Seri Perumpamaan Yesus (7): Orang-orang yang berdalih (Luk. 14:15-24)

15 Mendengar itu berkatalah seorang dari tamu-tamu itu kepada Yesus: “Berbahagialah orang yang akan dijamu dalam Kerajaan Allah.” 16 Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Ada seorang mengadakan perjamuan besar dan ia mengundang banyak orang. 17 Menjelang perjamuan itu dimulai, ia menyuruh hambanya mengatakan kepada para undangan: Marilah, sebab segala sesuatu sudah siap. 18 Tetapi mereka bersama-sama meminta maaf. Yang pertama berkata kepadanya: Aku telah membeli ladang dan aku harus pergi melihatnya; aku minta dimaafkan. 19 Yang lain berkata: Aku telah membeli lima pasang lembu kebiri dan aku harus pergi mencobanya; aku minta dimaafkan. 20 Yang lain lagi berkata: Aku baru kawin dan karena itu aku tidak dapat datang. 21 Maka kembalilah hamba itu dan menyampaikan semuanya itu kepada tuannya. Lalu murkalah tuan rumah itu dan berkata kepada hambanya: Pergilah dengan segera ke segala jalan dan lorong kota dan bawalah ke mari orang-orang miskin dan orang-orang cacat dan orang-orang buta dan orang-orang lumpuh. 22 Kemudian hamba itu melaporkan: Tuan, apa yang tuan perintahkan itu sudah dilaksanakan, tetapi sekalipun demikian masih ada tempat. 23 Lalu kata tuan itu kepada hambanya: Pergilah ke semua jalan dan lintasan dan paksalah orang-orang, yang ada di situ, masuk, karena rumahku harus penuh. 24 Sebab Aku berkata kepadamu: Tidak ada seorangpun dari orang-orang yang telah diundang itu akan menikmati jamuan-Ku.”

 

Latar belakang:

Sebelum perumpamaan ini disampaikan Tuhan Yesus, Ia terlebih dahulu memberi nasihat kepada orang yang mengundang Dia dalam sebuah perjamuan. Dalam nasihatNya itu, Yesus mengatakan agar jangan mengundang sahabat atau keluarga yang kaya, sebab mereka mampu membalasnya dengan cara mengundang kembali. Sebaiknya, undanglah orang-orang yang kurang mampu, agar balasan yang engkau terima bukan dari manusia, melainkan dari Tuhan, pada hari kebangkitan orang benar. Dari nasihat ini kita menjadi ingat pesan Tuhan Yesus agar jangan mengharapkan balasan dari manusia atau hormat dunia. Jika kita memberi dengan tangan kanan, tak perlu diketahui tangan kiri (Mat.6:3).

Mendengar nasihat Yesus tersebut, pendengarNya memberi respon dengan berkata: “Berbahagialah orang yang akan di jamu dalam Kerajaan Allah.” Ternyata orang-orang pada masa itu tahu, bahwa istilah hari kebangkitan orang benar artinya adalah saat di mana orang benar dikumpulkan di Sorga dan menikmati berkat dan perjamuan bersama Tuhan. Itulah yang melatar belakangi pernyataan “Berbahagialah orang yang akan di jamu dalam Kerajaan Allah.” Lalu, bagaimana Yesus mengklasifikasi orang yang akan diundang (dijamu) dalam kerajaan Allah tersebut? Itulah pesan utama perumpamaan ini.

 

Simbolisasi dalam perumpamaan:

Orang yang mengadakan perjamuan besar itu maksudnya adalah Allah dan orang yang diundang, yang berdalih, adalah mereka yang secara manusiawi (dunia) dianggap layak masuk ke perjamuan itu.

 

Pesan yang ingin disampaikan:

Kelayakan versi dunia adalah mereka yang mampu secara ekonomi atau status sosial. Perhatikan alasan dari ketiga undangan tersebut. Orang pertama pastilah orang kaya, karena ia beralasan baru beli ladang. Orang kedua juga sama, ia baru beli lima pasang lembu kebiri. Itu maksudnya sepuluh ekor. Wow! Dan yang ketiga adalah pasangan yang baru menikah, dan mungkin masih akan menyibukkan harinya dengan bulan madu dan tentu akan mengeluarkan banyak uang.

Setelah para undangan menolak undangan dari tuan yang mengadakan perjamuan, sang tuan itu pun akhirnya murka! Dalam perumpamaan ini, sang tuan hanya terlihat kesal, namun tak berkuasa untuk memaksa orang kaya dan orang terhormat itu untuk datang, sangat berbeda situasinya dengan perumpamaan seorang raja yang mengadakan pesta di Mat. 22:1-10, di mana sang raja menghajar dan membunuh mereka!

Oleh karena para undangan pertama tidak mau datang ke perjamuan tersebut, sementara segala sesuatu yang diperlukan untuk perjamuan itu telah siap, sang tuan akhirnya mengutus hamba-hambanya untuk mengundang orang-orang yang secara duniawi dipandang tidak layak. Mereka itu adalah orang-orang yang miskin, cacat, buta, dan lumpuh. Setelah hamba-hamba itu datang dan mengajak semua orang yang dianggap tidak layak itu, ternyata jumlah yang hadir masih kurang. Sang tuan kembali menyuruh, bahkan dengan nada yang lebih keras, memaksa supaya semua orang yang ada di sekitar mereka masuk dan datang, sampai rumah itu penuh. Jadi, banyaknya undangan yang diberikan kepada orang miskin dan cacat itu mengindikasikan bahwa yang diundang pada fase pertama bukan hanya tiga orang, namun semua undangan terhormat itu menolak dengan alasan yang mirip-mirip. Lalu apa pelajaran rohaninya bagi kita yang hidup di zaman sekarang ini?

Pertama, undangan khusus untuk masuk ke dalam kerajaan sorga, memang diberikan kepada mereka yang dekat kepada firman Tuhan. Maksudnya peluang untuk masuk sorga itu akan lebih besar kepada mereka yang hidup di keluarga Kristen atau yang sudah pernah baca Alkitab. Tetapi, faktanya banyak juga orang Kristen yang tidak lahir baru bukan? Ini mirip dengan undangan kepada orang kaya di atas. Orang kayalah yang lebih sering (biasa) melakukan dan menghadiri perjamuan pesta tapi ada juga kalanya mereka enggan atau menolak masuk ke perjamuan.

Kedua, bagi Tuhan tidak ada klasifikasi secara materi atau status sosial untuk masuk ke dalam kerajaanNya. Ia mengundang semua orang untuk datang kepadaNya.Apakah itu anak pendeta atau anak penjahat, atau orang yang merasa dosanya sedikit atau yang merasa dosanya sangat banyak, semua diundang! (bdk Yes.1:18). Bagi Tuhan, yang paling penting adalah kita mau ikut undanganNya atau tidak. Jika kita menolak, undangan akan diberikan kepada yang lain, itu saja!

Ketiga, ketika undangan terus menerus didengungkan untuk masuk sorga diabaikan oleh orang yang mendengarnya, maka undangan itu pun kelak akan dialihkan kepada orang lain, dan orang yang diundang pertama, akan ditutup kesempatan baginya. (bdk. Yes. 55:6). Orang yang menolak mengikuti ajaran yang benar, kemudian berdalih, maka akan datang waktunya Tuhan menutup pintu undangan pertobatan kepadanya, berhati-hatilah!

Keempat, janganlah kita kiranya selalu mencari alasan (berdalih) untuk menolak kebenaran. Sebab, ketika kita berusaha memikirkan alasan menolak kebenaran, Iblis akan membisikkan alasan-alasan yang masuk akal bagi Anda untuk menolak kebenaran. Anda mencari-cari satu alasan yang masuk akal, Iblis akan bisikkan seribu satu alasan yang cocok. Camkanlah!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s