PENJELASAN PAULUS TENTANG PEMBENARAN DALAM SURAT ROMA

  1. PENDAHULUAN

Pada saat Allah menciptakan manusia pada hari keenam di taman Eden, yaitu Adam dan Hawa, mereka masih memiliki nature yang kudus dan posisi yang kudus. Namun, mereka belum memiliki karakter yang kudus, sebab karakter yang kudus perlu pembuktian. Alkitab mencatat bahwa Adam dan Hawa telah jatuh ke dalam dosa sehingga hubungan manusia dengan Allah terputus (Kej. 3). Alkitab juga mencatat bahwa orang yang berdosa harus dihukum (Roma 6:23). Oleh karena itu, untuk memulihkan kembali hubungan antara Allah dengan manusia, maka manusia tersebut harus dibenarkan. Dengan demikian, cara pembenaran yang tepat adalah tujuan utama setiap manusia supaya dapat menghampiri tahta Allah yang kudus.

2. PENTINGNYA KESADARAN MANUSIA TENTANG POSISINYA SEBAGAI ORANG BERDOSA

Sebelum menjelaskan tentang konsep pembenaran yang Alkitabiah secara panjang lebar, Rasul Paulus terlebih dahulu menyadarkan audiens-nya bahwa semua manusia telah gagal mencapai kebenaran di hadapan Allah. Bangsa non-Yahudi dan bangsa Yahudi telah gagal di hadapan Allah dan tidak ada satu orangpun yang benar (Roma 3:10). Semua bangsa telah melakukan yang jahat di mata Tuhan, dan walaupun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap (Roma 1:21).

2.1) Bangsa non-Yahudi gagal di hadapan Allah
Rasul Paulus terlebih dahulu memberitahukan bahwa bangsa-bangsa (non-Yahudi) telah gagal di hadapan Allah dan murka Allah telah dinyatakan atas segala kefasikan dan kelaliman mereka. Urutan yang menyebutkan bahwa bangsa-bangsa lain telah gagal di hadapan Allah dalam mencapai kebenaran sepertinya disengaja supaya bangsa Yahudi tergiring secara perlahan-lahan untuk merespon dengan positif tentang penjelasan-penjelasan Paulus berikutnya.

Rasul Paulus mendaftarkan berbagai bentuk dosa yang dilakukan oleh bangsa non-Yahudi, antara lain: penyembahan berhala, perzinahan, kelaliman, percabulan, kejahatan, keserakahan, kejahatan, kebusukan, dengki, pembunuhan, perselisihan, tipu muslihat, kefasikan, pengumpat, pemfitnah, pembenci Allah, kurang ajar, congkak, sombong, pandai dalam kejahatan, tidak taat kepada orang tua, tidak berakal, tidak setia, tidak penyayang, tidak mengenal belas kasihan.1 Rasul Paulus bersaksi tentang mereka (bangsa non-Yahudi) bahwa mereka sebenarnya tahu semua tindakan ini akan mendapat penghukuman dari Allah. Sehingga Rasul Paulus akhirnya mengatakan bahwa mereka patut dihukum mati, sebab mereka bukan hanya melakukannya sendiri dan bahkan setuju dengan mereka yang melakukannya.

Dengan demikian, bangsa-bangsa lain (non-Yahudi) tidak akan lepas dari murka Allah jika mereka tidak dibenarkan. Jadi, bangsa non-Yahudi harus mengetahui jalan keselamatan yang benar dan juga melakukannya agar mereka diselamatkan. Hal inilah yang seharusnya menjadi langkah awal bagi setiap orang untuk menerima pembenaran, yaitu kesadaran posisi sebagai orang berdosa yang harus binasa.

2.2 Bangsa Yahudi gagal di hadapan Allah
Setelah Rasul Paulus membeberkan macam-macam kesalahan bangsa-bangsa non-Yahudi, kemudian ia beralih menegur bangsa Yahudi tentang kesalahan mereka. Hanya saja, ada perbedaan antara dosa orang Yahudi dan non-Yahudi. Dosa orang non-Yahudi sifatnya kelihatan (kentara) sedangkan bangsa Yahudi kelihatan seolah-olah tidak berdosa. Bangsa Yahudi melakukan kemuna-fikan, sebagaimana disebutkan Paulus bahwa mereka menghakimi orang-orang yang bersalah, padahal mereka sendiripun melakukan hal yang sama.

Dengan keadaan bangsa Yahudi yang sama-sama telah berdosa, maka mereka telah gagal di hadapan Allah. Sehingga penghukuman juga harus berlaku bagi mereka. Jadi, Rasul Paulus tidak ingin mentolerir kesalahan yang kelihatan (kentara) dengan kesalahan yang samar-samar, sebab di hadapan Tuhan tidak ada dosa sekecil apapun yang tidak akan mendapat hukuman. Seperti halnya Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa tidak disebabkan oleh karena banyaknya dosa yang mereka lakukan, melainkan oleh karena mereka tidak tunduk atas firman yang disampaikan oleh Allah kepada mereka.

3. PERLUNYA PEMAHAMAN TENTANG DISPENSASI ZAMAN

Penjelasan Rasul Paulus tentang pembenaran dalam kitab Roma ini sangat erat hubungannya dengan dispensasi zaman yang seharusnya difahami oleh seluruh manusia. Jadi, Rasul Paulus sangat ingin agar bangsa Israel paham tentang dispenasi zaman yang benar; yaitu ada masa-masa tertentu Allah memakai siapa dan dengan cara apa untuk menunjukkan ketundukan kepada Allah.

Pada saat manusia diciptakan, manusia adalah makhluk yang suci, sehingga mereka juga dapat senantiasa berkomunikasi dengan Allah. Namun, pada saat manusia jatuh ke dalam dosa, komunikasi ini terputus! Jarak antara Allah dengan manusia semakin terasa menjauh karena manusia telah kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23). Tetapi Allah tidak pernah menghendaki orang berdosa binasa dalam keberdosaannya,2 sehingga Allah segera berjanji kepada manusia untuk mengirim Juruselamat yang akan menebus dosa semua manusia (Kej.3:15). Hal ini dilakukan sebab dosa hanya akan selesai jika dosa tersebut dijatuhi hukuman.3 Namun, sebelum pribadi tersebut datang, Allah memberikan kepada umat manusia suatu simbol yang harus dilakukan untuk mengingat pribadi Juruselamat yang akan datang tersebut. Setiap orang yang ingin dosanya dihapuskan ia harus mempersembahkan korban baginya sebagai simbol bahwa dirinya sendiri yang telah berdosa dan harus dihukum, sehingga Tuhan berkenan kepadanya.

Pada zaman manusia pertama, yakni Adam, maka yang bertugas untuk melakukan dan selalu mengajarkan ibadah simbolik ini kepada anak-anaknya adalah Adam sendiri. Sehingga Adam menjabat sebagai perantara (imam) dan tiang penopang dan dasar kebenaran (TPDK) bagi kaum keluarganya. Jadi, pada masa ini setiap ayah menjabat sebagai imam dan TPDK.

Namun, seiring berjalannya waktu, ternyata ada banyak ayah yang tidak lagi peduli akan ibadah simbolik yang diperintahkan Allah ini. Sehingga Allah meng-alihkan tugas ini kepada bangsa Israel sebagai TPDK dan dipilihlah keturunan Harun sebagai imam (Keluaran 29:1). Peristiwa ini terjadi pada saat Musa menerima Hukum Taurat di Gunung Sinai. Jadi apabila seseorang ingin menge-tahui tentang kehendak Tuhan, maka ia harus mencari tahu dari bangsa Israel. Keturunan Harun akan bertugas dalam posisi keimamatan, untuk melakukan berbagai ritual ibadah yang diperintahkan Tuhan hingga yang disimbolkan tersebut tiba. Jadi, pada masa ini telah terjadi peralihan dari posisi Ayah sebagai Imam dan TPDK menjadi bangsa Israel sebagai TPDK dan Harun beserta keturunannya akan memegang jabatan sebagai imam. Siapapun yang mencoba untuk mempersembahkan korban tanpa melalui Harun dan keturunannya, maka Tuhan tidak akan berkenan akan persembahan tersebut.

Kemudian Yohanes Pembaptis tampil dan menyerukan bahwa Yesuslah kegenapan dari seluruh ibadah simbolik yang dilakukan sejak zaman Adam (Yohanes 1:29; Kolose 2:16-17). Namun, ternyata bangsa Israel menolak Yesus sebagai Mesias mereka (Yohanes 1:11; Roma 11:11-12). Sehingga akhirnya Allah mengalihkan kembali tugas menjadi TPDK kepada gereja (1Timotius 3:15) dan setiap orang percaya menjadi imam atas dirinya sendiri (1Petrus 2:9).
Inilah dispensasi zaman yang diajarkan Rasul Paulus kepada jemaat di Roma, bahwa tugas keimamatan telah beralih dari keturunan Harun kepada setiap orang percaya. Bangsa Israel sudah tidak lagi menjadi bangsa pilihan untuk sementara waktu oleh karena penolakannya kepada Mesias, dan tugasnya sebagai TPDK beralih kepada jemaat lokal.

4. KESALAHAN MEMAHAMI DISPENSASI ZAMAN MENGHASIL-KAN DOKTRIN YANG SALAH TENTANG PEMBENARAN

Dalam perspektif Yahudi, TPDK tersebut belum pernah beralih kepada bangsa lain atau organisasi lain (gereja/jemaat). Sehingga mereka masih berpikir bahwa bangsa Israellah umat pilihan Tuhan dan melakukan Hukum Taurat adalah sesuatu yang harus. Setiap orang yang ingin selamat harus masuk agama Yahudi dan melakukan tuntutan-tuntutan Hukum Taurat (termasuk sunat). Oleh karena itulah, maka bangsa Israel masih mengharapkan pembenaran melalui Hukum Taurat. Inilah efek yang dihasilkan oleh karena kesalahan pemahaman tentang dispensasi zaman, yaitu mendirikan kebenarannya sendiri dan akhirnya mereka tidak takluk kepada kebenaran Allah.

Bangsa Yahudi sangat yakin dengan status mereka sebagai keturuan Abraham dan juga sebagai penerima Hukum Taurat yang menjadi dasar argumen mereka bahwa mereka pasti dibenarkan (diselamatkan). Bangsa Yahudi tidak mengerti akan dispensasi zaman yang telah beralih dari bangsa Israel (ibadah simbolik) ke zaman gereja (ibadah hakekat).7 Sehingga setiap bangsa akhirnya dituntut untuk tunduk di bawah Hukum Taurat. Hal ini sangat jelas terlihat dari pernyataan-pernyataan Paulus kepada orang Yahudi di Roma sebab mereka membanggakan dirinya dengan melakukan Hukum Taurat (Roma 2:17-23). Bangsa Israel berlaku munafik, mereka senantiasa mengajar umat tentang moral yang baik tetapi mereka sendiri justru melanggar apa yang mereka ajarkan.

Paulus kembali menyindir mereka dengan berkata:

Engkau bermegah atas hukum Taurat, mengapa engkau sendiri menghina Allah dengan melanggar hukum Taurat itu? Seperti ada tertulis: “Sebab oleh karena kamulah nama Allah dihujat di antara bangsa-bangsa lain (Roma 2:22-23).”

Oleh karena perspektif yang salah inilah akhirnya Paulus mengirimkan suratnya kepada jemaat di Roma. Rasul Paulus menghendaki agar mereka mengetahui prinsip pembenaran yang sesuai dengan firman Tuhan. Rasul Paulus sangat ingin agar mereka meninggalkan jalan yang salah yang mereka tempuh yaitu dengan melakukan berbagai ritual Hukum Taurat (perbuatan). Sebab Hukum Taurat (usaha manusia) tidak dapat membenarkan siapapun, justru Hukum Taurat adalah suatu alat untuk memperjelas keadaan manusia yang penuh dosa. Jadi, dengan adanya Hukum Taurat, setiap orang akan semakin sadar bahwa tindakannya sudah menyalahi hukum Tuhan.

5. TAURAT TIDAK DAPAT MEMBENARKAN MANUSIA YANG BERDOSA

Bangsa Yahudi kerap kali merasa diri tidak berdosa. Mereka berpikir bahwa Hukum Tauratlah yang menjadi pembenaran mereka. Dengan perspektif yang salah ini, yaitu bahwa seseorang dapat diselamatkan oleh Hukum Taurat, akhirnya Rasul Paulus dengan terang-terangan berkata kepada mereka bahwa “tidak seorangpun dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan Hukum Taurat”.8 Namun, Rasul Paulus juga tidak membantah bahwa memang sunat juga berguna jika menaati Hukum Taurat, tetapi tentu kegunaan yang dimaksudkan Rasul Paulus di sini bukanlah untuk mendapatkan pembenaran, melainkan kegunaan yang bersifat jasmaniah. Tetapi, walaupun demikian bangsa Yahudi meninggikan Hukum Taurat, padahal mereka sendiripun tidak melakukan aturan Hukum Taurat dengan sungguh-sungguh. Orang-orang Yahudi hanyalah orang-orang munafik yang hanya tahu mengajarkannya tetapi tidak melakukannya di dalam kehidupannya.

Jadi, Hukum Taurat dan sunat tidak dapat menyelamatkan orang Yahudi. Sebab bukanlah sunat lahiriah yang dituntut Tuhan, dan bukan karena kelahiran sebagai seorang Yahudi maka akan disebut Yahudi. Tetapi Allah mengharapkan sunat hati yakni hati yang tulus, suci, yang mau melakukan kehendak Tuhan baik secara jasmani maupun rohani. Dengan demikian pujian baginya akan datang bukan dari manusia, melainkan dari Allah (Roma 2:9).
Paulus memberikan kesaksian bahwa bangsa Yahudi melakukan ibadah mereka dengan giat tetapi tanpa pengertian yang benar. Hal ini mengakibatkan bangsa Yahudi berusaha mendirikan kebenaran mereka sendiri dan mereka tidak takluk kepada kebenaran Allah (Roma 10:1-3).

Saudara-saudara, keinginan hatiku dan doaku kepada Tuhan ialah, supaya mereka diselamatkan. Sebab aku dapat memberi kesaksian tentang mereka, bahwa mereka sungguh-sungguh giat untuk Allah, tetapi tanpa pengertian yang benar. Sebab, oleh karena mereka tidak mengenal kebenaran Allah dan oleh karena mereka berusaha untuk mendirikan kebenaran mereka sendiri, maka mereka tidak takluk kepada kebenaran Allah.

Seperti yang telah disebutkan di atas, bahwa efek dari kesalahan memahami dispensasi zaman adalah menghasilkan doktrin yang salah yakni pembenaran karena melakukan Hukum Taurat (perbuatan). Jadi, setelah yang disimbolkan tiba, maka tidak boleh lagi melakukan Hukum Taurat, sebab Hukum Taurat hanyalah bayangan dari apa yang harus datang dan kegenapannya adalah Yesus Kristus.

6. SOLUSI UNTUK MENDAPATKAN PEMBENARAN ADALAH HANYA IMAN KEPADA YESUS KRISTUS

Firman Tuhan berkata dalam Roma 3:20 bahwa tidak seorangpun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan Hukum Taurat, maka Rasul Paulus memberitahukan solusinya pada ayat 21. Solusi yang diberikan adalah bahwa seseorang dapat dibenarkan hanya oleh iman kepada Yesus Kristus. Orang yang telah berdosa telah kehilangan kemuliaan Allah dan tidak dapat mengahampiri Allah yang Mahakudus, sehingga mereka hanya akan dapat diselamatkan melalui kebenaran Allah karena iman di dalam Yesus Kristus. Kata “kebenaran Allah” dalam ayat 22 ini berasal dari kata bahasa Yunani yaitu δικαιοσύνη δὲ θεοῦ, kata ini lebih tepat diterjemahkan sebagai “kebenaran yang dari Allah.” Inti dari pernyataan ini adalah bahwa setiap orang yang ingin masuk Surga harus terlebih dahulu memiliki status sebagai orang benar. Untuk mendapatkan status sebagai orang benar maka berimanlah kepada Yesus Kristus yang telah mati untuk menebus dosa seluruh umat manusia dan bangkit untuk menyediakan hidup yang kekal.

Dave Hagelberg mengutip pernyataan Cranfield yang mengatakan bahwa Roma pasal 3:21-26 merupakan “pusat dan hati” dari seluruh Roma 1:16b – 15:13. Ia menguraikan bahwa gaya keenam ayat ini agung dan khidmat, layak dibacakan dengan suara perlahan serta tenang (seperti membacakan naskah proklamasi).

Rasul Paulus, dalam suratnya kepada jemaat Roma selalu berusaha meyakinkan mereka akan hakekat kebenaran melalui iman kepada Yesus Kristus. Rasul Paulus berkata bahwa Allah hanya ada satu. Sehingga jalan keselamatan yang diberikan oleh Allah tidak mungkin ada dua atau bahkan lebih. Jika oleh menaati Hukum Taurat maka orang berdosa selamat, maka hanya orang Yahudilah yang akan diselamatkan sebab bangsa-bangsa lain (non-Yahudi) tidak memiliki Hukum Taurat. Tetapi tidaklah demikian pengajaran yang dari Allah. Satu-satunya cara yang dapat membenarkan setiap orang adalah dengan beriman kepada Yesus Kristus. Prinsip ini tidak akan mendiskreditkan bangsa manapun, baik Yahudi maupun non-Yahudi akan sama-sama mempunyai kesempatan untuk dibenarkan (diselamatkan).

7.  CONTOH PEMBENARAN OLEH IMAN DAN BUKAN OLEH PERBUATAN

Setelah Rasul Paulus memberitahukan solusi yang harusnya dianut oleh bangsa Yahudi untuk mencapai pembenaran tersebut, dia akhirnya memberikan contoh pembenaran oleh iman untuk meneguhkannya. Rasul Paulus memberikan contoh kepada bangsa Yahudi tentang seorang tokoh yang dibenarkan oleh Allah bukan karena melakukan hukum taurat, yaitu tokoh yang sangat dibanggakan mereka dan semua orang Kristen tentunya, yaitu Abraham.

Abraham yang sangat terkenal karena imannya kepada TUHAN (Yehovah) menjadikannya disebut sebagai bapa bagi setiap orang yang percaya. Tetapi, ternyata Abrahampun tidak dibenarkan oleh kerena melakukan Hukum Taurat melainkan oleh iman. Dengan contoh ini, Rasul Paulus sangat berharap bahwa bangsa Israel (Yahudi) akan menjadi sadar mengenai kekeliruan mereka yang telah mengharapkan pembenaran melalui Hukum Taurat. Abraham diselamatkan oleh iman, bukan melalui usahanya, sebab tidak ada satu manusiapun yang dapat dibenarkan oleh karena usahanya sendiri (Efesus 2:8-9).

Kemudian firman Tuhan berkata lagi, sebab apabila Abraham dibenarkan oleh karena perbuatannya maka ia beroleh dasar untuk bermegah, tetapi tidak di hadapan Allah. Namun, bangsa Yahudi selalu memandang bapa Abraham dari perspektif jasmaniah. Sehingga mereka berpikir bahwa setiap orang yang dilahir-kan dari keturuan Abraham akan dibenarkan (diselamatkan).

Rasul Paulus mengutip pernyataan Raja Daud yang mengatakan:

“Berbahagialah orang yang diampuni pelanggaran-pelanggarannya, dan yang ditutu-pi dosa-dosanya; berbahagialah manusia yang kesalahannya tidak diperhitungkan Tuhan kepadanya.” Roma 4:7-8.

Jadi, ucapan bahagia yang diucapkan oleh Raja Daud ini tidaklah mengacu hanya kepada orang yang bersunat. Ayat ini mengajarkan kepada setiap pembacanya bahwa ada suatu penyelesaian dosa yang tidak harus diselesaikan dengan Hukum Taurat. Sehingga pemahaman Yahudi yang mengatakan bahwa seseorang disela-matkan harus dari keturunan Abraham menjadi gugur. Ayat berikutnya berkata:

Dalam keadaan manakah hal itu diperhitungkan? Sebelum atau sesudah ia disunat? Bukan sesudah disunat, tetapi sebelumnya. Dan tanda sunat itu diterimanya sebagai meterai kebenaran berdasarkan iman yang ditunjukkannya, sebelum ia bersunat. Demikianlah ia dapat menjadi bapa semua orang percaya yang tak bersunat, supaya kebenaran diperhitungkan kepada mereka, dan juga menjadi bapa orang-orang bersunat, yaitu mereka yang bukan hanya bersunat, tetapi juga mengi-kuti jejak iman Abraham, bapa leluhur kita, pada masa ia belum disunat. Sebab bukan karena hukum Taurat telah diberikan janji kepada Abraham dan keturunan-nya, bahwa ia akan memiliki dunia, tetapi karena kebenaran, berdasarkan iman. Sebab jika mereka yang mengharapkannya dari hukum Taurat, menerima bagian yang dijanjikan Allah, maka sia-sialah iman dan batallah janji itu. Roma 4:10-14.

Roma 4:10 dengan jelas menyatakan bahwa Abraham dibenarkan oleh Allah bukan karena melakukan Hukum Taurat (sunat), melainkan oleh imannya kepada Yesus dan proses pembenarannya ini terjadi sebelum tanda sunat diberikan kepadanya. Dengan demikian Abraham akhirnya dapat menjadi bapa semua orang percaya, baik orang yang bersunat maupun yang tidak bersunat.

8. SUPERIORITAS YESUS KRISTUS DARI ADAM MEMUNGKIN-KAN MANUSIA DIBENARKAN KARENA IMAN

Dave Hagelberg menyimpulkan bahwa Roma 5:12-21 adalah “puncak surat Roma.” Dave berkata bahwa hal yang harus dimengerti adalah pertanyaan tentang: Mengapa Rasul Paulus mencatat pasal 5:12-21 ini? Dengan menjawab pertanyaan ini secara tuntas, barulah setiap pembacanya akan mengerti tentang pola berpikir Rasul Paulus

Sejak pasal satu, Paulus meguraikan keadaan manusia tanpa Kristus. Mulai pasal 3:21, ia menguraikan keadaan kita sebagai orang yang percaya kepada Kristus. Sepuluh ayat ini meluap dari hati Rasul Pulus sebagai ringkasan dari segala sesuatu yang harus dikatakannya dalam surat Roma. Ia akan menegaskan bahwa dosa dan kematian mencakup seluruh manusia karena dosa pemimpin manusia, yaitu Adam. Namun, ketika seluruh dunia berada dalam kegelapan dosa, kematian Kristus terjadi. Pemimpin manusia baru, yaitu Kristus, sangat berbeda dengan pemimpin manusia lama. Pemimpin aion baru, yaitu Kristus, sangat berbeda dengan pemimpin aion lama. Ada pembenaran seperti yang sudah diuraikan Rasul Paulus. Namun, lebih daripada itu, dengan Kristus sebagai pemimpin kita, kita dapat “berkuasa dalam hidup”, seperti yang mulai diuraikan dalam pasal 5.10

Rasul Paulus telah memberikan contoh kepada bangsa Israel, yaitu Abraham untuk meyakinkan mereka bahwa pembenaran itu terjadi hanya oleh karena beriman kepada Yesus Kristus. Kemudian, Rasul Paulus kembali memberikan fakta superioritas pemimpin manusia yang baru (yaitu Yesus Kristus) yang mengatasi pemimpin manusia yang lama (yaitu Adam) yang telah kalah terhadap kuasa dosa.

Jadi, dengan kematian Yesus di kayu salib dan bangkit menunjukkan bahwa Yesus adalah Anak Allah yang berkuasa, sehingga sangat tak terbandingkan karya penebusan-Nya dengan Adam yang hanyalah manusia biasa yang jatuh ke dalam dosa. Nygren menjelaskan bahwa walaupun Paulus ingin membentuk suatu perbandingan antara Adam dan Kristus, ia “gagal” dalam usaha itu, bukan karena perbandingan itu tidak tepat, melainkan karena di seluruh dunia tidak ada yang layak dibanding dengan Kristus. Hanya satu hal yang dapat dibanding dengan besarnya kasih karunia Kristus, yaitu besarnya dosa Adam. Namun perbandingan itupun gagal karena kasih karunia Kristus tidak terbatas, sedangkan dosa Adam hanya “menjalar kepada semua orang” di dunia ini.

Salah satu yang menggarisbawahi keterbatasannya dari kesejajaran antara Kristus dan Adam adalah tidak terbatasnya hasil ketaatan Kristus. Pemberian yang dimaksudkan adalah kebenaran bahwa Allah membenarkan orang durhaka. Pemberian itu dilimpahkan kepada manusia. Kasih karunia Allah begitu melebihi maut sehingga Paulus segan membandingkan Kristus dengan Adam.

9. HASIL PEMBENARAN

Orang-orang yang sudah dibenarkan oleh iman akan hidup dalam damai bersama Yesus Kristus. Roh Kudus dicurahkan kepada setiap orang percaya ketika dia percaya. Dengan demikian, Roh Kudus yang ada di dalam hati setiap orang percaya akan senantiasa mengingatkannya untuk melakukan perkara-perkara yang benar di mata Tuhan. Seseorang yang belum lahir baru (dibenarkan) sesungguhnya di dalam hatinya hanya ada rencana-rencana jahat, sebab Roh Kudus tidak tinggal di dalam hatinya.

Hasil pembenaran orang yang berdosa adalah bahwa setiap orang mendapat-kan kepastian masuk Surga. Seperti yang dinyatakan dalam pasal 5:8-9: ”Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah. Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya.”

Hasil yang berikutnya adalah bahwa setiap orang yang dibenarkan akan hidup sesuai dengan kehendak Tuhan. Orang-orang yang telah percaya mendapat tantangan untuk mendedikasikan diri kepada Allah, melayani Allah sesuai dengan karunianya, bersikap benar terhadap sesamanya, taat kepada pemerintah, menga-sihi sesamanya seperti diri sendiri, menuju kemurnian moral, mengakomodasi satu sama lain dalam hal-hal yang tidak diatur dalam Firman Tuhan, menjadi pedoman bagi orang percaya dalam menyikapi hal-hal yang tidak diatur langsung dalam Firman Tuhan, untuk menanggung yang lemah, untuk saling menerima baik sebagai orang Yahudi maupun non-Yahudi.

Semua hal-hal di atas merupakan buah pembenaran yang diharapkan oleh Rasul Paulus dan juga Tuhan sehingga setiap orang yang telah dibenarkan memiliki ciri-ciri yang dimaksud. Orang benar tidak boleh menjadi serupa dengan dunia ini, sebab persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah.

10. KESIMPULAN

Setelah melakukan penyelidikan pada kitab Roma, penulis menyimpulkan tentang bagaimana “Penjelasan Paulus tentang Pembenaran dalam Surat Roma” adalah bahwa Rasul Paulus mendapatkan adanya kesalahan konsep pembenaran pada orang-orang Yahudi. Orang Yahudi mengejar kebenaran melalui Hukum Taurat (perbuatan), sehingga mereka tidak sampai kepada kebenaran yang sejati. Dengan demikian Rasul Paulus mengirimkan suratnya kepada mereka untuk mencela kesalahan konsep mereka tentang pembenaran.

Rasul Paulus mengajarkan bahwa “pembenaran” hanya terjadi oleh karena iman. Hukum Taurat tidak dapat membenarkan siapapun. Memang Hukum Taurat adalah perintah yang diberikan oleh Allah kepada bangsa Israel, namun perintah tersebut juga bukan suatu perintah yang kekal, tetapi hanya berlaku sampai kepada zaman Yohanes (Luk.16:16). Jadi, Paulus dengan sangat sistematis memberikan penjelasan kepada jemaat di Roma bahwa mereka harus mengerti dengan sungguh-sungguh tentang: posisinya yang berdosa, dispensasi zaman (peralihan TPDK dari bangsa Israel kepada masa Jemaat), Hukum Taurat tidak dapat membenarkan dan hanya imanlah yang bisa membenarkan manusia yang berdosa.

Inti dari penjelasan Rasul Paulus tentang Pembenaran dalam Surat Roma adalah bahwa manusia memperoleh pembenaran hanya melalui iman. Oleh karena imanlah baik manusia pertama, zaman sekarang dan manusia yang akan lahir kemudian dapat dibenarkan!

<jika ingin mendapatkan versi pdfnya, klik di sini>

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s