Tanggapan Ev. Marudut Tua Sianturi untuk tulisan Pdt. Samuel T. Gunawan yang berjudul, Apakah Iblis Aktif Memberitakan Injil?

A. Pendahuluan

Tulisan Pdt. Samuel T. Gunawan (STG) yang berjudul APAKAH IBLIS AKTIF MEMBERITAKAN INJIL? yang berisi tanggapannya terhadap artikel Gbl. Dance S. Suat yang berjudul IBLIS AKTIF MEMBERITAKAN INJIL, sebenarnya bukan barang baru lagi bagi saya atau baru saya baca. Tapi, saya sengaja mengabaikannya, karena menurut saya isinya tidak terlalu bagus. Mengapa saya katakan tidak terlalu bagus? Ya, karena poin-poin yang ia serang sebenarnya hal yang remeh-temeh yang sangat mudah dibantah! Isi dalam tulisannya terkesan dibesar-besarkan dan bahkan ia menafsir sendiri apa yang tidak dimaksud Gbl. Dance (STG memaknai tulisan Gbl. Dance, tentang kata Injil bahwa istilah itu hanya punya satu makna saja dan pasti Injil yang benar. Nyatanya Gbl Dance sebut itu kamuflase dan Injil yang palsu) dan kemudian menyerang tafsiran itu, yang ia anggap dianut Gbl. Dance. Sehingga, bisa disimpulkan, STG menyerang suatu konsep yang TIDAK dianut oleh Gbl. Dance, kemudian menyerang konsep yang TIDAK dianut oleh Gbl. Dance itu. Aneh bukan? Makanya, saya abaikan saja setelah membacanya beberapa waktu yang lalu.

Lanjutkan membaca “Tanggapan Ev. Marudut Tua Sianturi untuk tulisan Pdt. Samuel T. Gunawan yang berjudul, Apakah Iblis Aktif Memberitakan Injil?”

Tuhan sudah beri kesempatan yang cukup

Matius 11:21, 23 (TB) “Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! Karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung. Dan engkau Kapernaum, apakah engkau akan dinaikkan sampai ke langit? Tidak, engkau akan diturunkan sampai ke dunia orang mati! Karena jika di Sodom terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, kota itu tentu masih berdiri sampai hari ini.

Allah kita itu Allah yang kasih, adil dan tahu segala kemungkinan yang akan terjadi. Oleh karena kasih dan keadilan itu pula, Ia harus mengasihi semua ciptaanNya dan berlaku adil. KasihNya tentu akan mengapresiasi semua yang baik dan keadilanNya akan menindak segala kecurangan dan kebebalan.

Teks di atas menunjukkan kasih sekaligus keadilan Tuhan. Kok bisa? Ya! Karena sebelum Allah hendak menghukum kota Khorazim, Betsaida, dan Kapernaum, Ia sudah terlebih dahulu memberi mereka kesempatan untuk bertobat dan merasakan hal-hal baik dari Allah. Bahkan, kota-kota yang telah ditunggangbalikkan Tuhan, seperti Tirus, Sidon, Sodom dan Gomora juga telah merasakan kesempatan pertobatan dari Tuhan. Hanya saja, mereka tidak memberi perhatian dan respon yang baik terhadap peringatan-peringatan itu. Akhirnya, hukuman pun dijatuhkan.

Mungkin, kita bisa saja bertanya-tanya dalam hati: “mengapa Tuhan tidak memberi saja mujizat-mujizat super dahsyat ke kota Tirus dan Sidon, Sodom dan Gomora, agar mereka tobat? Bukankah Tuhan tahu bahwa orang-orang di kota itu pasti tobat kalau Tuhan mengintervensi dengan lebih lagi?” Hmmm, ini adalah pertanyaan wajar dan normal dari pihak kita sebagai manusia dan ciptaanNya.

Sebagai orang Kristen, kita tentu tahu bahwa Allah tidak bertindak secara serampangan. Ia tentu sudah melakukan yang terbaik untuk setiap peristiwa, termasuk saat tidak memberi mujizat super dahsyat ke kota-kota yang dihukum Tuhan itu. Bagi saya, setelah mempelajari topik ini, kemungkinan jawaban yang paling baik untuk pertanyaan di atas adalah bahwa Tuhan telah memiliki kadar (ukuran) tersendiri yang cukup bagi setiap individu untuk merespon peringatan-peringatan yang Tuhan berikan. Porsi peringatan itu tentu sangat variatif, bisa saja ke orang yang satu peringatanNya perlu puluhan kali, tetapi ke orang yang lain cukup satu atau dua kali. Intinya, peringatan itu cukup! Sama halnya ketika siswa di dalam satu kelas memiliki tingkat penerimaan pengajaran yang berbeda. Beberapa siswa bisa saja segera faham hanya dengan satu atau dua kali penjabaran, tetapi beberapa siswa lagi masih perlu lima atau sepuluh kali penjabaran dan contoh kasus baru bisa mengerti. Kira-kira, seperti itulah kasih dan keadilan Tuhan itu bekerja bagi orang-orang Tirus, Sidon, Sodom, dan Gomora. Hanya saja, sangat di sayangkan bahwa kota-kota itu tidak mau tobat sampai di batas kecukupan penalaran mereka terhadap peringatan Tuhan. Maka itu, mereka akan dihukum secara variatif juga.

Jadi, bagaimana dengan kita secara pribadi? Apakah kita sudah memberi respon yang baik terhadap peringatan firman Tuhan yang kita terima? Peringatan dan ajakan Tuhan untuk bertindak benar dan bertobat dari hal-hal yang salah bisa datang dari mimbar gereja lewat khotbah, bisa juga lewat pembacaan firmanNya secara pribadi, bisa juga lewat uraian firman Tuhan melalui media sosial atau bahkan kehidupan pribadi lepas pribadi. Jadi, apakah kita sudah berusaha mengubah pola pikir dan pandangan kita ke arah yang lebih baik setelah menerima kebenaran? Ketahuilah, ada saatnya peringatan, ajakan dan kesempatan dari Tuhan itu berkata sudah cukup dan kita akhirnya sadar bahwa kita sudah terlambat dan menyia-nyiakannya. Renungkanlah.

Ev. Marudut Tua Sianturi, M. Div.

Konsekuensi Kehendak bebas

Matius 11:20-24 (TB) Lalu Yesus mulai mengecam kota-kota yang tidak bertobat, sekalipun di situ Ia paling banyak melakukan mujizat-mujizat-Nya: “Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! Karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung. Tetapi Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan Tirus dan Sidon akan lebih ringan dari pada tanggunganmu. Dan engkau Kapernaum, apakah engkau akan dinaikkan sampai ke langit? Tidak, engkau akan diturunkan sampai ke dunia orang mati! Karena jika di Sodom terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, kota itu tentu masih berdiri sampai hari ini. Tetapi Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan negeri Sodom akan lebih ringan dari pada tanggunganmu.”

 

1. Pernahkah Anda merenungkan ayat-ayat di atas? Mengapa Tuhan tidak kasih porsi mujizat yang sama untuk semua orang, kalau Ia tahu bahwa porsi yang lebih PASTI membuat mereka bertobat?

Lanjutkan membaca “Konsekuensi Kehendak bebas”

​Kesalahan Stephen Tong tentang Baptisan

1. Pak Tong mengaitkan baptisan dengan proses penahbisan imam di Perjanjian Lama. Padahal tidak ada hubungan sama sekali. Misal di Imamat 8:6, pada saat penahbisan imam, imam “dibasuh” dengan air. Kata dibasuh di Im. 8:6 adalah dari kata Ibrani rakhats, yang diterjemahkan oleh LXX sebagai louo, yaitu kata Yunani untuk pembasuhan secara umum. Para penerjemah LXX sangat paham, bahwa ini bukanlah pencelupan, oleh karena itu mereka tidak menerjemahkannya dengan baptizo, melainkan dengan louo. [Bahasa Ibrani untuk mencelup adalah taval, dan diterjemahkan baptizo di perikop seperti 2 Raja-raja 5:14]. Sama sekali tidak ada kaitan antara penahbisan imam dengan baptisan Yohanes. Bahwa Yohanes adalah anak imam sama sekali tidak ada hubungannya. Banyak orang mencoba mengatakan bahwa baptisan Yohanes adalah meneruskan berbagai upacara Perjanjian Lama, tetapi ini salah. Baptisan Yohanes adalah suatu upacara yang baru, yang membuat orang Yahudi bertanya-tanya, bukan perpanjangan dari sesuatu yang lama. Oleh karena itulah Tuhan Yesus bertanya kepada orang Farisi: “Dari manakah baptisan Yohanes? Dari sorga atau dari manusia?” (Mat 21:25 ITB), dengan maksud menggiring orang Farisi untuk mengakui bahwa baptisan Yohanes adalah dari sorga. Lanjutkan membaca “​Kesalahan Stephen Tong tentang Baptisan”

Tuhan meninggalkan Tuhan? 

Matius 27:46 (TB) Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eli, Eli, lama sabakhtani?” Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? 

Orang-orang Kristen sering sekali diejek perihal doktrin tritunggal. Salah satu nas yang sering dipakai ialah Matius 27:46 ini. Kemudian mereka berkata, “kok, Tuhan meninggalkan Tuhan?”  Lanjutkan membaca “Tuhan meninggalkan Tuhan? “

​COWBOY2AN YANG TEMBAK KAKI SENDIRI

Dengan apakah sesungguhnya paling tepat saya harus menggambarkan mereka yang ngotot mempromosikan Elohim dan Yashua Ha Masiah? 

Sudah jelas bahwa seluruh kitab PB ditulis dalam bahasa Yunani, dan kata yang dipakai ialah Theos. Theos artinya YANG DISEMBAH, seperti kata Elohim dan Allah. Langsung ada yg berteriak, Allah itu dewa bulan! Orang yang berteriak ini terlalu tergesa-gesa. Karena kata ALLAH, berasal dari Al-Ilah, yg artinya ilah itu, maka semua yang disembah dipanggil Allah termasuk ketika mereka menyembah bulan yang mereka panggil bulan itu ALLAH. Demikian juga dengan kata Theos dipakai orang Yunani untuk dewa mereka. 

Hal yang lebih fatal ialah bahwa mereka tidak mau pakai kata Yesus melainkan Yashua Ha Masiah, padahal kitab PB melalui inspirasi Roh Kudus memakai bahasa Yunani menulis Ἰησοῦς (Iesous).  

Banyak tahun lalu,  ketika seorang yang berdebat dengan saya, ngotot berkata bahwa harus Yashua, bukan Yesus.  Saya katakan kepadanya bahwa kitab PB bahasa asli menulis dalam bahasa Yunani dan bunyinya Yesus. Dia menjawab saya dengan berkata bahwa kitab PB yang asli ditulis dalam bahasa Aramik. Saya tanya kepadanya, mengapakah tidak ada manuscript atau fragment yang ditemukan? Dan dia menjawab saya dengan enteng bahwa yang asli dalam bahasa Aramik sudah hilang, yang bahasa Yunani terjemahan yang tersimpan. Dan saya berkata bahwa Ahmed Deedat beserta tokoh-tokoh Muslim sangat bersukacita mendengar pernyataanmu bahwa Alkitab Bahasa  Asli sudah hilang. 

Saya melihat,  mereka adalah orang-orang yang bersemangat,  yang tidak berpikir panjang dan bertindak seperti anak kecil. Mereka seperti orang yang sedang main cowboy-cowboyan,  yang  mencoba memutar-mutar pistolnya,  tapi akhirnya menembak kakinya sendiri. 

Sebab, jika benar kitab PB ditulis dalam bahas Aramik,  dan naskah itu sudah hilang, sedangkan yang bahasa Yunani adalah terjemahan, maka itu sesungguhnya sebuah malapetaka dalam kekristenan. Dan sekaligus membuktikan Allah tidak sanggup memelihara FirmanNya. 

Jadi, jelaslah kelompok pengagung sebutan elohim, yahweh, yashua ha masiah, dan ruakh ha khodesh bukan menjadikan kekristenan semakin baik, melainkan justru mengacaukan kekristenan. Ingatlah, bahwa kita diperintahkan untuk mengasihi Tuhan Allah kita degan segenap AKAL BUDI KITA.

Ditulis oleh: Dr. Suhento Liauw

​Tidak ada seorangpun, bahkan Setan, yang bisa menista Alkitab

Alkitab adalah satu-satunya Firman Allah Pencipta alam semesta.  Allah yg berkuasa bukan hanya mampu membunuh manusia, bahkan sanggup menghancurkan alam semesta ini dan membuat yang baru lagi.

Melalui Alkitab Allah menyatakan bahwa manusia telah berdosa, dan tidak bisa menghampiri Allah yang maha kudus. Dosa manusia harus diselesaikan, dan caranya hanya satu, yaitu dihukumkan. Lanjutkan membaca “​Tidak ada seorangpun, bahkan Setan, yang bisa menista Alkitab”

Benarkah ada orang yang mencari kebenaran Tuhan, tapi ia tidak menemukannya?

image

Benarkah ada orang yang mencari Tuhan dan kebenaran-Nya, tapi tidak menemukan apa yang ia cari, bahkan hingga meninggal? Ini pertanyaan penting yang harus kita jawab dan renungkan!

Secara pribadi, saya tidak percaya jikalau ada orang yang sungguh-sungguh mencari Tuhan dan kebenarannya, tetapi tidak pernah menemukannya. Tuhan Yesus telah menggaransi itu dengan pernyataan: Lanjutkan membaca “Benarkah ada orang yang mencari kebenaran Tuhan, tapi ia tidak menemukannya?”

Sampai Kapan Hukum Taurat diberlakukan?

imageTulisan kali ini adalah sebuah jawaban untuk pertanyaan yang diajukan saudara seiman saya Abok lewat media FB. Saya sebenarnya sudah menjawabnya, namun saya pikir ada baiknya juga jika diposting lewat blog.

Pertanyannya adalah:

Sampai Kapan Hukum Taurat diberlakukan?
1. Sampai tampillnya Yohanes Pembaptis (Lukas 16:26)
2. Saat Yesus tersalib (Efesus 2:15)
3. Setelah langit dan bumi lenyap (Matius 5:18)

JAWAB:

Lanjutkan membaca “Sampai Kapan Hukum Taurat diberlakukan?”