Seri Perumpamaan Yesus (6): Pelita (Luk. 8:16-18)

Perumpamaan tentang pelita ini merupakan perumpamaan yang sifatnya tidak mengenal kompromi. Sebagaimana terang tidak pernah kompromi dengan kegelapan demikianlah perumpamaan ini dimaksudkan. Kegelapan yang paling gelap apabila disatukan di suatu tempat tetap akan kalah oleh konsistensi setitik terang. Itulah mengapa setelah perumpamaan ini disampaikan, Yesus Kristus seolah-olah lari topik dengan mengatakan: “karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, daripadanya akan diambil, juga apa yang ia anggap ada padanya.” Apakah yang dianggap manusia ada padanya? Kebenaran individual!

Sebelum seseorang menemukan kebenaran, ia mungkin tidak merasa bahwa dirinya ada dalam bahaya. Ia bahkan mungkin tidak pernah berpikir akan keadaannya di masa mendatang. Di dalam dirinya sepertinya merasa ada kebenaran, ada kenyamanan, dan ada prinsip yang baik, padahal sebenarnya tidak ada. Dan dia hanya menganggap itu ada.

Ketika seseorang disinari kebenaran dan tidak tersadarkan karena merasa ia punya kebenaran, maka kepadanya akan teraplikasi peringatan Tuhan ini, yaitu: “…siapa yang tidak mempunyai daripadanya akan diambil, juga apa yang ia anggap ada padanya.” Dunia kita sekarang ini telah dilanda egoisme yang dahsyat dan kebenaran yang sifatnya relatif. Orang-orang menganggap bahwa masing-masing kita memiliki kebenaran menurut pandangan sendiri dan tidak satupun dari antara kita yang memiliki kebenaran mutlak. Ya, pernyataan itu sepertinya baik sekali, tetapi pernyataan itu disampaikan oleh para pluralis. Sebenarnya, firman Tuhan adalah kebenaran yang mutlak. Dan manusia yang berbicara sesuai firman Tuhan, maka yang ia sampaikan adalah kebenaran yang harus dipatuhi juga. Perumpamaan ini memberikan gambaran bagi kita bagaimana orang Kristen bersaksi dan bagaimana orang-orang seringkali menanggapi kesaksian kita itu. Mari kita pelajari detil-detil perumpamaan ini.

Pelita itu ibarat kebenaran firman Tuhan. Sebagaimana pelita berfungsi menerangi, maka firman Tuhan itu fungsinya adalah menerangi. Jika orang ingin memperlakukan pelita sesuai fungsinya, maka ia harus menyalakan pelita itu dan menempatkannya di tempat yang tinggi (kaki dian) agar orang-orang bisa merasakan cahaya pelita itu. Semua orang yang datang (masuk) ke rumah itu dengan maksud dan motivasi yang baik tentu akan sangat bersyukur karena keberadaan pelita itu. Kecuali orang yang datang dengan maksud mencuri dan merencanakan sesuatu yang jahat, barulah akan terusik dengan terang pelita itu.

Jika kita memiliki kebenaran, maka kebenaran yang kita miliki harusnya diperlihatkan cahayanya, seperti pelita dalam perumpamaan Tuhan Yesus. Sebab kita juga sedang memberikan penerangan kepada jalan keselamatan, yaitu supaya orang-orang bisa melihat jalan ke rumah Bapa yang kekal, yaitu sorga yang mulia.

Orang yang memiliki pelita adalah orang Kristen yang telah memiliki penuntun hidup yang jelas dalam hidup ini. Ia akan menyandarkan pengharapannya kepada pelita itu, manakala ia berjalan dalam kegelapan, terang pelita itulah yang menolongnya. Dan apabila selama menjalani kehidupan di dunia ini ada angin kehidupan yang mencoba mematikan cahaya pelita itu, maka orang Kristen tersebut harus menjaganya tetap menyala agar ia tidak kehilangan penuntun sampai ke rumah Bapa yang kekal. Jadi, pelita dan orang yang membawa pelita sama-sama memiliki tugas yang penting. Orang yang membawa pelita harus tetap memastikan pelitanya menyala dan terlindung dari angin yang bisa memadamkan pelita. Sebab hanya dengan pelita yang menyalalah orang dapat berjalan dengan jelas.

Pelita juga bisa dimaknai sebagai pengajaran yang benar. Penekanan ini penting sebab di zaman kita ini, kekristenan juga sudah dilanda kompromi yang dahsyat. Orang yang tidak memiliki pelita yang menyala pasti tidak tahu mana ajaran yang betul-betul sesuai firman Tuhan atau sudah melenceng dari kebenaran. Sebab apa? Sebab ia tidak memiliki pelita yang menyala yang bisa membedakan manakah ajaran yang baik dan manakah ajaran yang tidak benar. Jadi, marilah kita memperhatikan apa yang kita dengar. Jangan sampai kita lebih banyak mendengar dongeng nenek tua yang tidak ada putus-putusnya atau cerita-cerita yang hanya menyenangkan telinga kita. Cobalah dan pertahankanlah untuk selalu menyimak apa yang kita dengan, menyortirnya dan mengimani kebenaran yang sesungguhnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s