Shalom atau Maranatha?

Dua puluhan tahun lalu kita hampir tidak mendengar orang Kristen atau pengkhotbah berseru Shalom dari mimbar.  Mengapa?  Karena itu bukan seruan kekristenan melainkan Yahudi, sekalipun artinya sangat bagus. Seruan kekristenan ialah maranatha, karena orang Kristen sangat merindukan kedatangan Tuhan, bukan hidup damai di bumi selamanya. Hal ini juga karena orang Kristen tahu, bahwa tanpa kedatangan Tuhan tidak mungkin ada Shalom.  Dan maranatha pun bukan bahasa Yunani, melainkan bahasa Aramik yang Paulus transliterasikan (alih bahasakan) ke bahasa Yunani,  yang artinya Tuhan kami, datanglah.

MENURUT PENGAMATAN SAYA – orang lain boleh tidak setuju-, sejak banyak Muslim jadi Kristen mulailah seruan Shalom terdengar dari mimbar. Mengapa?  Jawabannya,  karena konsep Islam ialah semakin Arab orang dianggap semakin rohani, dan konsep ini melekat sampai saat mereka menjadi Kristen.   (Orang Islam) Pada berbagai kesempatan,  mereka baca Alquran bahasa Arab dan berkata-kata dalam bahasa Arab beberapa kalimat sebelum melanjutkan khotbah mereka dengan bahasa Indonesia. Dan mereka ngotot mengatakan Alquran tidak boleh diterjemahkan,  melainkan tafsir padahal itu diterjemahkan juga. 

Ketika sejumlah Muslim menjadi Kristen, biasanya mereka tidak diajar melainkan dimanfaatkan untuk bersaksi,  karena kebanyakan mereka “ditangkap”  oleh denominasi yang tidak menekankan pengajaran melainkan kesaksian, yang tentu tidak ada orang yang qualify mengajar mereka. Oleh sebab itu mereka tidak mengerti kebenaran dan tetap pada konsep Islam bahwa semakin Arab semakin terkesan rohani, dan bahasa Arab adalah bahasa Islam. Tetapi untuk diterapkan di dalam kekristenan,  mereka bingung karena PL bahasa Ibrani, PB bahasa Yunani.  Namun bagaimanapun,  karena Islam lebih dekat dengan PL dan Yerusalem ada di Israel yang bisa dikonsepkan sebagai tanah Suci pengganti Mekkah, dan sistem ibadah PL lebih cocok degan Islam, maka terjadilah pengkonsepan Islam ke Kristen, degan bahasa Ibrani sebagai pengganti bahasa Arab dan Yerusalem sebagai pengganti Mekkah.  Terjadilah seruan dari mimbar shalom dan makin hari makin menyebar, bersamaan dengan konsep Yerusalem sebagai tanah suci,  sehingga di China dan Korea dan dimana-mana orang Kristen berseru Shalom. 

Tentu perusahaan Tour & Travel sangat senang dan turut memacu konsep ini,  terlebih konsep tanah suci dan mendorong orang berbondong-bondong ke tanah suci. Shalom adalah bahasa Ibrani dan salam adalah bahasa Arab, yang artinya persis sama. Bahasa Indonesia memungut salam yang adalah bahasa Arab menjadi bahasa Indonesia. Jadi SALAM sudah menjadi bahasa indonesia. 

Ada orang salah menanggapi saya, mereka berkata mengapa urusan kecil begini diurus?  Tentu kecil besarnya urusan sangat tergantung yang memandang dan dampaknya terhadap kekristenan. Kekristenan tidak seperti agama lain yang memiliki tempat suci dan bahasa tertentu sebagai ciri agama Kristen atau yang akan menunjukkan pemakainya lebih rohani. Agama Islam degan bahasa Arab, Yudaisme dengan bahasa Ibrani dan Hindu Budha dengan bahas Sanskerta, tetapi kekristenan tidak ada karena kekristenan adalah kumpulan kelompok orang yang beribadah dalam roh dan kebenaran.
Saya sama sekali tidak memusuhi bahasa Ibrani, saat di Israel saya menyalami orang-orang Israel dengan kata Shalom,  bukan selamat pagi. Tetapi jika di Indonesia dan kepada orang Indonesia saya tentu menyalami mereka dengan selamat malam,  bukan Shalom. 
Kalau saya menyalami orang Indonesia dengan kata Shalom, bukan dengan selamat malam, maka saya telah memperlakukan kata Shalom (bahasa Ibrani):

1. Sebagai sebuah salam khusus kekristenan,  padahal itu bukan salam kekristenan melainkan salam Yudaisme. 

2. Atau terpengaruh konsep Islam untuk menggantikan bahasa Arab dengan bahasa Ibrani.  

3. Atau terpengaruh tahyul bahwa kata Shalom itu mengandung berkat dll.  

4. Atau ikut2an saja, karena tidak mengerti. 

5. Atau Karena grogi, ya teriak Shalom saja. 

6. Atau tidak jelas mau berkata apa ya Shalom saja. 
Kekristenan tidak memiliki tempat suci bahkan tidak ada pusat karena berpusat pada jemaat lokal.  Orang Kristen adalah manusia yang paling logis. Karena tidak ada bahasa khusus kekristenan maka salamilah orang Jawa dengan bahasa Jawa dan orang Tionghoa dengan bahasa Tionghoa, orang Batak dengan bahasa Batak, orang Nias dengan bahasa Nias, dan orang Yahudi dengan Bahasa Ibrani,  yaitu  SHALOM.
Jika Anda teriak Shalom yang adalah bahasa Ibrani pada orang Jawa, orang Batak, orang Tionghoa, Anda telah bersikap bahwa kata Shalom memiliki keistimewaannya sendiri. Kekristenan akan SEPERTI Islam yang mengagungkan bahasa Arab, lebih buruk lagi jika terpengaruh tahyul bahwa kata Shalom itu istimewa,  maka kekristenan seperti perdukunan. Banyak teman memberitahukan saya bahwa banyak kelompok Kristen sudah lebih dari meneriakan Shalom, mereka sudah menekankan bahasa IBRANI bahkan telah menyeret kekristenan ke arah Ebionit.  Apakah ini perkara sepele?  Semua kerusakan besar dimulai dari kerusakan kecil. Semua penyimpangan besar dimulai dari penyimpangan kecil. 
Efek yang semakin besar terlihat dari usaha menggeser kata ALLAH menjadi Elohim. Padahal hampir di semua Encyclopedia dan Kamus  yang reliable berkata bahwa ALLAH adalah kata yg dikontraksikan dari AL dan ILAH yg artinya The God atau yg disembah itu. Dan sudah resmi jadi bahasa Indonesia yang artinya God. 
Belakangan terlihat sangat jelas kebangkitan EBIONIT di kalangan Kristen tertentu. Dan kelihatannya akan semakin marak karena kurangnya pengertian. Salam khas kekristenan ialah MARANATHA. 
Penulis: Dr. Suhento Liauw
————

Jika Anda ingin tahu lebih banyak kebenaran alkitabiah, silakan berkunjung ke <www.graphe-ministry.org> atau dengarkan Radio Berita Klasik AM 828 atau dengar lewat HP INSTALL   RADIOAMGEO melalui Play Store. Ada pembahasan Alkitab dari Kejadian smp Wahyu. 

Tuhan meninggalkan Tuhan? 

Matius 27:46 (TB) Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eli, Eli, lama sabakhtani?” Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? 

Orang-orang Kristen sering sekali diejek perihal doktrin tritunggal. Salah satu nas yang sering dipakai ialah Matius 27:46 ini. Kemudian mereka berkata, “kok, Tuhan meninggalkan Tuhan?” 

Ya, memang nas itu sepertinya telah memutarbalikkan logika kita, sebab Allah tritunggal, yang setara, mahakasih dan maha segalanya, kok bisa seperti sedang bermusuhan? 

Memang jika tidak ditelusuri dan dipelajari secara baik misteri dari pernyataan tersebut, semuanya jadi kacau. Dan sebenarnya bukan hanya orang non Kristen yang memandang aneh nas tersebut, orang Kristen pun, jika ditanyai secara detail, cukup banyak yang tidak bisa menjawab secara benar. Bahkan, saya menemukan bukan saja jemaat biasa yang bingung, para pendeta, mahasiswa teologi, dan pengajar di gereja/sekolah teologi banyak yang tidak faham makna pernyataan “eli, eli, lama sabakhtani.” 

Lalu, apa makna sebenarnya dari seruan Tuhan Yesus itu? 

Pertama, konsep teologi tritunggal yang benar adalah yang bersifat personal, bukan fungsional. Maksudnya, kekristenan yang Alkitabiah mempercayai tiga pribadi Allah yang setara, yaitu Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Bukan tritunggal fungsional yang mengatakan hanya ada satu pribadi Allah tapi tiga peran (fungsi), yaitu Allah Bapa sebagai pencipta, Allah Anak sebagai penyelamat dan Allah Roh Kudus sebagai pemelihara. Sesungguhnya konsep tritunggal fungsional itu menyesatkan akal pikir manusia.

Kedua, oleh karena kita sudah faham konsep tritunggal yang benar, yaitu yang bersifat personal, maka kita katakan bahwa Allah Bapa yang di Sorga memang meninggalkan Yesus Kristus ketika Yesus sedang disalib. Jadi, pada saat yang sama ada satu pribadi Allah di sorga dan satu pribadi lainnya di bumi. Di sorga ada Allah Bapa dan di bumi ada Allah Anak. Oleh karena itu, tidaklah benar cemoohan non-Kristen yang berkata sorga kosong saat Yesus disalib. 

Ketiga, untuk menjawab pertanyaan, “mengapa Allah meninggalkan Allah?” Yesus Kristus adalah pribadi yang tidak berdosa, bahkan ketika Dia sedang berinkarnasi menjadi manusia. Tetapi, ketika Yesus disalib, Ia sedang mengambil posisi keberdosaan manusia, sejak manusia diciptakan hingga manusia yang terakhir diciptakan. Di dalam nas Alkitab dikatakan: “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah” (2 Korintus 5:21). Berdasarkan nas tersebut, jelaslah bahwa Yesus disalib bukan karena dosanya, melainkan karena dosa kitalah. Orang yang menerima hukuman yang tidak sepantasnya ia terima disebut sebagai korban. Yesus Kristus adalah korban dari pelanggaran kita. Yesus Kristus bahkan disebut sebagai domba korban. Itulah fakta yang harus kita sadari dan renungkan, agar kita memandang diri kita sebagai orang yang berhutang nyawa kepada anak domba Allah. 

Anak domba Allah, yaitu Yesus (Yoh. 1:29) adalah hakekat dari penggenapan semua persembahan domba korban zaman PL, mulai dari zaman Adam, Kain dan Habel, Nuh, Abraham, Musa, dan semua korban dalam ibadah Yahudi. Orang-orang zaman PL akan selamat dan terhitung tertebus oleh darah Kristus apabila mereka percaya dalam hati bahwa setiap kali mereka mempersembahkan domba itu sama saja mempercayai Mesiaa yang akan datang. Iman mereka adalah hakekat dari domba yang disembelih. Darah domba tidak memiliki kuasa apa-apa untuk menghapus dosa manusia melainkan darah Yesuslah yang membasuhnya. Sebab tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba jantan menghapuskan dosa. (Ibrani 10:4).

Berbeda dengan orang-orang zaman PB dan sekarang. Orang-orang PB tidak ada lagi tuntutan untuk mempersembahkan domba, menguduskan hari sabat, dll., sebab ibadah orang-orang PB adalah ibadah di dalam roh dan kebenaran (Yoh. 4:23-24). Jadi, ketika seorang manusia sungguh-sungguh percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya, maka saat itu jugalah ia menerima anugerah keselamatan. Saat itu pula Roh Kudus dari Allah dikaruniakan baginya dan diam di dalam hatinya. Roh Kudus yang ada di dalam hati orang percaya itulah yang menjadi jaminan baginya untuk memperoleh hidup yang kekal (Ef. 1:13).

Jadi, orang-orang PB tidak perlu lagi menyibukkan diri dengan menghindari makanan-makanan tertentu, menguduskan hari tertentu, mempersembahkan korban untuk tujuan pengudusan, melainkan cukup hanya dengan tindakan yang benar yang disertai iman. Tata ibadah orang-orang zaman PL berbeda dengan orang-orang zaman PB. Orang-orang zaman PL beribadah secara simbolik, jasmaniah; sedangkan orang-orang PB beribadah secara hakekat dan rohaniah. Ibadah hakekat dan rohaniah itu adalah ibadah yang tidak terikat dengan waktu dan tempat seperti zaman orang PL. Itulah praktek ibadah zaman PB. 

Jadi, alasan Allah Bapa meninggalkan Yesus Kristus saat tersalib adalah karena Yesus sedang mengambil posisi keberdosaan kita. Saat tersalib, posisi kekudusan Yesus diberikan kepada semua orang yang telah percaya kepada-Nya. Karena posisi Yesus yang menjadi berdosa itu karena kita, maka Yesus tidak boleh bertemu dengan Allah. Sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun dapat melihat Allah. (Ibr. 12:14)

Jadi, sudahkah Anda menukarkan posisi keberdosaan Anda dengan posisi kudus Yesus? Jika belum, percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatmu, agar Anda ikut menjadi ahli waris sorgawi. Tuhan memberkati, maranatha! 

Ev. Marudut Sianturi, M. Div

Ibadah Simbolik vs Ibadah Hakekat


Ibadah diperlukan sejak manusia jatuh ke dalam dosa. Allah sendiri yang mendirikan ibadah, yaitu orang berdosa mempersembahkan domba di atas mezbah, sebuah ibadah simbolistik sederhana. Tentu domba adalah simbol Sang Juruselamat yang akan dihukumkan menanggung hukuman dosa manusia. Seterusnya dalam seluruh kitab PL mengajarkan sistem ibadah simbolistik, ritualistik, jasmaniah (SRJ). Penyembahan dalam bentuk simbol, dengan berbagai ritual, dan secara jasmaniah. 

Ketika Tuhan Yesus datang dan diperkenalkan oleh Yohanes, maka Dialah Sang Hakekat dari semua ibadah simbolistik, ritualistik, jasmaniah (SRJ) Perjanjian Lama (Ibr.10:1). Dan Tuhan mengajarkan ibadah yang Hakekat, Rohaniah, dalam Kebenaran (HRK) (Yoh 4:23). Ibadah HRK tidak dibatasi waktu, tempat dan sikap postur tubuh, karena ibadah HRK dilakukan dengan hati, bukan badan. Tuhan berkata kepada perempuan Samaria bahwa saatnya akan datang, dan TELAH tiba bahwa penyembah Allah yang benar menyembah dalam roh dan kebenaran, artinya tidak dilakukan di atas bukit Gerizim dan juga tidak di Bait Allah Yerusalem.  Itulah sebabnya tidak diperlukan tempat khusus beribadah dan kekristenan tidak ada tempat suci atau holyland, dan harus ibadah satu hari sekian kali, serta sikap postur tubuh yang membungkuk, karena ibadah HRK dilakukan dengan hati bukan dengan badan. Sejak dihentikannya ibadah SRJ  Perjanjian Lama (Luk. 16:16), maka Tuhan mau manusia masuk ke dalam sistem ibadah HRK.  

Penekanan selanjutnya adalah pada kesucian hati, bukan badan, oleh sebab itu tidak ada lagi sesuatu yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan. Aturan hari Sabat dihapuskanNya karena ibadah HRK yang dilakukan dengan hati tidak lagi terikat waktu. 

Implikasi lain dari perubahan ibadah simbolistik ritualistik jasmaniah (SRJ)  menjadi hakekat rohaniah kebenaran (HRK), ialah bahwa tidak ada lagi tempat khusus ibadah, waktu khusus ibadah, dan sikap postur tubuh khusus ibadah. Hari Minggu orang Kristen berkumpul itu bukan untuk beribadah, melainkan berjemaat.  Seharusnya tidak ada istilah masuk ke dalam penyembahan, dan tidak ada perintah angkat tangan untuk menyembah, karena kita menyembah dengan hati, bukan dengan tangan atau tubuh.

Aneh sekali kalau ada istilah lagu penyembahan, apa maksudnya?  Kekristenan alkitabiah berbeda sekali dari perdukunan, kekristenan menekankan KEBENARAN, yaitu sesuatu yang dicapai melalui akal budi.  Mengasihi Tuhan dengan segenap akal budi. 

Terlihat jelas bahwa sebagian orang Kristen terpengaruh konsep Yudaisme dan Islam yang masih dalam sistem ibadah SRJ sehingga menyebut acara berjemaat sebagai ibadah.  Bahkan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) menterjemahkan Alkitab atas pengaruh tersebut. Contoh, Ibr. 10:25, tanpa ada dasar dalam teks bahasa Yunaninya, ditambahkan kata ibadah. Kata “eusebius” yang dalam KJV diterjemahkan dengan kata “godliness,”  oleh  LAI diterjemahkan dengan kata ibadah yang seharusnya diterjemahkan dengan kata KESALEHAN. 

Mungkin ada yang berkata, “… ah itu tidak apa-apa, itu urusan kecil.”   Namun jika orang Kristen memahami kebenaran dan menerapkan kebenaran maka efeknya akan sangat positif. Sebagai contoh, seharusnya org Kristen membangun gedung untuk pertemuan jemaat, bukan gedung untuk ibadah, maka seharusnya tidak membutuhkan ijin membangun rumah ibadah melainkan gedung pertemuan. Pernah ada polisi datang pada saya bertanya, apakah di rumah ini ada acara ibadah, ya saya jawab tidak ada. Kemudian dia berkata, saya dengar ada nyanyi-nyanyi.  Saya jawab memang ada nyanyi-nyanyi, tetapi bukan ibadah. Singkat cerita, saya menjelaskan kepadanya bahwa orang Kristen itu beribadah dengan hati, dan itu terjadi setiap saat, di setiap tempat. Ibadah kami sifatnya rohaniah, bukan jasmaniah, sangat berbeda dengan ibadah orang Islam yang jasmaniah.  Di negara demokratis logis tidak ada hukum yang melarang rakyatnya berkumpul dalam damai. Berkumpul, bernyanyi, mempelajari Alkitab bukanlah aktivitas yang memerlukan ijin. 

Tuhan berkata bahwa anggur baru jangan ditaruh ke dalam kirbat yang lama, dan kain baru jangan ditambalkan pada baju yang usang. Islam, Yudaisme, dan berbagai agama pada umumnya beribadah secara simbolistik, ritualistik, jasmaniah. Tidak ada agama yang seperti kekristenan.  Tuhan berkata,  “Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.”(Mat. 5:20). 

Selanjutnya Tuhan dalam khotbah di bukit merubah penekanan jasmaniah (PL) ke HATI (PB), contoh berzinah secara jasmaniah ke berzinah secara hati. 

Perlu tempat kumpul, bukan tempat ibadah

(1) . Tempat Kudus, tanah suci/Kudus (holyland), semua istilah itu di PL, zaman ibadah lahiriah. 

Kata Yesus kepadanya: “Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem.

Ibadah PB ialah ibadah yang tidak dibatasi lokasi. Dan tentu tidak juga dibatasi waktu, oleh sebab itu peraturan hari Sabat ditiadakan. Dan juga tidak perlu ada aturan postur tubuh oleh sebab itu tidak perlu sujud badan melainkan sujud hati. Ibadah  zaman PB adalah dengan hati. Istilah holyland hanya kebutuhan perusahaan travel-tour. 

(2) . Kita perlu tempat bukan untuk ibadah tetapi untuk pertemuan jemaat. Tempat untuk belajar dll, bukan untuk ibadah, karena ibadah zaman PB terjadi setiap saat, tidak di satu tempat. Istilah ibadah adalah istilah dari agama yang bersifat lahiriah. Di kitab PB pakai istilah berjemaat, kumpul berjemaat atau pertemuan jemaat. 

Ayat2 Alkitab memakai istilah Pertemuan jemaat. Bukan ibadah. Sekali lagi istilah ibadah itu pengaruh Muslim, karena istilah ini yang dipakai oleh pejabat ketika menyinggung tempat “ibadah” semua agama, dipukul rata. Tetapi apa kata Alkitab? LAI Memakai kata ibadah dlm Alkitab bahasa Indonesia karena terpengaruh. 

Kis 14:27 Setibanya di situ mereka memanggil jemaat berkumpul, lalu mereka menceriterakan segala sesuatu yang Allah lakukan dengan perantaraan mereka, dan bahwa Ia telah membuka pintu bagi bangsa-bangsa lain kepada iman. 

Kis 15:30 Setelah berpamitan, Yudas dan Silas berangkat ke Antiokhia. Di situ mereka memanggil seluruh jemaat berkumpul, lalu menyerahkan surat itu kepada mereka. 

1Kor. 11:18 Sebab pertama-tama aku mendengar, bahwa apabila kamu berkumpul sebagai Jemaat, ada perpecahan di antara kamu, dan hal itu sedikit banyak aku percaya. 

1Kor.  14:23 Jadi, kalau seluruh Jemaat berkumpul bersama-sama dan tiap-tiap orang berkata-kata dengan bahasa roh, lalu masuklah orang-orang luar atau orang-orang yang tidak beriman, tidakkah akan mereka katakan, bahwa kamu gila? 

Istilah yang benar ialah PERTEMUAN JEMAAT bukan ibadah. 

1Kor.  14:19 Tetapi dalam pertemuan Jemaat aku lebih suka mengucapkan lima kata yang dapat dimengerti untuk mengajar orang lain juga, dari pada beribu-ribu kata dengan bahasa roh. 

1Kor.  14:28 Jika tidak ada orang yang dapat menafsirkannya, hendaklah mereka berdiam diri dalam pertemuan Jemaat dan hanya boleh berkata-kata kepada dirinya sendiri dan kepada Allah. 

1Kor.  14:34 Sama seperti dalam semua Jemaat orang-orang kudus, perempuan-perempuan harus berdiam diri dalam pertemuan-pertemuan Jemaat. Sebab mereka tidak diperbolehkan untuk berbicara. Mereka harus menundukkan diri, seperti yang dikatakan juga oleh hukum Taurat. 

1Kor.  14:35 Jika mereka ingin mengetahui sesuatu, baiklah mereka menanyakannya kepada suaminya di rumah. Sebab tidak sopan bagi perempuan untuk berbicara dalam pertemuan Jemaat.


Oleh: Dr. Suhento Liauw.

Rektor dan Pendiri Graphe International Theological Seminary (GITS), Gembala GBIA Graphe Jakarta, Editor buletin Pedang Roh, dan Penulis 40an buku teologi dan rohani Kristen. 

Jika Anda ingin tahu lebih banyak kebenaran alkitabiah, silakan berkunjung ke <www.graphe-ministry.org> atau drsuhentoliauw.graphe-minisyry.org. atau marudutsianturi.wordpress.com 

​COWBOY2AN YANG TEMBAK KAKI SENDIRI


Dengan apakah sesungguhnya paling tepat saya harus menggambarkan mereka yang ngotot mempromosikan Elohim dan Yashua Ha Masiah? 

Sudah jelas bahwa seluruh kitab PB ditulis dalam bahasa Yunani, dan kata yang dipakai ialah Theos. Theos artinya YANG DISEMBAH, seperti kata Elohim dan Allah. Langsung ada yg berteriak, Allah itu dewa bulan! Orang yang berteriak ini terlalu tergesa-gesa. Karena kata ALLAH, berasal dari Al-Ilah, yg artinya ilah itu, maka semua yang disembah dipanggil Allah termasuk ketika mereka menyembah bulan yang mereka panggil bulan itu ALLAH. Demikian juga dengan kata Theos dipakai orang Yunani untuk dewa mereka. 

Hal yang lebih fatal ialah bahwa mereka tidak mau pakai kata Yesus melainkan Yashua Ha Masiah, padahal kitab PB melalui inspirasi Roh Kudus memakai bahasa Yunani menulis Ἰησοῦς (Iesous).  

Banyak tahun lalu,  ketika seorang yang berdebat dengan saya, ngotot berkata bahwa harus Yashua, bukan Yesus.  Saya katakan kepadanya bahwa kitab PB bahasa asli menulis dalam bahasa Yunani dan bunyinya Yesus. Dia menjawab saya dengan berkata bahwa kitab PB yang asli ditulis dalam bahasa Aramik. Saya tanya kepadanya, mengapakah tidak ada manuscript atau fragment yang ditemukan? Dan dia menjawab saya dengan enteng bahwa yang asli dalam bahasa Aramik sudah hilang, yang bahasa Yunani terjemahan yang tersimpan. Dan saya berkata bahwa Ahmed Deedat beserta tokoh-tokoh Muslim sangat bersukacita mendengar pernyataanmu bahwa Alkitab Bahasa  Asli sudah hilang. 

Saya melihat,  mereka adalah orang-orang yang bersemangat,  yang tidak berpikir panjang dan bertindak seperti anak kecil. Mereka seperti orang yang sedang main cowboy-cowboyan,  yang  mencoba memutar-mutar pistolnya,  tapi akhirnya menembak kakinya sendiri. 

Sebab, jika benar kitab PB ditulis dalam bahas Aramik,  dan naskah itu sudah hilang, sedangkan yang bahasa Yunani adalah terjemahan, maka itu sesungguhnya sebuah malapetaka dalam kekristenan. Dan sekaligus membuktikan Allah tidak sanggup memelihara FirmanNya. 

Jadi, jelaslah kelompok pengagung sebutan elohim, yahweh, yashua ha masiah, dan ruakh ha khodesh bukan menjadikan kekristenan semakin baik, melainkan justru mengacaukan kekristenan. Ingatlah, bahwa kita diperintahkan untuk mengasihi Tuhan Allah kita degan segenap AKAL BUDI KITA.

Ditulis oleh: Dr. Suhento Liauw

Apakah Baptisan Mempengaruhi Keselamatan? 

Baptisan adalah doktrin penting bagi kekristenan. Walaupun doktrin baptisan bukanlah ajaran pokok kekristenan, namun dalam prakteknya, kita tidak boleh memperlakukannya secara sembarangan.

Baptisan pada dasarnya tidaklah mempengaruhi keselamatan. Namun, beberapa denominasi Kristen memahami baptisan dapat mempengaruhi keselamatan. Beberapa denominasi itu adalah: Katolik, Protestan, Mormonisme. Selain kelompok yang bersifat denominasional itu, ada juga praktek baptisan yang dianggap mempengaruhi keselamatan, yaitu: baptisan darurat dan baptisan ulang. 

Denominasi-denominasi di atas tentu memiliki ayat mereka sendiri untuk membenarkan ajarannya. Namun pertanyaannya adalah, apakah cara mereka memakai ayat itu sudah tepat? Atau mungkinkah mereka telah salah memahami ayat-ayat tertentu? 

Memang, harus kita akui ada beberapa perikop Alkitab yang sepertinya mendukung konsep baptisan untuk keselamatan. Tetapi, penelitian yg cermat terhadap perikop-perikop sulit itu ternyata tidak terbukti mendukung baptisan perlu untuk keselamatan. 

Bagaimanakah pemaparan yang rinci tentang pro dan kontra topik “apakah baptisan mempengaruhi keselamatan,” ini? Anda bisa membacanya di dalam buku saya yang akan terbit minggu ketiga bulan April 2017 ini. 

Buku ini adalah buku perdana saya. Masa penulisannya sekitar satu tahun. Saya berharap pembaca sekalian bisa mendapat manfaat yang sangat berharga dari buku ini. 

Selamat membaca. 

​Konsep Keselamatan Yang Salah

Matius 19:16  Ada seorang datang kepada 


Yesus, dan berkata: “Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?”
Ada cukup banyak orang Kristen yang mengimani bahwa untuk masuk sorga itu cukuplah dengan melakukan kebaikan, rajin kebaktian, rajin ibadah, tidak menghakimi orang lain dan pengajarannya; kalau soal siapakah Tuhan yang disembah, itu tidak terlalu masalah, sebab Tuhan itu satu, baik orang Kristen, Islam, Budha, bahkan orang tak ber-Tuhan namun baik.

Fakta tersebut pastinya akan membuka hati dan pikiran kita dan melihat dengan jelas bahwa konsep tersebut bukan saja salah, melainkan menyesatkan! Mengapa? Sebab apabila seseorang telah keliru saat mencari jalan (dan juga jalan keselamatan), kemudian berjalan pula di atas jalan yang salah itu, maka akhirnya ia akan sampai di tempat yang salah. Inilah yang dinamakan tersesat!

Pemuda kaya yang datang kepada Yesus juga sama halnya. Ia bertanya kepada Yesus tentang perbuatan baik apa yang harus ia lakukan supaya masuk surga? Pertanyaan ini menyesatkan! Mengapa? Sebab tidak seorangpun akan masuk ke dalam surga dengan perbuatan baik. Firman Tuhan berkata: 

Titus 3:5  pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus, 

Efesus 2:8-9  Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. 

Untuk masuk surga, perbuatan baik tidak diperlukan! Ya, syarat ini sangat masuk akal, sebab apabila masuk sorga bisa dengan perbuatan baik, maka kelak akan ada orang yang menyombongkan diri oleh karena usaha kehebatannya. Perhatikanlah kata-kata yang diinspirasikan Roh Kudus ini melalui Rasul Paulus, Roma 4:2  Sebab jikalau Abraham dibenarkan karena perbuatannya, maka ia beroleh dasar untuk bermegah, tetapi tidak di hadapan Allah.

Jika Abraham dibenarkan karena perbuatannya, ini berarti Abraham dibenarkan bukan karena perbuatannya, melainkan imannya. Jadi, hal ini juga berlaku bagi semua umat manusia, tidak ada satu orangpun yang akan dibenarkan hanya karena ia berbuat baik, melainkan harus beriman. Roma 10:10  Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan. 

Jadi, jelaslah bahwa untuk masuk surga tidak memerlukan usaha manusia, apakah melalui berbuat baik, kerajinan ibadah, dibaptis supaya masuk surga, mengikuti perjamuan kudus untuk masuk surga, berdoa kepada Maria supaya masuk surga, atau pergi ke Yerusalem dalam bentuk tour dan berdoa di sana, semuanya itu adalah penyimpangan dan kesesatan.

Lalu, untuk apakah perbuatan baik itu?

Perbuatan baik adalah BUKTI bahwa seseorang sudah diselamatkan, bukan SYARAT.

Berapa kali kita mengampuni keaalahan? 


Matius 18:21-22  Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Yesus berkata kepadanya: “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.

Batasan maaf yg ditoleransi manusia biasanya hanya 2 kali saja, lebih dari itu biasanya bukan maaf lagi yg ia berikan, melainkan ancaman. Yah… begitulah adanya hingga lagu ini populer,

“…satu kali kau sakiti hati ini, masih kumaafkan,

Dua kali kau sakiti hati ini, juga kumaafkan,

Tapi jangan kau coba tiga kali, jangan oh… jangan, …dst.”

Namun, Alkitab, Firman Tuhan memberikan penegasan yg lebih dari cara pandang manusia. Kita disuruh untuk memaafkan sesama 70 x 7 = 490 kali!

Apa artinya perkataan nas itu?

Apakah kita harus memaafkan sesama kita dgn memberi toleransi hingga 490 kali?

Ya… seperti itulah yg Tuhan maksudkan. Tetapi, apakah makna utama dari nas itu?

Begini, Tuhan sudah mengampuni semua dosa-dosa kita, sehingga kita layak mendapatkan tempat di sorga. Dosa2 kita yg lampau tidak akan Dia ingat lagi, dan apabila kita masih jatuh ke dalam dosa hari ini, ia masih juga membukakan pintu maaf bagi kita. Tak terkira seberapa banyak pelanggaran Anda dan saya selama menjalani kehidupan yg Tuhan anugerahkan ini, tapi Tuhan masih memaafkan. 

Nah… dengan demikian, kitapun, org2 yg sudah mendapat ampunan dari Tuhan HARUSLAH mengampuni saudara2 kita jika mereka melakukan salah. Sebab pengampunan yg kita terima dari Tuhan JAUUUUH lebih besar daripada kesalahan sesama kepada kita. Oleh karena itu, ampunilah kesalahan sesamamu. Tuhan Yesus memberkati.