akan berargumen bahwa walaupun bentuk Middle sering
dipakai dalam Yunani Klasik, tetapi pada abad pertama, bahasa yang dipakai dalam Alkitab adalah
Yunani Koine. Dan dalam Yunani Koine, arti Middle sudah jarang dipakai, dan bentuk Middle
sering diartikan sebagai Pasif. Namun, walaupun benar bahwa pemakaian Direct Middle dalam
Yunani Koine tidak lagi sesering dalam Yunani Klasik, namun konsep Middle jelas masih ada dalam
Yunani Koine, dan ada dipakai dalam Perjanjian Baru. Kita percaya bahwa Allah menginspirasikan
Firmannya secara Verbal Plenary, artinya secara keseluruhan, dan juga kata per kata. Ada alasan mengapa Roh Kudus memakai bentuk Middle di sini. Walaupun bentuk Middle bisa dipakai dalam
pengertian Pasif juga, konteks harus menentukannya.
Konteks Kisah Rasul 13:48 sangat mendukung pemakaian Middle ini, terutama karena
adanya kalimat paralel di ayat 46. Kita membaca di ayat, Paulus menyatakan:

Memang kepada kamulah firman Allah harus diberitakan lebih dahulu, tetapi kamu
menolaknya dan menganggap dirimu tidak layak untuk beroleh hidup yang kekal. (ay.
46)
Orang Yahudi menolak Firman Allah, dan dengan itu menganggap diri mereka sendiri
(ini menyatakan arti Middle dengan menggunakan kata kerja Aktif + Refleksif
Pronoun) tidak layak untuk hidup yang kekal.
Mendengar itu, bergembiralah bangsa-bangsa bukan Yahudi dan mereka memuliakan
Firman Tuhan, dan semua orang yang telah memposisikan diri mereka untuk hidup
yang kekal, menjadi percaya. (ay. 48, terjemahan sendiri)
Orang non-Yahudi memulikan Firman Allah, dan dengan itu memposisikan diri mereka
sendiri (ini benar-benar memakai bentuk Middle) untuk hidup yang kekal.

Jadi, berdasarkan paralel di ayat 46, jelas bahwa kata tasso di ayat 48, yang memiliki bentuk
Middle, cocok diartikan sebagai Middle sejati. Orang Yahudi menolak Firman Allah, menganggap
diri sendiri tidak layak untuk hidup yang kekal. Orang-orang non-Yahudi menerima Firman Allah,
dan memposisikan diri untuk hidup yang kekal.
Perhatikan juga kata “semua” di ayat 48. Jadi, yang “menjadi percaya” adalah semua yang
telah memposisikan diri tersebut. Jika tasso dianggap Predestinasi tanpa syarat sejak kekekalan,
maka Kalvinis harus juga percaya bahwa semua orang yang tidak percaya pada hari itu (baik Yahudi
maupun non-Yahudi), berarti tidak termasuk dalam kelompok kaum Pilihan Unconditional, dan
berarti tidak akan pernah bisa percaya seumur hidup mereka. Artinya kalau Kalvinis benar, semua
yang bisa selamat dari kelompok ramai yang hadir hari itu, sudah langsung selamat, dan sisanya
tidak akan pernah bisa selamat. Berarti bagi orang-orang di sinagog itu pada hari itu, yang sebagian
besarnya baru pertama kali mendengar Injil, hanya ada satu kesempatan itu untuk diselamatkan.
Saya yakin kesimpulan ini terlalu jauh bahkan bagi Kalvinis sekalipun, dan mengindikasikan bahwa
penafsiran mereka salah.
Sebagai kesimpulan, pengajaran perikop ini BUKANLAH bahwa ada sebagian orang yang
sudah Tuhan tentukan sejak kekekalan untuk hidup kekal, dan lalu orang-orang ini Tuhan atur untuk
menjadi percaya. Jika itu pengajarannya, maka tidak ada aplikasi yang berguna bagi kita atau
siapapun, karena tidak ada tanggung jawab apapun pada manusia dalam hal keselamatan. Tetapi,
sebenarnya perikop ini mengajarkan bahwa jika kita menerima Firman Tuhan, maka kita
memposisikan diri untuk hidup yang kekal melalui iman percaya kepada Yesus Kristus, bukan
karena kehebatan kita, tetapi karena karyaNya yang sempurna. Sebaliknya, jika kita menolak
Firman Tuhan, maka kita menganggap diri kita tidak layak bagi keselamatan. Iman timbul dari
pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus (Roma 10:17).

By: Dr. Steven Liauw, D.R.E., Th.D

Konsekuensi Kehendak bebas

Matius 11:20-24 (TB) Lalu Yesus mulai mengecam kota-kota yang tidak bertobat, sekalipun di situ Ia paling banyak melakukan mujizat-mujizat-Nya: “Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! Karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung. Tetapi Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan Tirus dan Sidon akan lebih ringan dari pada tanggunganmu. Dan engkau Kapernaum, apakah engkau akan dinaikkan sampai ke langit? Tidak, engkau akan diturunkan sampai ke dunia orang mati! Karena jika di Sodom terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, kota itu tentu masih berdiri sampai hari ini. Tetapi Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan negeri Sodom akan lebih ringan dari pada tanggunganmu.”

 

1. Pernahkah Anda merenungkan ayat-ayat di atas? Mengapa Tuhan tidak kasih porsi mujizat yang sama untuk semua orang, kalau Ia tahu bahwa porsi yang lebih PASTI membuat mereka bertobat?

Lanjutkan membaca “Konsekuensi Kehendak bebas”

Tuhan meninggalkan Tuhan? 

Matius 27:46 (TB) Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eli, Eli, lama sabakhtani?” Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? 

Orang-orang Kristen sering sekali diejek perihal doktrin tritunggal. Salah satu nas yang sering dipakai ialah Matius 27:46 ini. Kemudian mereka berkata, “kok, Tuhan meninggalkan Tuhan?”  Lanjutkan membaca “Tuhan meninggalkan Tuhan? “

​Konsep Keselamatan Yang Salah

Matius 19:16  Ada seorang datang kepada 

Yesus, dan berkata: “Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?”
Ada cukup banyak orang Kristen yang mengimani bahwa untuk masuk sorga itu cukuplah dengan melakukan kebaikan, rajin kebaktian, rajin ibadah, tidak menghakimi orang lain dan pengajarannya; kalau soal siapakah Tuhan yang disembah, itu tidak terlalu masalah, sebab Tuhan itu satu, baik orang Kristen, Islam, Budha, bahkan orang tak ber-Tuhan namun baik.

Lanjutkan membaca “​Konsep Keselamatan Yang Salah”

​Para pembaptis bayi harusnya percaya ke sorga boleh boncengan

Image result for wali baptisSemua agama umumnya setuju bahwa ke surga tidak bisa secara boncengan. Oleh karena itu, tidak jarang kita mengingatkan saudara kita atau anak-anak kita agar mereka bersungguh-sungguh beribadah. Bahkan, seringkali ketika kita berdiskusi dengan teman kita, dan ternyata konsep keselamatan yang kita anut berbeda dengan yang dia percayai, kita berkata: “imanmulah yang menyelamatkanmu.” Semua pernyataan-pernyataan tersebut lahir dari suatu pemahaman bahwa ke surga tidak boleh secara boncengan.  Lanjutkan membaca “​Para pembaptis bayi harusnya percaya ke sorga boleh boncengan”