Menaruh pengharapan pada Yesus yang akan segera mati

1 Korintus 1:18 (TB) Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah

Umumnya orang hanya akan menaruh harapan pada orang lain, saat orang itu mulai kuat atau berhasil. Tak ada orang yang terlalu bodoh untuk berharap pada orang yang sebentar lagi akan mati. Tapi, seorang penjahat di samping Yesus justru menaruh pengharapannya pada Yesus, di saat Yesus berada pada
titik terendah kehidupanNya sebagai manusia.

Lanjutkan membaca “Menaruh pengharapan pada Yesus yang akan segera mati”

TEATER

Sebab, menurut pendapatku, Allah memberikan kepada kami, para rasul, tempat yang paling rendah, sama seperti orang-orang yang telah dijatuhi hukuman mati, sebab kami telah menjadi tontonan bagi dunia, bagi malaikat-malaikat dan bagi manusia, (1Korintus 4:9)

Tontonan 

Merenungkan arti kata tontonan/teatron (teater) secara mendalam membuat hati menjadi bergetar; betapa tidak, menurut kisah para martir abad permulaan, seorang Kristen yang tidak mau menyangkali imannya akan dihukum dengan cara dimasukkan ke sebuah panggung yang diisi binatang buas yang kelaparan. Hal itu menjadi tontonan/teater bagi para penonton. Para martir akan perlahan-lahan dicakar oleh kuku-kuku singa, beruang, dll., sampai menemui ajal sebagai sebuah tontonan. Para rasul telah memberi teladan “sama seperti orang-orang yang telah dijatuhi hukuman mati” yang terus memperjuangkan pemberitaan Injil hingga dijatuhi hukuman mati. 

Menurut kisah sejarah, seluruh rasul mati martir, kecuali rasul Yohanes yang dibuang di pulau Patmos. Itupun, rasul Yohanes sudah mengalami percobaan hukuman mati dengan cara direbus dengan minyak panas. Kesanggupan para martir “menikmati” ayat ini adalah menduduki “tempat yang paling rendah,” Ya…! tempat dimana kesombongan “dilarang,” sebuah kursi bernama “kerendahan hati.”


Para Penonton 

Tribun sebelah “kiri” dipenuhi oleh para penguasa dunia, yaitu Iblis. Ia penuh kesombongan, puas, dan tak berbelas kasihan selayaknya kaisar dan para pengikutnya yang telah menjatuhi hukuman mati para martir Kristen dan menjadikannya tontonan di panggung teater. Mereka akan bersorak kegirangan jika menyaksikan kesusahan, penderitaan, erangan, bahkan jeritan orang orang percaya. 

Tribun sebelah “kanan” dipenuhi oleh para malaikat yang penuh ketundukan dan penuh dengan kerendahan hati. Fakta tersebut terbukti pada kasus perebutan mayat Musa (Yudas 9). Mikael, yang adalah malaikat penghulu (malaikat perang) dengan taat dan rendah hati berkata kepada Iblis yang hanya sebagai malaikat “pemusik”(Yes.14:11) dengan berkata: “…kiranya Tuhan menghardik engkau!” Di tribun ini para penonton akan sangat bersukacita apabila dalam kesulitan, penderitaan, jeritan kesakitan, bahkan ancaman maut namun Injil terus diberitakan. Mengapa? Sebab, malaikat-malaikat sedang “kuliah” dengan serius kepada para pemberita Injil (I Petrus 1:12). Kata epithumousin adalah present active dari epitumeo yang berarti sedang sungguh-sungguh. Sungguh-sungguh apa? Sungguh-sungguh menyaksikan sesuatu yang tidak pernah dialami oleh malaikat-malaikat. Ya, sungguh-sunghuh memperhatikan pekerjaan penginjilan itu, sebab tidak ada malaikat yang menginjili malaikat. Di sisi lain, manusia yang sudah lahir baru harus menginjili sesamanya. Inilah yang tidak dipunyai para malaikat. Itulah sebabnya, ketika seseorang bertamu ke rumah sesamanya untuk memberitakan Injil, atau bahkan memberi seseorang tumpangan, sepasukan malaikat sebenarnya juga ikut bertamu ke rumah orang tersebut.

Jangan kamu lupa memberi tumpangan kepada orang, sebab dengan berbuat demikian beberapa orang dengan tidak diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat. (Ibrani 13:2).  

Jika seseorang menolak si pemberita Injil, sebenarnya ia bukan hanya menolak seorang penginjil dan Tuhan, tetapi juga mengusir sepasukan malaikat. Renungkan baik-baik hal itu. Ketahuilah, jika kita berkorban semampu kita untuk pemberitaan Injil, maka serombongan malaikat pasti akan berdecak kagum.

Tribun sebelah “tengah” dipenuhi oleh para penonton yang disebut “manusia.” Mereka terombang ambing, galau, dan penuh kebimbangan. Ada sebagian memihak pada Iblis, dengan teriakan-teriakan dan yel-yelnya meneriakkan: “…mampuslu!,” “…syukurin!,” “…rasain!, makanya jadi orang jangan terlalu ekstrim!, ngajarinnya keras-keras, tau rasa sekarang! Ngerasa benar sendiri sih! Selalu bicara Alkitabiah, Alkitabiah apaan! 

Sebagian ada yang setuju dengan mereka yang dipertontonkan. Kelompok itu berada pada tribun sebelah “kanan,” dan berkata: “Aku akan teruskan perjuangan mereka! Aku mau seperti mereka! Aku mau Alkitabiah! Aku mau datang ke Pendalaman-pendalaman Alkitab yang Alkitabiah! Aku akan meninggalkan pengajaran “Kristen”duniawi! Bagaimana aku bisa seperti mereka jika ajaranku “sukses” duniawi terus?!”
Tempat Terendah 

Dalam sebuah teater penyiksaan, biasanya panggungnya berada di tempat terendah dan dikelilingi oleh tempat duduk yang tersusun berundak ke atas. Di panggung terendah inilah tempat segala kehinaan, cercaan, caci maki ditujukan. Artinya teater ini diperankan oleh orang yang penuh kerendahan hati dan ketaatan kepada Tuhan. Kalau tidak rendah hati dan taat, tentu tidak sampai di panggung teater itu. Biasanya, pengadilan akan menawarkan opsi penyangkalan iman untuk menghindari panggung teater ini. Membayangkan dan merenungkan…mutu kekristenan sekarang (mudah-mudahan tidak demikian), “Keluar produksi mobil mewah terbaru, berbondong-bondong orang Kristen menggantinya. Berdiri rumah-rumah mewah dengan fasilitas yang serba wah orang-orang Kristen rela antri mengambil formulir mendapatkannya.” Bahkan ada yang rela mencicil hingga belasan bahkan puluhan tahun! Padahal, ia tidak tahu, besoknya bisa saja dia dipanggil Tuhan. Gaya bergereja zaman sekarang yang bikin geleng-geleng kepala, berdandan bak artis, bermusik bak artis, berkata bahwa penderitaan itu kutuk dan harus ditolak dalam nama Yesus, usaha bangkrut itu kerjaan Iblis, kaya itu berkat Tuhan karena Tuhan Mahakaya katanya, sukses duniawi dan serakah, selalu terhimpit kuatir dan merasa kurang terus…duit lagi…duit lagi…berkat ditujukan pada duit…sukses ditujukan pada duit…rajin berdoa ditujukan pada duit…di mimbar berdoa: “pelanggan lama tetap belanja, pelanggan baru berdatangan,”…duit lagi… dibukakan tingkap-tingkap langit supaya dikasih duit, …Ohhhh…ohhhh… mutu kekristenan seperti ini tidak akan tampil dipanggung teater. Baru saja mendengar auman singa, sudah lari terbirit-birit, padahal singanya belum dilepas. Apa reaksi penonton di tribun sebelah kiri? Mereka akan bersorak kegirangan. Ya! Iblis akan merasa senang dengan semua kejadian itu. 
I am nothing

Saya bukan siapa-siapa  adalah tema hidup orang percaya. Jadikan aku alat-Mu, karena aku terbuat dari debu yang Engkau beri jiwa dan roh. Aku bukan terbuat dari debu emas. Hilangkan kesombonganku Tuhan, ajari aku menyangkal diri dan memikul salibku, jauhkan aku dari segala bentuk kemewahan dunia, cukupkan keperluanku dan jangan kabulkan “keinginan”ku. 

Banyak tingkah polah orang-orang percaya yang membuat penonton tribun sebelah “kanan” kecewa dan tidak memberi kesaksian yang baik bagi penonton di tribun sebelah “tengah.” Gelar dipasang berderet-deret, tapi ngepel lantai tempat kebaktian menolak. Bergaya hidup mewah dan suka akan kemegahan dunia. Sudah dilimpahkan mobil Grandmax, minta ganti Mercy, dll. Kamar mandi dipasang marmer yang harganya cukup untuk menyokong puluhan pemberita Injil, ohhh… Saya bukan siapa-siapa… tubuh saya akan dikembalikan ke asalnya menjadi debu, duit, rumah, mobil akan “dilarang” dibawa masuk ke sorga. (Segeralah Tuhan datang).
Ditulis oleh: Gbl. Firman Legowo. Diedit oleh Ev. Marudut Tua Sianturi.