AJARAN CORPUS DELICTI ERASTUS SABDONO YANG MENYESATKAN

Dr. Erastus Sabdono adalah seorang pendeta populer di kalangan Kharismatik. Ia dikenal sebagai seorang hamba Tuhan yang memiliki karunia mengajar. Ia memang banyak mengajar, baik melalui radio, tatap muka secara langsung, dari buku-bukunya, dan dari berbagai video yang diupload di youtube. Tidak hanya itu, pengikutnya juga cukup banyak dan militan. Namun sayangnya, akhir-akhir ini ajaran-ajarannya semakin aneh dan tidak sesuai dengan pandangan teolog-teolog yang jujur pada umumnya. Terlebih, jika ditinjau dari Alkitab, ajaran-ajarannya semakin tidak konsisten dan tidak berdasar, termasuk ajaran “corpus delicti” ini. Apa sebenarnya arti dari corpus delicti itu?

Corpus delicti adalah istilah hukum (dari Yurisprudensi Barat) yang mengacu pada prinsip bahwa kejahatan harus dibuktikan telah terjadi sebelum seseorang dapat dihukum karena melakukan kejahatan itu. Dalam teologi Erastus Sabdono, hal ini dipakai untuk menjelaskan makna penciptaan manusia dan pengutusan Yesus ke dunia. Namun dalam aplikasinya doktrin ini salah dan bahkan menyesatkan.

Berikut ini, saya akan mengutip beberapa pernyataan yang sangat menyolok kesalahannya dan memberikan komentar terhadapnya, antara lain:

“Ketika Iblis memberontak melawan Allah, Allah tidak seketika bisa membinasakannya. Ada “rule” atau hukum atau aturan untuk bisa menunjukkan bahwa Iblis bersalah dan pantas dihukum. Rupaya pada waktu itu belum ada pembuktian bahwa tindakan Iblis bersalah dan patut dihukum, sebab jika pada waktu itu sudah bisa terbukti Iblis bersalah, niscaya Iblis sudah dihukum. Bagaimana membuktikan bahwa Iblis bersalah? Jawaban yang paling logis adalah Allah harus menciptakan makhluk yang melakukan kehendak-Nya, menjadi makhluk seperti yang dikehendaki-Nya atau yang dirancangNya. Untuk inilah Allah melahirkan atau menciptakan anak-Nya yang lain, yaitu Adam. (hlm. 57).

Untuk membuktikan kesalahan Lusifer agar ia pantas dihukum, harus ada makhluk yang diciptakan oleh Allah yang memiliki segambaran dengan Allah yang bisa hidup dalam persekutuan dengan Allah. (hlm. 57-58)

Kegagalan manusia pertama menyisakan persoalan, siapakah yang dapat mengalahkan Iblis atau membuktikan bahwa Iblis bersalah dan pantas dihukum? Tidak ada jalan lain, kecuali Anak Tunggal yang bersama-sama dengan Bapa. Anak tunggal Bapa harus turun ke bumi menjadi manusia (Adam terakhir), di mana dalam segala halnya Ia disamakan dengan manusia (Ibr. 2:17). Allah Anak menjadi manusia untuk membuktikan bahwa ada pribadi yang bisa taat tanpa syarat kepada Bapa dan mengabdi sepenuhnya (Flp. 2:5-11; Yoh. 4:34). Hal ini akan membuktikan bahwa tindakan Iblis salah dan patut dihukum. (hlm. 58).

Dapatkah Anda melihat beberapa cacat logika dari pernyataan di atas? Jika tidak mari kita perhatikan bersama-sama.

Pertama, frasa “belum ada pembuktian bahwa tindakan Iblis bersalah dan patut dihukum” sesungguhnya telah menciderai sifat Allah yang mahatahu! Kalau belum ada pembuktian, berarti yang kurang bukti adalah Allah! Sebab, menurut Erastus Sabdono, karena tidak ada buktilah, maka Allah menciptakan makhluk lain, yaitu manusia. Manusia ini diharapkan bisa menjadi bukti (corpus delicti) terhadap kesalahan Iblis. Tetapi nyatanya gagal.

Kedua, kalau Anda renungkan secara mendalam perihal kegagalan manusia pertama (Adam), sadarkah Anda siapa yang lebih gagal dan dipermalukan? Itulah cacat logika dari ajaran corpus delictinya Erastus Sabdono. Tuhan Allahlah yang sedang mempermalukan diri-Nya atas kegagalan Adam, jika memang ajaran Erastus ini benar!

Tetapi, apakah Anda lebih setuju Allah mempermalukan diri-Nya atau Erastus Sabdonolah yang salah memahami tujuan penciptaan manusia? Renungkanlah.

Ketiga, menurut konsep corpus delictinya Erastus, maka Iblis tidak boleh dihukum sebelum Yesus menunjukkan ketaatan-Nya kepada Bapa, yaitu sampai mati di kayu salib, bangkit, dan naik ke surga. Tetapi ajaran ini terbantahkan dengan adanya beberapa iblis yang sudah dihukum bahkan sebelum kedatangan Yesus ke dunia kali pertama, “Dan bahwa Ia menahan malaikat-malaikat yang tidak taat pada batas-batas kekuasaan mereka, tetapi yang meninggalkan tempat kediaman mereka, dengan belenggu abadi di dalam dunia kekelaman sampai penghakiman pada hari besar,” (Yudas 1:6) Allah telah menahan beberapa malaikat pengikut Lusifer, karena mereka melanggar bata-batas yang ditetapkan Allah! Mereka bersalah dan langsung dihukum. Jadi, Lusifer belum dihukum bukan karena belum terbukti bersalah, tetapi Tuhan masih memerlukannya untuk menguji iman anak-anakNya. Bahkan, semasa pelayanan Yesus di dunia, para pengikut Lusifer ketakutan terhadap kedatangan Yesus. Mereka tahu bahwa mereka telah salah dan berdosa kepada Allah, tetapi mereka juga tahu bahwa ada waktu yang telah ditetapkan untuk penghukuman mereka. Dan mereka itupun berteriak, katanya: “Apa urusan-Mu dengan kami, hai Anak Allah? Adakah Engkau ke mari untuk menyiksa kami sebelum waktunya? (Mat. 8:29). Jadi, penyebab belum dihukumnya Lusifer BUKAN karena kesalahannya tidak terbukti, melainkan karena WAKTU-NYA belum tiba. Jadi, hanya tinggal tunggu waktu saja, Lusifer akan langsung dieksekusi.

Pernyataanberikutnya yang perlu kita tanggapi, yaitu:

“Kalau Tuhan Yesus gagal, maka tidak bisa dibayangkan betapa rusaknya jagad raya ini, karena surga dan bumi dalam kekuasaan Lusifer. Ia akan menjadi “Bintang Timur yang paling gilang gemilang,” artinya akan menerima kekuasaan baik di surga maupun di bumi (Why. 22:16). Tetapi kemenangan Tuhan Yesus menjadikan Ia berhak memproklamirkan kekuasaan-Nya bahwa segala kuasa di sorga dan di bumi ada dalam tangan-Nya dan Ia adalah Bintang Timur yang gilang gemilang itu. (hlm. 101)

Apa yang mau saya katakan dari kutipan di atas?

Yaitu, kalau Erastus Sabdono mau konsisten dengan pengajarannya, maka setelah kemenangan Yesus di kayu salib harusnya Iblis langsung dihukum dong? Tetapi apa terjadi? Faktanya Iblis belum dihukum! Jadi, apakah ajaran corpus delicti Erastus berjalan sesuai Alkitab dan logika? Sama sekali tidak!

Kekeliruan ajaran corpus delictinya Erastus Sabdono bahkan dilanjutkan dengan menyetarakan Yesus dengan Lusifer! Ini jahat sekali.

“Dalam hal ini kita dapat menyaksikan dua putera Allah yang sedang berjuang untuk merebut kemenangan. Lusifer adalah putera Allah yang memberontak dan Tuhan Yesus Kristus Putra Tunggal yang berdiri di pihak Bapa untuk melakukan kehendak-Nya.

Dapatkahkah Anda memahami secara normal tentang seorang Bapa yang memiliki dua anak namun sekaligus memiliki Putra Tunggal? Hehehe… pernyataan ini sangat keliru! Lusifer disamakan dengan Yesus? Ini tentu sudah menghina posisi Yesus sebagai Putra Tunggal Allah. Yesus adalah pribadi kedua dari Allah Tritunggal! Kalau Lusifer diyakini juga sebagai putra Allah, maka itu menentang doktrin Tritunggal. Berarti harus menciptakan doktrin aneh lain lagi, yaitu kwartet tunggal. Hehehe…

Untuk menutupi kejanggalan ajaran corpus delicti, yang seharusnya, kalau ajaran itu konsisten, maka Iblis sudah harus dihukum, Erastus berkelit dengan mengatakan:

“Semakin banyak orang percaya diproses makin seperti Tuhan Yesus, berarti semakin tercukupi jumlah orang percaya yang menjadi corpus delicti. Ini berarti semakin cepat sejarah dunia berakhir dan iblis dihukum” (hlm. 163)

Sesungguhnya, Alkitab tidak pernah mengajarkan bahwa Iblis baru akan dihukum setelah jumlah orang percaya yang hidup seperti Yesus semakin banyak. Iblis pasti akan dihukum pada akhir dunia, yaitu di akhir kerajaan 1000 tahun (millenium). Hanya malaikat-malaikat yang tidak taat sampai batas-batas kewenanangan merekalah yang sudah dimasukkan ke dalam penghukuman kekal di neraka. Namun, Iblis lainnya masih diijinkan Tuhan berkeliaran untuk mencobai manusia, sampai waktu yang ditetapkan Tuhan tiba.

Tuhan yang mahatahu, sebenarnya tidak perlu menciptakan manusia, bahkan mengirim Yesus ke dunia HANYA UNTUK MEMBUKTIKAN KESALAHAN LUSIFER! Misi Yesus datang ke dunia adalah jelas, yaitu untuk menghapus dosa manusia. Di dalam Yohanes 1:29 dikatakan, “Lihatlah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia.” Juga di ayat yang paling terkenal, Yohanes 3:16 dikatakan bahwa kedatangan Yesus adalah untuk memberikan hidup yang kekal kepada orang yang percaya kepadaNya. BUKAN UNTUK MEMBUKTIKAN LUSIFER BERDOSA! “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

Jadi saudara yang dikasihi Tuhan, seperti nasihat rasul Pulus kepada Timotius, bahwa Timotius harus mengawasi dirinya sendiri dan ajarannya, maka kita pun harus mengawasi ajaran kita, agar kita bisa menyelamatkan orang dan membawa mereka kepada Kristus.

Tuhan Yesus memberkati kita, Maranatha!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s